• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Menepis Stigma: Dampak Perceraian Terhadap Kesehatan Mental Anak
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Menepis Stigma: Dampak Perceraian Terhadap Kesehatan Mental Anak

Redaktur III Senin, 14 Juli 2025
Share
3 Min Read
Ilustrasi perceraian / Foto : freepik
Ilustrasi perceraian / Foto : freepik

Aktual.co.id – Perceraian orang tua sering kali dilabeli sebagai sumber utama masalah mental dan perilaku pada anak.

Stigma ini begitu melekat, seolah-olah anak dari keluarga yang bercerai secara otomatis akan tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah.

Sebagai seorang psikiater, pengalaman klinis saya menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan penuh harapan.

Sudah saatnya kita membongkar mitos ini dan melihat kenyataan yang sesungguhnya.

Mendobrak Stigma: Prestasi di Tengah Badai Keluarga

Salah satu miskonsepsi terbesar adalah bahwa anak korban perceraian pasti akan “nakal”. Ini adalah generalisasi yang tidak adil.

Faktanya, banyak individu yang dibesarkan oleh orang tua yang bercerai justru menunjukkan resiliensi (daya bangkit) yang luar biasa. Mereka tumbuh menjadi remaja dan orang dewasa yang sehat, stabil, dan bahkan berprestasi.

Baca Juga:  Orang yang Selektif Terhadap Waktu dan Energi Menunjukkan Sikap Seperti Ini

Apa kuncinya? Jawabannya terletak pada dukungan sosial. Ketika seorang anak merasa aman, dicintai, dan didukung oleh lingkungan sekitarnya—baik itu dari keluarga besar, guru, sahabat, maupun komunitas—dampak negatif dari perceraian dapat diminimalisir secara signifikan.

Mereka belajar bahwa perpisahan orang tua bukanlah akhir dari dunia, melainkan sebuah babak kehidupan yang bisa dilalui.

Dukungan inilah yang menjadi fondasi bagi mereka untuk tetap fokus pada pendidikan, hobi, dan pengembangan diri.

Perceraian Bukan Vonis Depresi

Penting untuk menegaskan bahwa depresi adalah kondisi medis yang kompleks dan bisa menimpa siapa saja, terlepas dari status pernikahan orang tuanya.

Menyalahkan perceraian sebagai satu-satunya penyebab depresi pada anak adalah sebuah penyederhanaan yang keliru.

Perceraian lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor risiko, bukan penyebab tunggal. Faktor ini dapat meningkatkan kerentanan seorang anak terhadap masalah kesehatan mental, tetapi tidak serta-merta menentukannya.

Baca Juga:  Dalam Sebuah Tulisan, Indra Keenam Bisa Dibangun Lewat Latihan

Sama seperti faktor risiko lainnya—seperti tekanan akademis, perundungan, atau riwayat genetik—dampaknya sangat bergantung pada ada atau tidaknya faktor pelindung.

Sekali lagi, dukungan sosial yang kuat, komunikasi yang terbuka dengan orang tua, serta akses terhadap bantuan profesional jika diperlukan, adalah benteng pertahanan yang ampuh untuk menjaga kesehatan mental anak.

Butuh “Satu Desa” untuk Membesarkan Seorang Anak

Kisah-kisah inspiratif datang dari berbagai penjuru, baik dari ruang praktik saya maupun dari panggung dunia.

Banyak orang hebat dengan segudang prestasi yang ternyata berasal dari keluarga yang tidak “sempurna”. Mereka adalah bukti nyata bahwa struktur keluarga bukanlah satu-satunya penentu masa depan seorang anak.

Baca Juga:  Melupakan Rasa Sakit Karena Dighosting

Keberhasilan mereka tidak lepas dari peran kolektif lingkungan. Ketika orang tua tidak lagi bisa berjalan beriringan, peran keluarga besar seperti kakek-nenek, paman-bibi, serta figur pendukung seperti guru yang peduli dan teman sebaya yang positif, menjadi sangat krusial.

Merekalah yang mengisi celah, memberikan teladan, dan menyalurkan kasih sayang serta dukungan yang dibutuhkan anak untuk berkembang sesuai fitrahnya.

Hal ini menggemakan sebuah pepatah bijak: “It takes a village to raise a child.” Pada akhirnya, membesarkan anak yang tangguh dan bermental sehat adalah tanggung jawab kita bersama sebagai sebuah komunitas, bangsa, dan peradaban.

dr. Hafid Algristian, Sp.KJ., M.H.

Ditulis oleh:

dr. Hafid Algristian, Sp.KJ., M.H.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

SHARE
Tag :Gangguan Cemaskesehatan jiwakesehatan jiwa anakMental healthTrauma
Ad imageAd image

Berita Aktual

DK dan Vernon/ Foto: Soompi
DK dan Vernon SEVENTEEN Bersiap Masuk Dinas Militer Mulai September 2026
Senin, 27 Juli 2026
Ilustrasi penyalahgunaan narkoba/ Foto: national today
Kasat Narkoba Polres Tangsel Terlibat Kasus Peredaran Narkoba
Senin, 27 Juli 2026
Truk membawa gulungan kertas kecelakaan di Pasuruan/ Foto: Kompas
Kecelakaan Truk Pasuruan Memakan Empat Korban Meninggal Dunia
Senin, 27 Juli 2026
Gedung Bank Indonesia./ foto : Ist
Kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia Dilakukan Secara Kolektif Kolegial
Senin, 27 Juli 2026
Masyarakat menyelematkan diri dari badai Noul/ Foto: reuters
Topan Noul Memaksa 700 Ribu Orang Mengungsi di Guangdong
Senin, 27 Juli 2026

Mental Health

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Meditasi sarana menenangkan diri ala Stoikisme/ foto : istimewa

Lima Kecerdasan yang Bisa Dilatih untuk Kesehatan Mental

Ilustrasi manipulasi/ Foto: freepik

Berikut Cara Manipulator Mempengaruhi Orang Lain Agar Mengikuti Kehendaknya

Ilustrasi menenangkan diri/ Foto: freepik

Seni Menenangkan Diri untuk Menghadapi Setiap Persoalan

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Kasus Ebola Melampaui 3000 di Republik Demokratik Kongo

ChatGPT Mengalami Down Bagi Pengguna Sebagian Dunia

Penampilan Haerin Memicu Perbincangan Warganet di Media Sosial

Febrie Adriansyah Ditahan Selama 20 Hari ke Depan di Rutan KPK

More News

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Kasus Bunuh Diri, Antara Stigma, dan Kepedulian

Rabu, 6 Mei 2026

Orang yang Memiliki Kecerdasan dan Empati Tinggi Punya Kebiasaan Ini

Jumat, 6 Juni 2025
Mengakui sedang bersedih adalah tahapan terapi saat dighosting

Melupakan Rasa Sakit Karena Dighosting

Senin, 10 Februari 2025
Hal kecil yang sering mengganggu menandakan terjadi depresi / Foto: Freepik

Jika Hal Kecil Sering Mengganggu Bisa Jadi Tanda Depresi

Rabu, 26 Maret 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id