Aktual.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan layanan dasar bagi warga terdampak banjir mendapatkan pemenuhan mendasar di Kabupaten Demak.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau pengungsian korban banjir di Demak, menyampaikan penanganan banjir dilakukan menyeluruh, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
“Prinsipnya layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi, mulai sekolah, kesehatan, bahan pokok, makanan, dan lain sebagainya tidak boleh ketinggalan,” katanya seperti dilansir ANTARA.
Kehadirannya ke lokasi bencana untuk melihat secara langsung kondisi korban serta penanganan terhadap warga yang terdampak bersama jajaran Pemkab Demak dan Pemprov Jawa Tengah.
Saat ini warga ditampung di kantor Pemkab Demang dengan menempati ruang utama gedung, ada yang beristirahat di atas alas darurat, dan sebagian lain duduk di teras sambil menunggu kondisi di rumah mereka membaik.
Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang terjadi pada Jumat (3/4) yang berdampak pada delapan desa di empat kecamatan, dengan jumlah pengungsi tercatat 2.839 jiwa.
Titik terdampak banjir Demak tersebar di Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Saat meninjau pengungsi, Luthfi berdialog dengan warga dan secara simbolis menyerahkan bantuan kepada pengungsi.
Total bantuan Pemprov Jateng untuk penanganan banjir Demak mencapai Rp236.985.411, yang berasal dari BPBD Jateng, Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, dan PMI Jateng.
Setelah menyapa warga, Gubernur Jateng langsung menggelar rapat terbatas untuk mengatasi persoalan tersebut, diikuti oleh Bupati Demak Eisti’anah dan jajaran terkait.
“Kita mengatasi banjir ini tidak bisa parsial. Dari hulu sampai hilir itu harus dituntaskan,” ujarnya.
Korban menjelaskan bahwa air datang sangat cepat saat tanggul tak lagi mampu menahan arus. “Kejadiannya Jumat (3/4) sekitar pukul 10.00 WIB, saya di rumah. Tiba-tiba airnya mengalir deras sekali dari tanggul, lama-lama jebol,” kata salah satu korban banjir.
Menjelang sore, ketinggian air terus naik hingga warga dievakuasi dengan perahu, tepatnya setelah Ashar ketika airnya sudah setinggi dada. (ndi/ANTARA)
