Aktual.co.id – Orang yang terus-menerus menyela pembicaraan orang lain sering dianggap kasar atau tidak pengertian.
Banyak yang berasumsi perilaku ini kategori kepribadian yang buruk karena mengganggu ketika seseorang sedang menyampaikan pendapat.
Namun tidak sepenuhnya benar jika menyela ketika orang lain berbicara adalah mengganggu aktivitas diskusi yang sedang berlangsung.
Penulis psikologi dan gaya hidup di yourtango NyRee Ausler memberikan alasan kenapa orang menyela pada saat terjadi percakapan bersama.
Takut Lupa
Beberapa orang yang menyela pembicaraan karena takut lupa apa yang ingin dikatakan jika menunggu lawan bicara selesai menyampikan pendapat.
Otak orang seperti ini bergerak sangat cepat, dan ingin mengeluarkan ide-ide sebelum kehabisan. Bagi orang dengan pikiran yang cepat, menyela pembicaraan melindungi dari kehilangan ingatan yang dapat menyebabkan menghilangkan informasi penting.
Orang ini takut jika tidak segera mengungkapkannya. Karena khawatir ide atau wawasan akan hilang, dan tidak mendapatkan kontribusi yang berarti.
Kebiasaan Sejak Kecil
Orang yang menyela pembicaraan berpikir adalah hal wajar. Di masa remaja, orang ini dibesarkan dalam gaya komunikasi yang kompetitif , di mana semua orang saling berbicara dan tidak ada yang menganggapnya sebagai masalah.
Individu ini menganggap bahwa percakapan saling menyela dan berdebat hal yang biasa terjadi di lingkungan keluarga sehingga ketika berhadapan dengan aktifitas sosial dianggap hal wajar.
Kebiasaan berbicara tanpa menunggu orang lain selesai menyampaikan pendapat menjadi perilaku yang menempel pada seseorang jika kebiasaan tersebut ditanamkan sejak kecil.
Kebutuhan Akan Validasi
Terkadang orang yang ingin menjadi pusat perhatian menyela memasukkan diri untuk terlibat dalam pembicaraan tersebut. Orang ini merasa tidak dilihat atau didengar, jadi berbicara di antara yang lain untuk menjadi tokoh utama dalam interaksi.
Karena merasa diabaikan individu ini memiliki keinginan memastikan suaranya diakui. Itulah cara memastikan kehadiran dirinya dengan pola menyela ketika dalam percakapan.
Kecemasan Sosial
Beberapa orang menyela pembicaraan karena cemas duduk dalam keheningan atau merasa tidak yakin dalam proses pembicaraan.
Saat-saat hening orang ini merasa tidak nyaman sehingga mendorong mengisi ruang kosong dengan kata – kata. Kecemasan ini membuat mengabaikan kesopanan dan berbicara tanpa diberi kesempatan.
Bagi orang seperti ini, jeda dalam percakapan dapat memicu rasa tidak nyaman atau tidak aman. Jadi, berbicara dengan cepat untuk mengurangi ketegangan emosional.
Keinginan untuk Pegang Kendali
Kepribadian ini merasa tidak nyaman mendengarkan perspektif yang berbeda dan mencoba mengarahkan atau mengoreksi apa yang dikatakan orang lain.
Gangguan tersebut adalah cara alam bawah sadar menyeimbangkan emosionalnya. Hal ini terutama berlaku untuk diskusi yang panas atau perdebatan yang intens.
Diskusi-diskusi tersebut penuh dengan gangguan karena orang-orang ini ingin menegaskan maksud atau memperbaiki persepsi agar sesuai dengan persepsi dirinya.
Dominasi dan Hak Istimewa
Orang ini merasa paling istimewa serta pendapatkan paling berbobot daripada pendapat orang lain. Dampaknya ketika terlibat dalam diskusi akan mendominasi mengambil peran untuk menjadi sorotan utama dalam forum tersebut.
Kepercayaan yang tertanam dalam diri bahwa masukan seseorang lebih berharga daripada masukan orang lain dapat diperkuat oleh status profesional, peran gender, atau dinamika keluarga, di mana mendengarkan bukanlah suatu keharusan dan ketegasan.
Kurangnya Pengendalian Impuls
Beberapa kondisi, seperti ADHD dan kondisi neurologis lainnya, dapat menyebabkan seseorang kesulitan mengendalikan impulsnya.
Kontrol impuls yang buruk akibat kondisi mental atau pola asuh ketika masih anak – anak dapat menyebabkan menyela pembicaraan.
Karena ada gangguan persoalan psikologi tersebut menyebabkan kesulitan menahan diri ketika terlibat pembicaraan pribadi maupun kelompok.
Menggunakan Ketegasan untuk Menutupi Rasa Tidak Aman
Meskipun menyela pembicaraan tampak bersemangat namun sebenarnya didorong oleh harga diri yang sangat rendah .
Orang yang tidak menyadari harga diri menemukan cara yang tidak sehat untuk membuktikannya dengan memaksakan kehadiran atau mencoba menjadi ahli dalam setiap topik.
Orang ini takut jika tidak memberikan kontribusi apa pun dalam percakapan, akan diabaikan atau dianggap tidak cerdas.
Kurangnya Kesadaran Diri
Orang-orang seperti ini kadang kurang memahami tentang konsekuensi tanggung jawab ketika menyela pada saat orang lain berbicara.
Kurangnya kesadaran diri ini membuatnya tidak menyadari seberapa sering menyela pembicaraan. Jika tidak ada yang bisa memberi kritik tentang caranya terlibat dalam percakapan, orang ini akan terus menginjak kaki orang lain dan tidak pernah berinteraksi saling memberi dan menerima. (ndi)
