Aktual.co.id – Kecerdasan tinggi memberi tenaga kognitif untuk memecahkan masalah yang kompleks. Sementara empati mampu membaca suasana batin orang lain.
Jika keduanya digabungkan maka akan mendapatkan perilaku unik yang dimiliki oleh individu tersebut.
Penulis kepribadian Lachlan Brown membeberkan beberapa kepribadian yang memiliki keunikan berikut ini.
Menumbuhkan Kerendahan Hati Secara Reflektif
Secara paradoks, semakin pintar dan empati seseprang maka semakin sadar akan titik kognitif dan emosional.
Studi psikologis menemukan bahwa kerendahan hati yang didefinisikan sebagai pandangan yang akurat tentang kemampuan seseorang ditambah keterbukaan terhadap ide-ide baru mampu memprediksi hasil pembelajaran yang lebih baik dan ikatan interpersonal yang lebih kuat.
Menolak Pemikiran Hitam dan Putih
Kecerdasan mengundang kompleksitas; empati terhadap manusia.
Sebelum melabeli seseorang baik atau buruk, orang yang memiliki kecerdasan emosional dan empati ini akan menelaah kedalaman emosi lawan bicaranya.
Para filsuf menggambarkan ini sebagai kompleksitas integratif yakni kapasitas membedakan dengan banyak perspektif dan mengintegrasikannya ke dalam posisi yang koheren.
Mempraktikkan Altruisme
Kemurahan hatinya sering tidak terlihat. Secara diam diam orang ini membantu teman yang sedang berjuang mendapatkan pendapatan bulanan.
Para sarjana menyebut ini kebijaksanaan prososial yakni tindakan yang dirancang untuk memaksimalkan manfaat bagi penerima sambil meminimalkan ego bagi pemberi.
Empati yang tinggi memasok dorongan moral berupa kecerdasan yang tinggi dan kemampuan penyampaian dengan baik.
Memimpin Secara Inklusif Bukan Secara Efektif
Pemimpin dengan IQ tinggi, EQ rendah sering kali memberikan pilihan yang membingungkan.
Meta-analisis kinerja tim menunjukkan bahwa ketika kemampuan kognitif dipasangkan dengan kepemimpinan empati, maka kecerdasan kolektif menjadi brilian secara individual.
Mengantisipiasi Kebutuhan
Studi pencitraan saraf menemukan bahwa sirkuit prefrontal yang sama yang digunakan untuk perencanaan strategis menyala ketika individu empati membayangkan keadaan emosional orang lain di masa depan.
Dengan kata lain, otak menjalankan simulasi “jika-maka” atas nama seseorang
Mempraktikkan Kejujuran Penuh Kasih
Kebenaran tidak membuatnya takut. Namun orang ini dengan tegas memberikan batasan untuk kesehatan mentalnya.
Studinya perilaku yang dipandu oleh empati menunjukkan orang yang tinggi dalam penalaran empati, akan lebih baik dalam membingkai moral.
Dia akan jujur kepada diri sendiri dan orang lain serta lebih memfokuskan kepada kebutuhan diri sendiri.
Pendengar yang Baik
Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi akan menjadi pendengar yang baik.
Kecerdasannya mendorong menjadi empati serta memberikan dampak baik terhadap orang lain.
Dalam studi percakapan, perilaku mikro yang mendengarkan secara aktif membuktikan memiliki kemampuan empati kognitif yang tinggi serta memiliki penalaran yang mumpuni. (ndi)
