Aktual.co.id – Pada tahun 1968, seorang jurnalis Amerika bernama John P. Harris menulis editorial yang menyoroti ketidakseimbangan dalam sistem Soviet, yang mempromosikan Hari Perempuan Internasional untuk pekerja perempuan tetapi gagal mewujudkannya bagi pekerja laki-laki.
Harris menyatakan, meskipun ia setuju harus ada hari untuk merayakan perempuan, namun hari tersebut dianggap sebagai kelemahan dalam sistem komunis.
Pada awal 1990-an, Thomas Oaster, direktur Missouri Center for Men’s Studies, mengundang berbagai organisasi di AS, Australia, dan Malta untuk menyelenggarakan acara-acara kecil yang disebut Hari Pria Internasional selama bulan Februari.
Oaster berhasil menyelenggarakan acara ini selama dua tahun, tetapi upayanya pada tahun 1995 kurang mendapat perhatian. Karena patah hati, ia membatalkan rencana melanjutkan acara tersebut. Australia mengikuti jejaknya, menjadikan Malta satu-satunya negara yang tetap merayakannya.
Di Trinidad dan Tobago tahun 1999, hari itu dihidupkan kembali oleh Jerome Teelucksingh dari Universitas Hindia Barat. Ia menyadari adanya hari ayah, namun tidak ada hari untuk pria yang tidak memiliki anak, atau yang masih remaja.
Teelucksingh memahami pentingnya panutan pria yang positif, karena ayahnya telah menjadi teladan yang sangat baik baginya, dan memilih merayakan Hari Pria Internasional pada tanggal 19 November yang tepat pada hari ulang tahun ayahnya, sekaligus hari tim sepak bola lokal menyatukan negaranya dengan upaya mereka untuk lolos ke Piala Dunia.
Sejak kebangkitan Teelucksingh, Hari Pria Internasional berfungsi mempromosikan aspek-aspek positif identitas pria berdasarkan premis pria merespons panutan yang positif secara lebih konstruktif daripada stereotip gender yang negatif.
Hari ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi Hari Perempuan Internasional, melainkan untuk menyoroti pentingnya kesehatan fisik dan mental pria serta maskulinitas positif. (ndi/national today)
