Aktual.co.id – Asma adalah masalah umum yang menurut WHO sebanyak 262 juta orang menderita asma pada tahun 2019 dan menyebabkan lebih dari 460.000 kematian.
Tingkat kematian akibat asma hampir berlipat ganda sejak tahun 1980-an, tetapi kondisi ini bukanlah hal baru. Ada penyebutan asma dalam kitab suci dari Tiongkok pada tahun 2600 SM, dan Mesir Kuno juga menyebutkan gejala sesak napas dan masalah pernapasan.
Hippokrates (460 hingga 370 SM) adalah orang pertama yang mendeskripsikan kondisi yang ditemukan di Yunani Kuno. Hippokrates adalah orang pertama yang menghubungkan gejala asma dengan pemicu lingkungan dan pekerjaan serta profesi tertentu.
Sekitar tahun 100 SM, Aretaeus dari Kapadokia menyusun definisi rinci tentang asma. Definisi ini mirip dengan pemahaman saat ini tentang perkembangan penyakit tersebut.
Bangsa Romawi kuno juga meneliti kondisi ini. Pada tahun 50 M, Plinius Tua menemukan hubungan antara serbuk sari dan kesulitan bernapas.
Ia adalah salah satu orang pertama yang merekomendasikan pendahulu epinefrin, suatu bentuk pengobatan asma yang memberikan bantuan cepat.
Pada abad ke-19, dokter Henry H. Salter membuat deskripsi dan gambar medis yang akurat tentang apa yang terjadi di paru-paru selama serangan asma.
Pada tahun 1892, salah satu pendiri Sekolah Kedokteran Johns Hopkins, William Osler, mencatat kesamaan antara asma dan kondisi alergi.
Ini termasuk demam serbuk sari, serta sifat genetik penyakit tersebut. Ia juga mencatat pemicu spesifik asma seperti iklim, emosi ekstrem, dan diet.
Tahun 1980-an menyaksikan pemahaman yang lebih baik tentang asma sebagai kondisi peradangan. Hal ini berfokus pada pentingnya sistem kekebalan tubuh. Para dokter menyadari perlunya mengelola asma bahkan jika gejalanya tidak muncul. (ndi/national today)
