Aktual.co.id — Akademisi teknologi pangan dari UPN “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), Prof. Dr. Dedin Finatsiyatull Rosida, S.TP, M.Kes, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Kimia Pangan Fungsional di Giri Loka UPNVJT, Sabtu (25/4/2026) .
Pengukuhan yang berlangsung di Gedung Giri Loka ini ditandai dengan orasi ilmiah bertajuk “Potensi Pangan Dataran Rendah dan Pesisir sebagai Pangan Fungsional dan Flavor Enhancer.”
Dalam orasinya, Prof. Dedin menegaskan bahwa wilayah dataran rendah dan pesisir menyimpan potensi besar sebagai tulang punggung produksi pangan nasional.
Komoditas seperti padi, jagung, palawija, hingga hasil perikanan menjadi kekuatan utama yang perlu dioptimalkan melalui inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu inovasi yang disorot adalah pemanfaatan umbi-umbian lokal, seperti kimpul (Xanthosoma sagittifolium), sebagai alternatif bahan pangan.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan tepung umbi lokal tidak hanya berfungsi sebagai substitusi tepung terigu, tetapi juga berdampak pada peningkatan kandungan pati resisten dan serat pangan.
Kandungan tersebut dinilai sangat bermanfaat bagi kesehatan, khususnya bagi penderita diabetes dan penyakit kardiovaskular, karena dapat membantu mengontrol kadar gula darah serta menjaga kesehatan sistem pencernaan dan jantung.
“Pengembangan pangan berbasis umbi lokal bukan hanya soal kemandirian pangan, tetapi juga menyangkut aspek kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Selain sumber pangan nabati, Prof. Dedin juga mengangkat potensi keong sebagai sumber protein hewani alternatif.
Keong dinilai memiliki kandungan protein tinggi, rendah lemak jenuh, serta kaya mineral penting seperti kalsium dan zat besi.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa rangkaian peptida dan asam amino dari protein keong memiliki potensi besar sebagai flavor enhancer alami.
Senyawa tersebut dapat berperan menyerupai Monosodium Glutamate (MSG), namun berasal dari sumber alami, sehingga berpeluang menjadi penyedap rasa yang lebih sehat dan aman.
“Peptida dari protein keong berpotensi menjadi MSG alami yang tidak hanya meningkatkan cita rasa, tetapi juga memberikan nilai fungsional bagi tubuh,” jelasnya.
Selain itu, turunan keong lainnya seperti mucin dan cangkang juga memiliki nilai tambah tinggi, mulai dari pemanfaatan di bidang kesehatan hingga industri pangan dan farmasi melalui produksi chitosan yang bersifat antioksidan dan antikolesterol.
Di akhir orasinya, Prof. Dedin menekankan pentingnya hilirisasi riset dan penguatan sumber daya manusia untuk mengembangkan pangan fungsional berbasis potensi lokal. Ia berharap inovasi ini mampu meningkatkan nilai tambah produk pangan Indonesia sekaligus memperkuat daya saing di tingkat global. (RF)
