Aktual.co.id – Badai matahari borealis yang terjadi pada 19 Januari 2026 dinilai oleh peneliti antariksa bahwa badai di tanggal tersebut terbesar sepanjang Sejarah.
Demikian yang dikutip oleh laman space saat menggambarkan badai matahari yang menciptakan aurora sepanjang hari di beberapa negara belahan kutub bumi.

Menurut Prof Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika di Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional, badai matahari menyebabkan semburan partikel energetik dari matahari.
“Masuknya ke wilayah kutub melalui medan magnet bumi. Jadi, medan magnet bumi tidak mengalami dampak permanen akibat badai matahari, kecuali variasi saat badai saja,” ungkapnya.
Disampaikan jika badai matahari tidak akan mengubah arah utara-selatan magnetic di bumi. Arah utara – selatan magnetik dipengaruhi oleh dinamika interior bumi, bukan dari antariksa.
“Bumi punya perisai berupa medan magnet bumi yang bisa mengatasi bahaya badai matahari. Bahaya yang pernah terdeteksi hanya pada gangguan jaringan listrik di wilayah dekat kutub karena efek induksi Listrik,” kata Prof Thomas.
Aurora sesungguhnya adalah interaksi partikel energetik dari badai matahari dengan atmosfer atas yang menyebabkan warna yg beraneka.
“Semakin kuat badai matahari, jangkauan partikel tersebut menembus atmosfer wilayah yang semakin jauh dari kutub. Tetapi tidak pernah mencapai wilayah ekuator. Badai matahari tidak akan membakar bumi,” pungkasnya. (ndi)
