Aktual.co.id – Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington belum mengetahui apakah kelompok peretas Korea Utara berada di balik pelanggaran keamanan di Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.
“Kami tidak tahu. Kami sedang menyelidikinya. Kami sedang menyelidikinya,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval ketika ditanya tentang atribusi tersebut dikutip Anadolu.
Ketika ditanya apakah dana tersebut dapat ditarik kembali, Trump menjawab: “Yah, mereka bilang mereka akan mendapatkannya kembali, dan mereka bilang menjaminnya atau semacamnya.”
“Anda tahu cara lama, ketika Anda menandatangani cek lalu mengambilnya. Ini orang yang berbeda. Tidak pernah melihat uangnya lagi. Jadi saya selalu merasa itu agak berbahaya,” tambahnya.
“Tapi tidak, mereka bilang mereka sudah cukup mengendalikannya. Kita lihat saja nanti,” katanya. Perusahaan intelijen blockchain yang berbasis di AS, TRM Labs, mengatakan unit Korea Utara kemungkinan berada di balik peretasan tersebut, yang berdampak pada lebih dari $6 miliar (Rp108 triliun) di Binance.
TRM mengatakan pihaknya memiliki “keyakinan tinggi” bahwa TraderTraitor, sebuah subunit dari Lazarus Group Korea Utara, melakukan serangan tersebut.
Pendiri dan CEO Chainalysis, Jonathan Levin, juga menulis di X bahwa peretasan tersebut kemungkinan dilakukan oleh kelompok TraderTraitor.
Binance belum mengkonfirmasi siapa yang melakukan pencurian tersebut. Bursa akan menangguhkan penarikan dan berjanji menanggung semua kerugian, dengan mengatakan sekitar $3 miliar (Rp54 triliun) aset telah dibekukan di jaringan blockchain. (Anadolu/ndi)