Aktual.co.id – Sedikitnya tujuh orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam penembakan di sebuah sekolah di Thailand. Kejadian tersebut seorang siswa melepaskan tembakan dan kemudian bunuh diri. Ini adalah penembakan sekolah kedua di Thailand tahun ini.
Tragedi itu terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi di pinggiran barat laut Bangkok. Menurut pihak berwenang, sekitar 3.100 siswa bersekolah di sana dengan diajar oleh 147 guru.
Setelah penembakan, ribuan siswa panik dan melarikan diri dari sekolah, sementara para guru berpelukan dan menangis.
Gambar yang dirilis petugas penyelamat menunjukkan para korban dimasukkan ke dalam ambulans dan paramedis memberikan pertolongan pertama di atas tandu yang dipasang di luar.
Seorang siswa di sekolah mengatakan kepada Reuters, awalnya dia tidak mengenali suara-suara mematikan itu. “Awalnya, saya tidak mengira itu suara tembakan. Saya pikir seseorang sedang menyalakan kembang api atau menghancurkan barang-barang,” kenang siswa yang terkejut itu. Ada banyak ledakan, kemudian hening untuk sementara, lalu mulai lagi.
Letnan Kolonel Trirong Phophan, juru bicara Kepolisian Nasional Thailand membenarkan tersangka pelaku penembakan termasuk di antara tujuh orang yang tewas dan 15 orang yang terluka.
Menteri Pendidikan Thailand Prasert Jantararuangtong menyatakan baik guru maupun siswa termasuk di antaranya adalah para korban. Polisi mengidentifikasi pelaku sebagai seorang siswa di sekolah tersebut.
Kiatikhun Verapongpradith, seorang paramedis berusia 47 tahun, menggambarkan pemandangan mengerikan yang menyambutnya ketika tim penyelamatnya tiba di lokasi kejadian saat penembakan masih berlangsung.
Tim medis memberikan perawatan darurat kepada sejumlah siswa yang menderita luka di punggung, dada, dan lengan mereka.
Setelah memasuki gedung lebih jauh, mereka menemukan seorang guru yang sudah meninggal di salah satu lantai atas. Di ruang kelas lain, seorang guru perempuan tergeletak lemas dengan beberapa luka serius di dada dan lengannya.
“Kami melakukan CPR selama 30 menit dan membawanya ke rumah sakit. Terlepas dari semua yang kami lakukan, kami tidak dapat menghidupkan kembali jantungnya,” lapor Bapak Kiatikhun dengan sedih.
Insiden di Debsirin Nonthaburi ini memicu kekhawatiran tentang kepemilikan senjata api dan kekerasan di Thailand. Ini adalah penembakan sekolah kedua tahun ini; sebelumnya, seorang guru tewas dan seorang siswa terluka dalam penembakan di selatan negara itu. (ndi/Vietnam)
