Aktual.co.id – Pasukan Houthi di Yaman telah menguasai Pulau Mayyun dan kota pelabuhan Mocha di Laut Merah, membawa selangkah lebih dekat menguasai seluruh Selat Bab al-Mandab yang strategis.
Pemberontak Houthi di Yaman mengumumkan perebutan Pulau Mayyun juga dikenal sebagai Perim, yang terletak di Selat Bab al-Mandab, yang membelah jalur pelayaran.
Seorang pejabat pemerintah setempat dan saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa para pejuang Houthi mendarat di pulau itu setelah pasukan pemerintah mundur.
Menurut seorang saksi mata, para pejuang Houthi sedang mengambil posisi di sepanjang pantai di daerah Bab al-Mandab dan bergerak menggunakan kendaraan militer .
Sebelumnya, pada 10 September, setelah serangan besar-besaran terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi, pemberontak Houthi merebut kota pelabuhan Mocha di Laut Merah.
Diyakini Houthi juga menguasai Pulau Zuqar di Laut Merah bagian selatan setelah serangan rudal dan operasi pendaratan menggunakan perahu.
Perkembangan ini dipandang langkah signifikan oleh Houthi dalam memperluas kendali mereka atas wilayah yang penting bagi pelayaran internasional.
Dalam perkembangan terbaru, stasiun televisi Al-Masirah yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan bahwa Arab Saudi melakukan dua serangan udara di bandara Mocha, satu hari setelah pasukan Houthi merebut kendali atas kota pelabuhan yang strategis tersebut.
Hal ini menyusul tuduhan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, bahwa Arab Saudi melakukan 64 serangan udara di Yaman dalam kurun waktu 24 jam. Namun, Arab Saudi menyatakan bahwa Houthi telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke beberapa kota di selatan negara itu.
Pertempuran yang terjadi meningkatkan risiko eskalasi konflik Yaman dan membahayakan keamanan maritim di kawasan tersebut.
Selat Bab al-Mandab adalah jalur laut yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan memainkan peran penting dalam arus barang dan energi antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Sampai saat ini, Houthi menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara, termasuk ibu kota Sana’a dan kota pelabuhan Hodeida.
Namun, mereka tidak pernah secara langsung menguasai wilayah yang menghadap perlintasan Bab al-Mandab. Para ahli keamanan percaya merebut garis pantai dapat memberi Houthi pengaruh yang lebih besar atas lalu lintas maritim.
Konflik di Yaman kembali memanas pada bulan Juli setelah periode yang relatif tenang menyusul gencatan senjata yang dimediasi PBB pada tahun 2022.
Menurut kompilasi beberapa sumber oleh AFP, lebih dari 500 orang tewas dalam pertempuran pekan lalu. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan bahwa hampir 20.000 orang telah mengungsi akibat konflik tersebut.
Situasi ini menarik perhatian internasional, karena konflik di Timur Tengah berdampak parah pada jalur pelayaran dan pasar energi. Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat mengenai situasi di Yaman, dan Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. (vn/ndi)
