Sejarah Singkat Bubungan Keuangan Jepang – Amerika
Selama puluhan tahun pemerintah jepang adalah tonggak terbesar yang menopang ekonomi Amerika Serikat di belakang layar.
Melalui mekanismenya, pemerintahan Jepang memberikan legalitas kepada Bank of Japan “BOJ” (Bank Sentral Jepang) untuk menyediakan likuiditas berbunga rendah yang disebut sebagai zero interest rate policy (secara definitif hampir nol yakni sebesar “0.001% atau 0.03%”) yang dimulai sejak era 90’an.
Awal mula kebijakan ini bermula dari keinginan pemerintah Jepang memerangi deflasi yang dikhawatikan memiliki implikasi negatif bagi perekonomiannya.
Kebijakan ini berdampak pada kemudahan bagi pelaku keuangan dunia atas dana masif yang besar dan digunakan sebagai dasar membeli portofolio keuangan dunia.
Salah satu penggunaannya adalah untuk membeli surat hutang negara Amerika atau “US T (Treasury) – Bond”. Perlu juga diketahui Jepang menjadi pemegang terbesar US T-Bond dengan nilai mencapai USD$ 1 Triliun.
US T-Bond ini yang dijadikan aset oleh pemerintah Jepang sebagai dasar pengamanan keuangan dan penjamin hubungan multilateral serta perdagangan.
Amerika pun diuntungkan dengan adanya mekanisme ini yang membuatnya menjadi negara yang hampir pasti selalu memiliki penjamin atas setiap surat hutang yang diterbitkannya dengan imbal jasa kekuatan Amerika untuk menyokong kebijakan perdagangan jepang.
Kebijakan Impulsif Amerika Serikat
Ketidak-konsistensi-an kebijakan ekonomi dan luar negeri pemerintah Amerika Serikat dalam perannya di kancah global telah merubah sudut pandang dunia terhadap Amerika.
Kebutuhan atas entitas yang tegas dan fair serta menarik diri dari WTO, Paris Climate Agreement, dan beberapa kancah internasional lain telah menciptakan keraguan besar di mata negara-negara sekutunya termasuk Jepang.
Hubungan simbiosis finansial Jepang-Amerika ditengarai runtuh saat Presiden Trump memberlakukan kebijakan tarif perdagangan kepada negara manapun baik kawan maupun lawan termasuk Jepang.
Negara manapun yang membukukan keuntungan atas perdagangan dengan Amerika dianggap merugikan negara tersebut karena menciptakan perdagangan yang defisit, dan tidak fair di mata presiden Trump.
Amerika pun mencoba menekan rem defisit perdagangan dengan memberikan tarif perdagangan yang besar. Perang tarif ini menciptakan inflasi di negara jepang.
Bukan karena tingginya konsumsi domestik namun pasar perdagangan dunia menjadi lebih sulit dan memunculkan dampak sistemik tarif yang berakibat naiknya kebutuhan dunia secara global termasuk di Jepang.
Burung Kenari dalam Tambang Batubara
Dahulu kala burung kenari kerap dijadikan pertanda adanya bahaya monoksida yang bisa membawa racun yang sunyi tetapi mematikan di dalam tambang batubara saat era revolusi industri.
Metode ini diketahui menyelamatkan banyak penambang dikala itu, dikarenakan karakteristik burung kenari yang haus akan oksigen dan sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Dikatakan Burung kenari akan terlihat gelisah bila instingnya bekerja terhadap bahaya. Diibaratkan seekor burung kenari yang dibawa oleh penambang batubara, saat ini Jepang diindikasi mengambil langkah melepas US T-Bond secara berkala.
Selain itu, Jepang perlahan-lahan meningkatkan suku bunga tahunan hingga mencapai 0,75%. Walaupun terlihat kecil bagi orang awam, suku bunga ini menjadi besar bila dikalikan dengan dana Jepang yang telah keluar ke pasar keuangan global sebesar USD$ 132 Milyar untuk kembali masuk ke dalam pasar keuangan domestik Jepang.
Dengan mendasarkan alasan mengatasi inflasi dalam negeri Jepang, muncul kekhawatiran langkah ini berdampak sistemik terhadap keuangan Amerika.
Apalagi saat ini negara pemegang US T-Bond terbesar kedua setelah Jepang adalah China, yang tengah bersitegang dengan Amerika. Sehingga sangat logis terdapat kekhawatiran Amerika kehilangan negara-negara kaya yang rela membeli surat hutangnya secara perlahan yang dimulai dari Jepang, kreditur terbesarnya.
Seperti layaknya Burung Kenari yang gelisah akan sinyal bahaya, langkah Jepang ini adalah sinyal awal akan bahaya ekonomi sistemik yang bisa menciptakan domino effect, termasuk ke pasar keuangan Indonesia.
Skenario 1, Kepercayaan atas US T-Bond masih ada
Bagi Indonesia bila US T-Bond masih dipercaya namun mulai ditinggalkan dominasi perannya oleh negara lain, maka akan memicu The Fed menaikkan suku bunga T-Bond yang tinggi agar menarik pasar.
Langkah ini yang diikuti oleh naiknya suku bunga Bank Sentral Jepang pasti akan berimplikasi pada larinya modal internasional dan regional, berujung pada pembengkakan pada hutang negara Indonesia yang menggunakan nominasi dollar sebagai pembayarannya.
Larinya modal dari indonesia juga berdampak pada penurunan nilai bursa efek, hengkangnya penanam modal asing dan memicu pelemahan rupiah.
Merosotnya rupiah akan berdampak pada besaran nilai impor indonesia dan memicu inflasi lebih tinggi serta menenggelamkan ekonomi lebih dalam lagi. Hal ini berdampak spiral efek yang tidak berhenti namun ke arah negatif.
Skenario 2, Kepercayaan atas US T-Bond Lemah atau Hilang
Ini adalah asumsi gila yang saya sendiri berharap tidak terjadi. Skenario ini tidak hanya beranalogi badai ekonomi tetapi bagaikan Tsunami Aceh yang menerpa persis di jantung ekonomi Indonesia.
Berawal dari penjualan US T-Bond oleh Jepang, sekutu Amerika di Asia. Langkah ini diikuti oleh sekutu-sekutu Amerika lainnya yang juga merangkak menjualnya perlahan-lahan dan menciptakan kepanikan pasar dengan menjual ramai-ramai US Bond oleh pasar keuangan global.
Asumsi gila ini bukannya tidak mungkin terjadi, pasar bisa saja meragukan kemampuan Amerika Serikat sebagai the last resort karena merasa ragu atas kemampuannya membayar hutang jumbonya yang sudah sebesar USD$34 Triliun (120% dibandingkan pendapatan nasionalnya).
Ditambahkan oleh kegagalan pemerintahan internal Amerika dalam mendorong perekonomian, gagal menarik industri untuk berproduksi didalam negeri, gagal menjaga status quo Petro-Dollar dan menciptakan dominasi produk global serta diikuti oleh kegagalan militer Amerika yang salah satunya seperti terjadi di Afghanistan maka dapat berimplikasi menghilangkan dominasinya sebagai polisi dunia.
Asumsi distrust dapat berujung pada suku bunga The Fed yang juga naik secara menggila. Pasar dunia yang meragukan kemampuan Amerika akan berujung pada kegagalan pasar keuangan global, bagi dunia ini adalah bencana nuklir ekonomi.
Bagi indonesia, cadangan devisa dan simpanan swasta yang umumnya berbentuk US T-Bond serta merta ter-reset nilainya di buku neraca perdagangan.
Negara maupun pelaku pasar Indonesia akan kehilangan asetnya seketika. Perdagangan yang tetap menggunakan dolar sebagai nilai kontrak maka akan berujung pada nilai impor yang melesat tak terkendali.
Seperti halnya skenario 1, skenario 2 akan melibas fundamental ekonomi Indonesia bila tidak bersiap siap sejak sekarang.
Posisi Indonesia
Walaupun begitu, untungnya pasar dunia bertahap menghilangkan 100% ketergantungan pada dollar dan menggunakan mata uang domestik sebagai dasar perdagangan bilateral.
Meskipun hanya sebagian kecil, tetapi semenjak China dapat meyakinkan Arab Saudi untuk menjual minyaknya menggunakan Yuan dan mendorong dunia bertransaksi secara bilateral tanpa dolar seperti halnya perdagangan Yuan-Rupiah, Saya meyakini efek ini akan mampu ter-netralisir.
Semua skenario di atas bukan hanya prediksi, Jepang memiliki semua alasan untuk mengeksekusi langkah tersebut.
imajinasi krisis ini menunjukkan indonesia perlu membangun kedaulatan pada fundamental ekonomi yang resilien, tujuan ekspor yang terdiversifikasi, permintaan domestik yang kuat, hutang yang terkendali, dan kestabilan sosial politik.
Namun seperti halnya burung kenari di dalam tambang batubara, Indonesia adalah salah satu penambangnya, apakah indonesia mampu keluar cepat dari dalam tambang sebelum racun monoksida yang mematikan telah memenuhi ruangan.

Penulis:
Arif Zeinfiki Djunaedi
Dosen dan Pengamat Ekonomi Universitas Hayam Wuruk Perbanas
disunting oleh :
Andi Prasetyawan – Editor Aktual
