Aktual.co.id – Museum Nasional Korea dirancang melindungi dan memamerkan sejarah bangsa selama berabad-abad. Namun, selama hampir dua minggu, lobi monumental “Jalan Sejarah” museum ini melakukan hal lain yakni pameran BLACKPINK.
Menjelang perilisan mini album ketiga girl group tersebut, “DEADLINE,” yang akan tayang Jumat pukul 2 siang, BLACKPINK berkolaborasi dengan museum unggulan negara tersebut untuk sebuah proyek khusus yang berlangsung hingga 8 Maret.
Kolaborasi dibuka dengan acara mendengarkan pra-rilis yang diadakan di atrium lantai dasar utama museum, menandai pertama kalinya institusi tersebut mengizinkan ruang pusat simbolisnya digunakan untuk kemitraan K-pop.
Di bawah replika digital Prasasti Gwanggaeto setinggi delapan meter, sebuah monumen menjulang tinggi yang memperingati Raja Gwanggaeto Agung dari era Goruryeo (37 SM-668 M), para tamu membentuk lingkaran yang longgar namun antusias saat lima lagu baru dari album tersebut memenuhi aula yang luas.
Dari single pra-rilis yang viral “JUMP” hingga lagu utama yang sangat dinantikan “GO,” musik tersebut bergema di permukaan batu dan kaca yang lebih terbiasa dengan gumaman tenang para pengunjung museum.
Zona mendengarkan khusus di sepanjang lorong pengunjung museum mendengarkan album “DEADLINE” secara lengkap selama jam operasional museum. Terobosan ini mampu mendorong pengunjung menikmati K-pop dan sejarah secara bersamaan.
Dengan menempatkan musik grup ini di dalam ruang yang didedikasikan untuk pelestarian, kolaborasi ini terasa lebih dari sekadar crossover.
BLACKPINK secara halus memposisikan K-pop dalam garis waktu sejarah dan budaya, membingkai perilisan album sebagai pernyataan tentang warisan dan keberlangsungan.
Sepanjang periode acara, bagian luar museum dan sebagian interiornya telah disinari dengan warna merah muda khas BLACKPINK, mengubah tampilan fasad institusi yang khidmat.
Terlihat dari sore hingga malam hari, instalasi pencahayaan ini telah menarik pengunjung yang berhenti untuk memotret perpaduan antara arsitektur dan ikonografi K-pop global.
Kemitraan ini meluas hingga ke galeri itu sendiri. Para anggota Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa merekam panduan audio multibahasa yang memperkenalkan delapan harta nasional yang tersimpan di museum tersebut.
Disampaikan dalam bahasa Korea dan Inggris, dengan versi Thailand karya Lisa yang akan tayang perdana pada bulan Maret, narasi ini mencakup artefak seperti Bodhisattva Perenungan perunggu berlapis emas yang terkenal dan guci bulan porselen putih, menawarkan kepada penggemar internasional gerbang baru ke dalam seni dan sejarah tradisional Korea.
Inisiatif ini sejalan dengan rekam jejak BLACKPINK yang lebih luas dalam mengintegrasikan estetika tradisional Korea di atas panggung. Mulai dari gaya hanbok (pakaian tradisional Korea) yang dimodernisasi dalam video musik “How You Like That” (2020) hingga motif arsitektur Korea sebagai latar belakang selama penampilan Coachella 2023 mereka, kuartet ini telah berulang kali menempatkan warisan budaya dalam kerangka pop.
Prasasti kuno dan proyeksi digital berdampingan dengan dentuman musik yang diperkuat, sementara tempat yang dibangun untuk melestarikan masa lalu berdenyut dengan tontonan masa kini.
Kolaborasi ini menyoroti dinamika yang berubah di mana warisan budaya tidak hanya terkurung di balik kaca. Dalam percakapan dengan budaya pop global, warisan budaya juga dapat terasa langsung, mendalam, dan hidup kembali. (ndi/Korean times)
