Aktual.co.id – Menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama kepada anak-anak tidak harus dilakukan melalui ceramah yang bersifat satu arah. Pendekatan kreatif melalui permainan edukatif dan media visual justru dapat menjadi cara yang lebih menarik untuk mengenalkan pentingnya menghargai perbedaan sejak dini.
Pendekatan inilah yang diterapkan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Panti Asuhan Putra Iffatul Alijah, Surabaya. Melalui program bertajuk “Implementasi Media Visual Interaktif dalam Menanamkan Nilai Moderasi Beragama”, mahasiswa mengajak anak-anak memahami keberagaman melalui tayangan visual, diskusi, dan sejumlah permainan interaktif.
Kegiatan tersebut melibatkan Mochammad Rasya Farrelino, Brilian Septa Ramadhan, dan Annisa Zahra’ Mufida, dengan pendampingan dosen UPN “Veteran” Jawa Timur, Drs. Saifuddin Zuhri, M.Si. Program ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penguatan pendidikan karakter.
Ketua Kelompok Pengabdian Masyarakat, Mochammad Rasya Farrelino, menjelaskan bahwa penggunaan media visual dan permainan edukatif sengaja dipilih untuk menyesuaikan karakteristik anak-anak yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, penyampaian materi melalui ceramah panjang berpotensi membuat anak-anak kehilangan fokus. Karena itu, tim mahasiswa merancang kegiatan yang mendorong peserta terlibat secara aktif dalam setiap sesi pembelajaran.
“Kami ingin mengenalkan moderasi beragama dengan cara yang dekat dengan dunia anak-anak. Jadi, mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak bermain, berdiskusi, dan memahami bagaimana menghargai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rasya.
Ia mengatakan, nilai moderasi beragama yang disampaikan tidak terbatas pada persoalan perbedaan keyakinan, tetapi juga mencakup sikap saling menghormati, empati, tidak memaksakan kehendak, dan membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain.
Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, tim mahasiswa menyiapkan sejumlah permainan edukatif. Salah satunya Kardus Misteri Estetik yang digunakan pada awal kegiatan untuk membangun rasa ingin tahu sekaligus menarik perhatian peserta.
Permainan berikutnya adalah Detektif Emoji. Melalui simbol-simbol ekspresi yang akrab dengan kehidupan digital anak-anak, peserta diajak mengenali perasaan orang lain sekaligus memahami pentingnya empati ketika menghadapi perbedaan.
Sementara itu, permainan Benar atau Seru! menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Permainan ini merupakan modifikasi dari konsep true or false yang dikombinasikan dengan aktivitas fisik.
Dalam permainan tersebut, anak-anak diminta menentukan jawaban atas sejumlah pernyataan dengan bergerak menuju sisi ruangan yang telah ditentukan. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta perilaku yang mencerminkan kehidupan rukun.
“Melalui permainan, kami ingin anak-anak memahami bahwa toleransi bukan sekadar materi yang harus dihafalkan. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam pergaulan sehari-hari, seperti menghormati teman, tidak mengejek perbedaan, dan mau mendengarkan pendapat orang lain,” jelas Rasya.
Selain memberikan edukasi, tim mahasiswa juga melakukan evaluasi untuk melihat pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test tertulis sebelum kegiatan dan post-test yang diintegrasikan ke dalam permainan edukatif.
Untuk meningkatkan partisipasi, mahasiswa juga memberikan apresiasi sederhana berupa stiker karakter dan jajanan kepada peserta yang aktif serta mampu menjawab pertanyaan dengan benar.
Rasya menyebut respons anak-anak selama kegiatan cukup menggembirakan. Peserta terlihat antusias mengikuti tayangan visual, aktif menjawab pertanyaan, dan berani menyampaikan pendapat ketika diajak membahas contoh perbedaan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
“Respons anak-anak sangat positif. Mereka antusias mengikuti permainan dan mulai bisa menghubungkan materi yang kami sampaikan dengan situasi yang mungkin mereka temui sehari-hari. Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah,” ungkapnya.
Sementara itu, dosen pendamping kegiatan, Drs. Saifuddin Zuhri, M.Si., menilai pendekatan komunikasi yang digunakan mahasiswa memiliki relevansi dengan kebutuhan pendidikan karakter anak-anak di era digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat generasi muda semakin mudah berinteraksi dengan beragam pandangan, budaya, dan keyakinan. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan nilai toleransi, empati, dan kemampuan menghargai keberagaman.
“Moderasi beragama perlu ditanamkan sejak dini melalui pendekatan yang sesuai dengan usia dan karakter anak. Media visual dan permainan interaktif dapat menjadi sarana komunikasi edukatif agar pesan tentang toleransi lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Saifuddin.
Ia menegaskan bahwa moderasi beragama tidak dimaknai sebagai upaya mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya. Sebaliknya, konsep tersebut menekankan pentingnya menjalankan ajaran agama dengan tetap menghormati hak dan keyakinan orang lain.
Karena itu, pendidikan moderasi beragama tidak cukup hanya menekankan pemahaman konseptual, tetapi juga perlu membangun kesadaran anak mengenai pentingnya hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang beragam.
Saifuddin juga mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengemas materi pengabdian masyarakat menjadi kegiatan yang komunikatif dan partisipatif. Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan sosial masyarakat.
“Pengabdian masyarakat bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menghadirkan solusi edukatif yang memberikan manfaat nyata. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pemahaman sesaat, melainkan menjadi bekal bagi anak-anak untuk membangun sikap saling menghargai dan hidup rukun,” tambahnya.
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan pengurus Panti Asuhan Putra Iffatul Alijah yang membantu menyediakan fasilitas pembelajaran serta mendampingi anak-anak selama program berlangsung.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur berharap pendidikan moderasi beragama dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang kreatif, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Lebih dari sekadar memperkenalkan nilai toleransi, program ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kesadaran anak-anak bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk menjalin persahabatan, bekerja sama, dan hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
(Penulis: Drs. Saifuddin Zuhri, M.Si./ Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur)
