Aktual.co.id – Iran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata Amerika Serikat yang disampaikan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi karena tidak mengakomodasi persoalan penguasaan Selat Hormuz.
Penolakan itu terjadi ketika konflik antara Washington dan Teheran telah berlangsung hampir dua pekan.
Mengutip dari pejabat Iran dan Irak yang mengetahui pembahasan tersebut, harian The New York Times melaporkan Al-Zaidi membawa usulan itu saat berkunjung ke Teheran setelah sebelumnya bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Laporan itu menyebut rincian usulan tersebut belum diketahui secara jelas, namun pejabat Iran menggambarkannya sebagai satu-satunya proposal yang saat ini diajukan kepada Teheran.
Menurut laporan tersebut, Iran menolak usulan itu karena tidak menyelesaikan persoalan mengenai kendali atas Selat Hormuz. Hingga kini, laporan tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas Iran.
Kunjungan Al-Zaidi merupakan lawatan resmi pertamanya ke Iran sejak menjabat pada Mei. Ia didampingi delegasi tingkat menteri dan bertemu Presiden Masoud Pezeshkian untuk membahas hubungan bilateral, perkembangan kawasan, serta upaya memperkuat keamanan dan stabilitas.
Pejabat Iran mengatakan pembicaraan juga mencakup pelaksanaan berbagai kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya. Kedua pemerintah menyerukan peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, energi, transportasi, dan urusan kawasan.
Media Iran juga melaporkan Al-Zaidi bertemu Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga merupakan kepala negosiator Iran, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
The New York Times melaporkan para pejabat Iran tengah mempersiapkan kemungkinan konflik yang lebih luas apabila Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang Teheran dan infrastruktur penting lainnya.
Menurut surat kabar tersebut, dua pejabat Iran mengatakan serangan semacam itu akan mendorong Teheran memperluas perang ke tingkat regional, termasuk dengan menargetkan Tel Aviv dan meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pasukan AS melancarkan serangan terhadap sasaran di Iran untuk malam ke-13 berturut-turut pada Jumat dini hari.
Pada Rabu, otoritas Iran menyatakan sedikitnya 53 orang tewas dan 592 lainnya terluka akibat serangan AS yang sedang berlangsung.
Ketegangan meningkat dalam dua pekan terakhir setelah Trump pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata yang diatur dalam nota kesepahaman AS-Iran bulan sebelumnya tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan. Washington menargetkan sejumlah lokasi di Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara kawasan.
Konflik tersebut telah mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, mengancam pasokan energi global, serta memicu penutupan wilayah udara secara berkala dan meningkatnya peringatan terhadap kemungkinan serangan terhadap fasilitas maupun kepentingan AS di luar Timur Tengah. (ndi/Anadolu)
