• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Lewat Seminar SIAP, UPN Veteran Jatim Dorong Tata Kelola Kolaboratif untuk Capai SDGs 2030
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pemerintahan

Lewat Seminar SIAP, UPN Veteran Jatim Dorong Tata Kelola Kolaboratif untuk Capai SDGs 2030

redaksi Selasa, 5 Mei 2026
Share
5 Min Read
Seminar SIAP yang digelar oleh prodi administrasi publik/dok.aktual.co.id
Seminar SIAP yang digelar oleh prodi administrasi publik/dok.aktual.co.id

Aktual.co.id – Program Studi Administrasi Publik UPN Veteran Jawa Timur menggelar Seminar Isu Administrasi Publik (SIAP) pada Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Kolaborasi Multi-aktor dalam Tata Kelola Pembangunan Nasional: Strategi Co-Governance untuk Pencapaian SDGs.”

Seminar itu menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Moch. Ali Mashuri, M.Si., Analisis Kebijakan BAPPERINDA Kota Mojokerto, dan Mohammad Ali, S.E., MPA, Dosen Administrasi Publik UPN Veteran Jawa Timur. Keduanya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab kompleksitas pembangunan nasional.

Dalam pemaparannya, Ali Mashuri menegaskan bahwa pembangunan nasional modern tidak lagi efektif jika hanya bertumpu pada pemerintah. Menurutnya, berbagai persoalan publik seperti kemiskinan, pengangguran, daya saing daerah, pelestarian budaya, hingga pengembangan pariwisata membutuhkan pendekatan tata kelola yang lebih terbuka dan kolaboratif.

Ia menjelaskan, konsep collaborative governance menempatkan pemerintah bukan sebagai aktor tunggal, melainkan sebagai fasilitator yang membangun jejaring kerja sama dengan aktor non-pemerintah. Kerja sama tersebut, kata dia, harus berbasis dialog, kepercayaan, komitmen bersama, dan tujuan kolektif.

“Pemerintah berperan sebagai fasilitator, bukan aktor tunggal,” kata Ali Mashuri dalam paparannya.

Baca Juga:  Data BPBD Sebanyak 3 Ribu Jiwa Terdampak Banjir di Aceh Barat

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan multi-helix dalam pembangunan. Pendekatan ini melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media. Masing-masing aktor memiliki peran strategis, mulai dari penyusunan regulasi, investasi, riset, pendampingan masyarakat, hingga promosi dan diseminasi informasi.

Menurutnya, model kolaborasi tersebut relevan diterapkan dalam pengelolaan wisata daerah. Ia mencontohkan pengembangan wisata di Kota Mojokerto yang tidak hanya membutuhkan peran dinas pariwisata, tetapi juga dukungan lintas sektor, seperti infrastruktur, transportasi, promosi, sumber daya manusia, ekonomi kreatif, budaya, lingkungan, dan investasi.

Melalui studi analisis multi-helix pada Museum Gubug Wayang, Ali Mashuri menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, komunitas budaya, media, dan pengelola museum mampu memperkuat pengelolaan wisata berbasis budaya.

“Kolaborasi tersebut dinilai dapat memberikan sejumlah manfaat, antara lain meningkatkan kunjungan wisata, menggerakkan ekonomi lokal, melestarikan budaya, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat identitas daerah,” kata dia.

Meski demikian, ia juga mengingatkan masih adanya sejumlah tantangan, seperti ego sektoral, lemahnya koordinasi, keterbatasan pendanaan, program yang belum berkelanjutan, serta kapasitas sumber daya manusia pariwisata yang belum optimal.

Baca Juga:  Kemendikdasmen Panggil 60.896 Guru Ikuti PPG Guru Tertentu Tahap 2

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia merekomendasikan pembentukan forum kolaborasi permanen, integrasi program lintas organisasi perangkat daerah, pelibatan kampus dan komunitas, penguatan digitalisasi promosi wisata, serta penyusunan roadmap wisata budaya yang berkelanjutan.

Sementara itu, Mohammad Ali, S.E., MPA menyoroti pentingnya strategi co-governance dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Ia menjelaskan bahwa SDGs tidak dapat dicapai hanya melalui kerja pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat.

Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting dalam menyusun rencana aksi, regulasi, serta mengintegrasikan SDGs ke dalam perencanaan pembangunan. Di sisi lain, swasta, akademisi, dan masyarakat berperan dalam pembiayaan, riset, edukasi, partisipasi, serta pengawasan.

Ia menegaskan, strategi co-governance menjadi penting karena target SDGs mencakup berbagai dimensi pembangunan, mulai dari sosial, ekonomi, lingkungan, hingga hukum dan tata kelola. “Kompleksitas tersebut menuntut keterlibatan berbagai pihak agar kebijakan pembangunan tidak berjalan secara parsial,” tegasnya.

Mohammad Ali juga memaparkan bahwa hingga 2026, capaian SDGs Indonesia berada pada kisaran 62 persen dari total target. Kemajuan paling signifikan tercatat pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena sebagian indikator mengalami kemajuan terbatas, sementara sejumlah indikator lain masih stagnan atau memburuk, terutama terkait ketimpangan dan kualitas pelayanan publik.

Baca Juga:  Dari Hal Kecil Menuju Lompatan Besar: Gerakan 3K Digelorakan di Bojonegoro

Menurutnya, empat tahun menjelang target SDGs 2030, Indonesia perlu memperkuat integrasi kebijakan dan memperluas kolaborasi lintas sektor. Tantangan berupa kesenjangan pembiayaan dan belum optimalnya capaian sejumlah indikator pembangunan menjadi alasan pentingnya strategi yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Pembangunan ekonomi yang ideal untuk mencapai SDGs 2030 adalah pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkualitas,” demikian poin yang disampaikan dalam materi seminar tersebut.

Melalui Seminar SIAP, Program Studi Administrasi Publik UPN Veteran Jawa Timur mendorong lahirnya pemahaman baru bahwa pembangunan nasional membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, dan media perlu bergerak dalam satu ekosistem kolaboratif agar agenda pembangunan dapat berjalan lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. (RF)

SHARE
Ad imageAd image

Berita Aktual

Ilustrasi warga mengamat gerhana matahari/ Foto: vietnam
Eropa Sedang Mengalami Gerhana Matahari Total Pertama Abad Ini
Rabu, 12 Agustus 2026
Kantor Bank Indonesia / Foto : wikipedia
Ini Nama Calon Deputi Gubernur Senior BI dan Deputi Gubernur BI
Rabu, 12 Agustus 2026
Logo telegram/ Foto: anadolu
Telegram dan Google Didenda Karena Gagal Menghapus Konten Terlarang di Rusia
Rabu, 12 Agustus 2026
Air India/ Foto: Reuters
Kecelakaan Pesawat Airbus Milik Air India Akibat Pilot dalam Pengaruh Narkoba
Rabu, 12 Agustus 2026
USS Abraham Lincoln/ Foto: Mehr News
Tujuh Personel Angkatan Laut AS Tewas Akibat Bentrok di Kapal USS Abraham Lincoln
Rabu, 12 Agustus 2026

Mental Health

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Meditasi sarana menenangkan diri ala Stoikisme/ foto : istimewa

Lima Kecerdasan yang Bisa Dilatih untuk Kesehatan Mental

Ilustrasi manipulasi/ Foto: freepik

Berikut Cara Manipulator Mempengaruhi Orang Lain Agar Mengikuti Kehendaknya

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Ciptakan Inovasi Kelola Sampah, Mahasiswa UPNVJT Hadirkan Teknologi Bottle Press di Bali

Ini Alasan Sultan Brunai Hassanal Bolkiah Mencabut Gelar Kehormatan Menantu

MUI Kecam Aksi Tantangan Booth Minuman Keras Newport di Jakarta

Bangunan Tiga Lantai Runtuh Total Akibat Gempa Magnitudo 7,4 di Cali

Gempa Berkekuatan Magnitudo 7,4 Menyebabkan 111 Korban Meninggal di Kolombia

More News

Wamendagri Bima Arya/ Foto: Courtesy ANTARA

Wamendagri: WFH Bagian dari Efisiensi dan Tata Kelola Baru Bernegara

Sabtu, 11 April 2026
Para warga dan keluarga melakukan tabur bunga di lokasi kejadian kebakaran/ Foto: The Guardian

Swiss Menetapkan Masa Berkabung Usai Kebakaran Bar di Malam Tahun Baru

Jumat, 2 Januari 2026
Ilustrasi Hari Bela Negara RI/ Foto: gemini AI

Hari Bela Negara Mengenang Mempertahankan NKRI dari Agresi Belanda

Jumat, 19 Desember 2025
Sapi kurban milik Presiden Prabowo mendadak mati / Foto : Ist

Sapi Kurban Prabowo Mendadak Mati. Publik Memposting Tentang Keracunan MBG

Kamis, 15 Mei 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id