Aktual.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo terus memperluas skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mempercepat deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan penularan di wilayah setempat.
“Kami berharap ketika ada skrining, jumlah partikel atau viral load virus HIV semakin sedikit hingga tidak terdeteksi sehingga penderita tidak lagi berisiko menularkan kepada orang lain,” kata Kepala Dinkes Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina dalam keterangan diterima di Sidoarjo, Kamis.

Mengutip ANTARA, program tersebut menargetkan 60 kegiatan skrining sepanjang 2026, dengan 30 kegiatan telah dilaksanakan hingga pertengahan tahun, terutama di lokasi yang memiliki risiko tinggi terhadap penularan HIV.
Lakhsmie menyatakan, Dinkes Sidoarjo mencatat terdapat 7.230 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Sidoarjo sejak 2001 hingga pertengahan 2026, yang menurut dinas merupakan hasil perluasan skrining dan deteksi dini, bukan semata-mata peningkatan penularan.
Pada Juli ini, lanjutnya, pihaknya kembali menyasar 30 titik berisiko, termasuk lokasi hiburan malam dan lokalisasi terselubung, agar penderita dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) untuk menekan perkembangan virus.
Selain pengobatan, dirinya menyebut Dinkes Sidoarjo bersama Yayasan Delta Crisis Center memberikan pendampingan kepada ODHA guna memperkuat dukungan psikososial, meningkatkan kepatuhan mengonsumsi ARV, serta mengurangi stigma masyarakat terhadap penderita.
Pihaknya juga memperluas edukasi mengenai pencegahan HIV melalui seluruh puskesmas dan berencana menggandeng sekolah serta perusahaan untuk mendorong perubahan perilaku, khususnya pada remaja dan kelompok usia produktif.
Dikatakannya, dari data Dinkes menunjukkan terdapat 60 kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 11 hingga 17 tahun sejak 2001, dengan tujuh di antaranya meninggal dunia sehingga saat ini masih ada 53 remaja yang menjalani pengobatan dan pendampingan.
Lakhsmie mengatakan, penularan HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta penularan dari ibu kepada bayi, sedangkan sentuhan fisik biasa, keringat, air mata, maupun gigitan nyamuk tidak menularkan virus tersebut.
“Penderita tetap harus rutin berobat dan mengonsumsi ARV sesuai dosis maupun waktu yang ditentukan agar pertumbuhan virus tetap terkendali,” ujarnya. (ANTARA)
