Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan Nature Mental Health menemukan pola aktivitas otak dapat membantu memprediksi jenis gejala kesehatan mental.
Dengan kata lain, fitur otak bisa dikaitkan dengan perilaku seperti kecemasan atau depresi. Pola ini berlaku pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Pola ini menunjukkan bahwa konektivitas otak memainkan peran dalam berbagai jenis masalah kesehatan mental.
Para peneliti melakukan studi ini untuk menjawab pertanyaan dalam kesehatan mental: apakah perilaku internalisasi dan perilaku eksternalisasi didukung pola unik di otak?
Kategori ini sering digunakan dalam psikiatri untuk membantu memahami masalah psikologis. Tetapi masih belum diketahui arsitektur jaringan otak berhubungan dengan masing-masing kategori.
“Gejala kesehatan mental dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar: masalah internalisasi dan eksternalisasi,” jelas penulis studi Yueyue Lydia Qu dan Avram J. Holmes, kandidat PhD di Universitas Yale dan profesor madya di Universitas Rutgers.
Masalah internalisasi, digolongkan dalam kecemasan, penarikan diri, dan keluhan somatik. Sedangkan masalah eksternalisasi, digolongkan dalam perilaku mengganggu dan agresif karena berpengaruh terhadap lingkungan atau orang lain.
Para peneliti menganalisis data pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) dengan cara partisipan dalam keadaan istirahat. Tujuannya untuk memeriksa apakah pola konektivitas otak dapat memprediksi gejala internalisasi atau eksternalisasi.
Penelitian ini mencakup tiga sampel besar dan independen, mencakup anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Sampel utama berasal dari studi Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) dan mencakup 5.260 anak berusia sekitar 10 tahun.
Dua sampel digunakan untuk menguji apakah temuan dari anak-anak akan digeneralisasi, satu dari 229 remaja berusia 12 hingga 18 tahun dari Healthy Brain Network, dan satu lagi dari 423 orang dewasa muda dengan usia rata-rata 29 tahun dari Human Connectome Project.
Semua peserta menyelesaikan kuesioner kesehatan mental yang dirancang untuk menilai tingkat masalah internalisasi dan eksternalisasi. Semua menjalani pemindaian otak dalam kondisi istirahat.
Para peneliti menganalisis konektivitas fungsional di 419 wilayah yang diminati di otak setiap orang. Mereka menerapkan model pembelajaran mesin yang dikenal sebagai regresi kernel ridge untuk mencoba memprediksi tingkat gejala setiap peserta berdasarkan konektivitas otak mereka.
Pada anak-anak dan remaja, perilaku eksternalisasi lebih erat kaitannya dengan konektivitas antara jaringan visual otak dan area lain. Sementara gejala internalisasi erat kaitannya dengan koneksi ke daerah subkortikal yakni struktur otak dalam yang terlibat emosi dan motivasi.
Salah satu temuan yang menarik adalah jaringan otak dapat memainkan peran yang berbeda tergantung pada usia. Misalnya, konektivitas antara daerah subkortikal dan jaringan temporal-parietal dikaitkan dengan perilaku eksternalisasi pada anak-anak dan remaja, tetapi tetap dikaitkan dengan perilaku internalisasi pada orang dewasa.
Para peneliti juga menemukan beberapa pola otak di seluruh kategori gejala. Hal ini memperkuat penelitian yang menunjukkan bahwa banyak gejala kesehatan mental memiliki fitur yang tumpang tindih.
Penelitian ini masih menyisakan beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. “Tiga sampel independen yang digunakan dalam penelitian kami bersifat cross-sectional dan tidak mengikuti peserta dari waktu ke waktu,” ungkap peneliti mencatat.
“Oleh karena itu, masih belum jelas apakah temuan ini berlaku pada individu yang sama saat mereka tumbuh dan berkembang dari anak-anak hingga dewasa,” tambahnya.
Selain itu, kekuatan hubungan otak-perilaku yang diamati cukup sederhana, yang menunjukkan bahwa faktor non-otak juga memainkan peran penting dalam memprediksi gejala kesehatan mental. (ndi/psypost)
