Aktual.co.id – Reaksi dalam konflik dibentuk ketika berada dalam pengasuhan. JIka diasuh dalam bentuk kehati-hatian maka akan memiliki respon menghadapi konflik. Berikut perilaku orang yang dibesarkan dalam asuhan kehati-hatian berdasarkan analisa Olivia Reid.
Kewaspadaan yang berlebihan
Konflik sering bagi orang yang diasuh dalam kehati-hatinya dimaknai seperti di medan perang. Orang ini akan waspada, mengamati lingkungan untuk mewaspadai potensi ancaman kemungkinan terburuk.
Bagi yang dibesarkan dengan cara seperti itu, maka memahami respons terhadap konflik menjadi kunci untuk membuka pendekatan yang lebih sehat terhadap persoalan yang menghampirinya.
Menghindari Konflik
JIka sejak kecil diasuh dalam kehati – hatian, maka akan tebentuk kepribadian menghindari konflik. Orang ini akan menelan setiap pendapat dari orang lain dibanding harus berbantah.
Bahkan orang tersebut membiarkan dirinya dimanipulasi oleh orang lain. Pola ini tidak sehat karena akan mengganggu kenyamanan pribadinya.
Penekanan Emosi
Tumbuh dalam suasana hati yang tenang sering kali menyebabkan refleks otomatis untuk menekan emosi seseorang. Ini adalah taktik bertahan hidup untuk tidak tunjukkan rasa takut, jangan tunjukkan kelemahan, dan sembunyikan semua perasaan.
Ini dikenal “efek pantulan”, dan ini adalah fenomena psikologis yang dapat membuat penekanan emosi menjadi pedang bermata dua.
Meskipun tampaknya menyimpan emosi sebagai pilihan yang aman, namun dalam jangka panjang dapat memperparah perasaan yang disembunyikan. Dan berpotensi menyebabkan lebih banyak konflik internal di kemudian hari.
Perfeksionisme
Ada istilah, jika terbiasa berjalan di atas kulit telur, menginjak tanah bagaikan terkena ranjau darat. Artinya kehidupan harus sesuai dengan standar yang diterapkan.
Itulah perfeksionisme dalam bentuknya yang paling mentah. Perfeksionisme sering kali menyebabkan stres yang tidak semestinya.
Terlalu Sering Minta Maaf
Sering meminta maaf menandakan dirinya tidak aman dan memilih di dalam jalur ketenangan. Minta maaf ada;ah respon ketidaknyamanan terhadap konflik.
Meminta maaf seolah menjadi orang yang dididik dalam lingkungan kehati – hatian. Dengan terus menerus mnta maaf membuat seseorang tidak percaya diri dan terhampat pertumbuhan emosi.
Pro Aktif Menciptakan Pedamaian
Tumbuh dalam suasana hati yang tenang akan membuat seseorang menghindar dari segala bentuk penyelesaian konflik.
Namun, hal itu sering memiliki efek sebaliknya. Meski membawa kedamaian hal yang baik, namun konflik tidak harus diselesaikan. Konflik bisa diredm dengan kesepakatan serta menghargai setiap perbedan.
Rentan Terhadap Kritik
Bagi yang tumbuh dengan pola asuh hati-hati, maka kritik seperti pukulan di perut. Setiap percakapan konflik selalu diartikan serangan terhadap dirinya.
Kerentanan ini berasal dari rasa takut konflik dan rasa takut mengecewakan orang lain. Perlu diingat, kritik tidak selalu bersifat pribadi, sering kali kritik dalam upaya memperbaiki tindakan.
Ketahanan Emosional
Hidup dalam kehati-hatian akan mengarah pada pengembangan ketahanan emosional. Terbiasa dalam konflik serta menerima setiap perbedaan bisa melatih seseorang untuk tangguh dan tahan menyelesaikan persoalan. (ndi)
