Aktual.co.id – Keputusan Syuriyah PBNU agar Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf mundur dari jabatan menjadi pemberitaan media di dunia.
Salah satu yang memberitakan terkait persoalan tersebut Adalah Al Jazeera. Dalam pemberitaannya Al Jazeera menuliskan bahwa, pimpinan NU, yang merupakan organisasi Islam terbesar di dunia dengan sekitar 100 juta anggota dan afiliasinya, telah memberi waktu tiga hari kepada Ketua Yahya Cholil Staquf untuk mengajukan pengunduran dirinya atau dicopot dari jabatannya.

Ditulis oleh Al Jazeera keputusan organisasi tersebut dampak dari undangan Staquf kepada seseorang yang berafiliasi dengan jaringan Zionisme internasional, yang menghadiri acara internal pada bulan Agustus, serta dugaan salah urus keuangan, sebagai alasan mengapa perlu mengundurkan diri.
Bahkan kantor berita Reuters pun mewawancarai salah satu pejabat NU, Najib Azca, yang mengatakan bahwa seruan untuk mundur bermula dari keputusan Staquf untuk memberikan undangan kepada mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS dan cendekiawan Peter Berkowitz untuk bergabung dalam acara pelatihan NU.
Perlu diketahui bahwa Berkowitz sering menulis untuk mendukung perang Israel di Gaza. Termasuk sebuah tulisan pada bulan September yang bertujuan membantah bahwa Israel telah melakukan genosida di wilayah Palestina.
Dalam sebuah opini pada bulan Oktober, Berkowitz mengatakan bahwa pengakuan formal terhadap negara Palestina imajiner menghambat keamanan, stabilitas, dan perdamaian dan menuruti populasi Muslim yang sedang tumbuh di negara-negara demokrasi Barat.
“Hal ini memperkuat fantasi progresif bahwa hambatan utama bagi solusi yang adil dan langgeng bagi konflik Israel-Palestina adalah sikap agresif Israel, bukan sikap keras kepala Palestina dan haus darah Hamas,” ujarnya.
Berkowitz juga menulis tentang seminar yang diberikan kepada peserta NU di Indonesia pada bulan Agustus, dan memuji ketua organisasi tersebut, Staquf.
Staquf, yang menjabat sebagai ketua NU sejak 2021, tidak segera menanggapi permintaan komentar dari kantor berita Reuters.
Staquf telah meminta maaf atas undangan kepada Berkowitz, dan menyebutnya sebagai kekeliruan karena tidak memeriksa secara cermat latar belakang cendekiawan tersebut, demikian laporan Reuters. (ndi/Aljazeera)
