Aktual.co.id – Komando Pusat AS (Centcom) mengkonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan lebih lanjut terhadap beberapa target di Iran, sehari setelah menyerang Iran sebagai balasan atas serangan pesawat tak berawak terhadap kapal kargo di Selat Hormuz.
Centcom mengatakan serangan udara tersebut merupakan tanggapan terhadap agresi Iran yang berkelanjutan terhadap pelayaran komersial.
“Serangan AS menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau,” kata Centcom dalam sebuah pernyataan dikutip The Guardian.
Ketegangan ini terjadi ketika Washington dan Teheran bernegosiasi mencapai nota kesepahaman (MOU) guna mengakhiri perang yang menyebabkan harga minyak global meroket dan mengakibatkan ribuan kematian warga sipil .
Setelah serangan balasan pada hari Jumat, militer AS mengatakan akan menegakkan gencatan senjata yang rapuh dengan Iran meskipun muncul perbedaan pendapat mengenai ketentuan program nuklir Iran, masalah korban jiwa di Selat Hormuz, dan pertanyaan pelik lainnya termasuk program rudal balistik Iran.
Trump mengunggah sesuatu di Truth Social setelah serangan hari Sabtu. “Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bersikap rasional, dan akan terpaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kita mulai dengan sangat sukses,” tulis Trump.
“Setelah serangan AS kemarin sebagai tanggapan atas serangan Iran terhadap M/V Ever Lovely, Iran diberi kesempatan menghormati perjanjian gencatan senjata tetapi memilih untuk tidak melakukannya ketika pasukannya meluncurkan serangan drone satu arah yang menghantam M/T Kiku pagi ini pukul 4:30 pagi ET. Kapal tanker berbendera Panama itu sedang melintas di dekat Selat Hormuz dengan membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah,” kata Centcom pada hari Sabtu.
Pelayaran kapal komersial melalui Selat Hormuz terus berlanjut. Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap siaga.
Nota Kesepahaman tersebut akan menghasilkan penghentian segera dan permanen terhadap semua operasi militer di AS, Iran, dan Lebanon, tempat kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran bermarkas. (ndi/the guardian)
