Aktual.co.id – Buku Broken String yang ditulis oleh Aurelie Moeremans seolah membuka mata tetag pola asuh anak serta hak anak untuk mendapatkan kasih sayang, bukan untuk eksploitasi. Dalam buku tersebut mengungkapkan tentang fenomena Child Grooming yang jarang sekali terdengar.
Menurut dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ, Child Grooming, secara umum maknanya serangkaian tindakan yang terlihat manis dan perhatian, namun manipulatif, dengan tujuan mengendalikan atau membuat seseorang jatuh dalam penguasaan pelakunya, baik mental maupun fisik
“Dampaknya dari child grooming sangat luas dan dapat membahayakan, mulai dari mental seperti hilangnya rasa percaya diri, rasa ketergantungan yang tidak wajar, mudah marah dan kecewa, rasa takut kehilangan yang berlebihan, rasa terisolasi dan ketiakmampuan korban dalam menghadapi masalahnya,” k

atanya.
Bahkan disampaikan oleh dr. Riko sampai dampak jangka panjang seperti ganggaun cemas, depresi, masalah self esteem, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD ). Dampak fisik yang bisa terjadi, adalah jika sampai terjadi pelecehan atau kekerasan seksual.
Dikatakan ada beberapa tanda anak terpapar child grooming.
- Terlalu akrab dengan seseorang yang jauh lebih dewasa darinya
- Terlalu banyak membicarakan orang dewasa kenalannya, bergantung padanya, dan marah jika ada yang menjelekkan kenalannya.
- Anak Lebih banyak menghabiskan waktu dengan kenalan dewasanya, dibanding dengan teman sebaya
- Adanya bentuk perhatian tidak wajar dan berlebihan pada anak, seperti menerima hadiah, ucapan pujian melalui medsos, adanya ajakan dari pelaku grooming menemui korban dan keluarganya di waktu privat
- Anak mulai menarik diri, tertutup, mengunci HP nya, tidak mau cerita dengan orang tua.
- Perubahan sikap dan perilaku anak, seprti mudah marah, tertutup, menghindari teman2 sebayanya, prestasi belajar menurun, sering melanggar aturan, berani pada orang tua, dan lain lain.
“Di sini peran orang tua sangat peting di mana perlu bersikap peka melihat perubahan dan perilaku anak. Jika ada tanda-tanda seperti tadi, sebaiknya waspada dan lakukan upaya mitigasi,” kata dr Riko.
Yang penting, kata dr. Riko, jangan langsung marah secara frontal pada anak, namun lakukan pendekatan yang empatik dulu.
“Jalin kedekatan dengan anak, buat anak nyaman dengan kita. Setelah itu, baru kita sampaikan pendapat kita tentang bahaya child grooming,” ungkapnya.
Untuk membentengi agar anak tidak terkena child grooming, maka dr Riko menyarankan, menjalin kedekatan dengan anak, penuhi kebutuhan kasih sayang dan afeksinya, serta budayakan saling terbuka pada anak, tanpa menghakimi.
“Child grooming seringkali diawali dengan adanya kekosongan dan kesepian di hati anak, yang kemudian memberi ruang untuk di eksploitasi pelaku grooming,” tambahnya. Terkait istilah Broken String, dr Riko menjelaskan bahwa istilah tesebut berarti benang atau senar yang putus.
“Namun dalam konteks yang sedang viral, tentang buku broken strings Aurelie Moeremans, mungkin maknanya lebih dalam, yaitu kearah suatu semangat hidup yang tercabik, retak, akibat pengalaman traumatis,” ungkap dr Riko. (ndi)
