Aktual.co.id – Es krim kali pertama muncul di Persia sekitar 2.500 tahun yang lalu. Versi-versi awal menggunakan air beku manis yang dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil dan diberi topping buah-buahan.
Selama musim dingin, es dikumpulkan dari pegunungan dan danau, lalu disimpan di gubuk-gubuk es. Metode pembuatan es krim ini bertahap diadopsi oleh peradaban Yunani dan Romawi.
Para bangsawan yang mampu membayar proses mahal dengan cepat terpikat olehnya. Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, transportasi es yang terorganisir terhenti, dan produksi es krim menjadi mahal. Baru setelah Eropa meninggalkan Abad Kegelapan, es krim kembali populer di Italia pada masa Renaisans.
Dalam kutipan National Today, selama tahun 1300-an dan 1400-an, Italia merupakan pusat perdagangan penting bagi Asia dan Timur Tengah. Pemaparan terhadap teknik pembuatan hidangan penutup yang inovatif ini segera menyebar ke seluruh Eropa.
Es krim sempat mengalami masa sulit untuk mendapatkan popularitas. Hal ini dimungkinkan oleh pernikahan Catherine de Medici, seorang wanita bangsawan Italia, dengan Duke of Orleans pada tahun 1553 di Prancis. Ia membawa budaya timurnya ke benua Eropa setelah pindah ke Prancis untuk menikahi sang Adipati, yang menjadi Raja Prancis.
Es krim kebetulan menjadi salah satu pelajaran yang diajarkan dan minat para bangsawan segera mendorong produksi, distribusi, dan popularitasnya di seluruh dunia.
Setelah Inggris dan Prancis, pedagang kaki lima di Amerika Utara mulai menjual es krim beberapa dekade kemudian. Revolusi industri turut membantu dalam penyelesaian masalah refrigerasi. Solusi yang bertahan lama muncul pada tahun 1926, berupa freezer elektrik.
Hal ini memungkinkan produksi es krim massal. Hasilnya adalah penurunan harga hidangan penutup ini, sehingga tersedia untuk semua orang. Es krim masih menjadi favorit di seluruh dunia, dengan Amerika Serikat sebagai konsumen utama hidangan lezat ini. (ndi)
