Aktual.co.id – Kepribadian narsisistik adalah bentuk sifat yang tidak memiliki empati, egois, serta merendahkan lawan bicara atau partner.
Ketika berbicara dengan kepribadian ini cenderung membawa diskusi kembali ke dirinya sendiri.
Psikologi memberi beberapa tanda yang jelas untuk mengidentifikasi individu-individu ini.
Dengan menyadari tanda-tanda ini, akan mengetahui cara mengarahkan percakapan ke arah yang lebih seimbang dan menyenangkan.
Narsisistik Tidak Tertarik dengan Sudut Pandang Orang Lain
Seorang narsisis yang suka bicara sering kali tampak tidak tertarik dengan sudut pandang orang lain. Hal ini dapat membuat merasa tidak didengarkan dan tidak dihargai.
Seorang narsisis yang pandai berbicara sering kali mengabaikan keberagaman potensi ini dalam upaya mempromosikan diri. Ketidakpedulian terhadap sudut pandang orang lain adalah tanda dari seorang narsisis yang suka bercakap-cakap.
Jarang Bertanya Tentangmu
Seseorang yang jarang bertanya tentang lawan bicara kemungkinan besar adalah seorang narsisis. Seorang narsisis yang suka mengobrol sering kali melakukannya secara ekstrem, jarang menunjukkan minat yang tulus terhadap kehidupan atau pengalaman lawan bicara.
Jika berinteraksi dengan seseorang yang jarang bertanya tentang lawan bicara atau menunjukkan minat pada kehidupan awal tanda narsisme. Dirinya begitu asyik menceritakan dunianya sendiri sehingga lupa mempelajari dunia orang lain.
Kesulitan Mendengarkan Secara Aktif
Mendengarkan secara aktif merupakan bagian penting dari komunikasi yang efektif. Hal ini melibatkan pemberian perhatian penuh, menunjukkan pengertian, dan menanggapi dengan tepat. Namun, para narsisis yang suka mengobrol sering kali kesulitan dengan hal ini.
Seperti yang dikatakan Daniel Goleman, penulis Emotional Intelligence , “Mendengarkan adalah seni yang membutuhkan perhatian lebih dari bakat, semangat lebih dari ego, dan orang lain lebih dari diri sendiri.”
Namun bagi seorang narsisis yang suka berbicara, egonya sering kali menjadi pusat perhatian. Dirinya tampak tidak fokus, tidak tertarik, atau tidak sabar saat orang lain berbicara.
Menggunakan Percakapan untuk Meningkatkan Ego
Narsisis sering menggunakan dialog sebagai platform untuk meningkatkan egonya, meningkatkan kepentingan di matanya sendiri dan di mata orang lain.
Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Michigan menemukan bahwa kaum narsisi sulit merasakan empati.
Kepribadian ini memilih tidak terlibat dalam perilaku empati kecuali ada keuntungan baginya seperti kesempatan meningkatkan citra diri atau mendapatkan kekaguman.
Terus Menerus Menyela
Interupsi yang terus-menerus adalah tanda bahaya bagi seorang narsistik. Dia suka menyela atau memotong pembicaraan di tengah kalimat karena yakin sudut pandang atau cerita lebih penting.
Gangguan terus-menerus dari seorang narsisis dalam percakapan dapat merusak rasa percaya diri dan membuat komunikasi yang bermakna menjadi sulit.
Lain kali jika ada seseorang terus-menerus menyela untuk menyisipkan narasinya sendiri, anggaplah ini tanda berbicara dengan narsisistik.
Tidak Memiliki Empati yang Tulus
Kurangnya empati merupakan sifat umum orang narsis. Dirinya kesulitan terhubung dengan emosi orang lain karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri.
Dan jika mendapati diri berbagi sesuatu yang bersifat pribadi namun dengan cepat dia mengalihkan fokus kembali ke diri sendiri tanpa mengakui perasaan atau sudut pandang orang lain.
Mendominasi Percakapan
Dalam ranah interaksi sosial, tidak jarang menjumpai orang-orang yang tampaknya menjadi pusat perhatian dalam setiap percakapan. Namun, jika perilaku ini menjadi pola yang konsisten, mungkin berhadapan dengan seorang narsisis.
Menurut Sigmund Freud , bapak psikoanalisis, “Seorang narsisis adalah orang yang mengubur ekspresi diri aslinya sebagai respons terhadap luka-luka masa lalu dan menggantinya dengan jati diri palsu yang berkembang dan bersifat kompensasi.”
Diri palsu yang dimaksud ini dapat terwujud dalam berbagai cara, salah satunya bentuk dominasi percakapan. Orang narsisis terus-menerus mengarahkan dialog ke diri sendiri, pengalaman, atau pencapaian. Hampir tidak memberi ruang kepada orang lain. (ndi)
