Aktual.co.id – Penelitian baru mengungkap hubungan antara perasaan lansia di hari Senin dan tingkat stres biologis pada jangka panjang.
Studi ini menemukan bahwa orang berusia 50 tahun ke atas yang melaporkan merasa cemas di hari Senin memiliki kadar hormon stres yang jauh lebih tinggi dalam tubuhnya hingga 2 bulan.
Efek ini tidak terbatas pada yang masih bekerja, bahwa kecemasan yang berkaitan dengan hari Senin mungkin mengakar dan dapat berkontribusi pada masalah kesehatan jangka panjang, termasuk penyakit kardiovaskular.
Berdasarkan postingan Psypost, studi yang dipimpin oleh Tarani Chandola dari Universitas Hong Kong dan dipublikasikan di Journal of Affective Disorders ini merupakan studi pertama yang menunjukkan pengalaman psikologis kecemasan di hari Senin ini memiliki efek terukur pada sistem pengaturan stres pada tubuh.
Temuan ini memberikan wawasan mengapa serangan jantung dan kardiovaskular lebih sering terjadi pada hari Senin.
Sebuah fenomena yang membingungkan ilmuwan selama beberapa dekade. Tim peneliti berupaya mengeksplorasi mengapa hari Senin berkaitan dengan dampak kesehatan yang lebih buruk.
Studi sebelumnya menunjukkan peningkatan serangan jantung, stroke, dan bunuh diri di awal minggu. Beberapa peneliti berpendapat bahwa transisi dari akhir pekan ke awal minggu memicu stres dan kecemasan, yang membebani sistem tubuh.
Namun, hingga saat ini, hanya ada sedikit bukti yang menghubungkan gagasan ini dengan perubahan biologis hormon stres yang berlangsung lebih lama dari saat itu.
Studi ini menemukan pola yang jelas. Lansia yang melaporkan merasa cemas pada hari Senin memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi dalam sampel rambutnya dibandingkan yang melaporkan merasa cemas pada hari-hari lain dalam seminggu.
Perbedaan ini terlihat pada yang memiliki kadar kortisol tertinggi. Bagi yang berada dalam 10 persen distribusi kortisol teratas, merasa cemas pada hari Senin memiliki kadar hormon sekitar 23 persen lebih tinggi dibandingkan yang cemas pada hari-hari lain.
Menariknya, hubungan antara kecemasan dan kadar kortisol yang lebih tinggi tidak terlihat pada hari lain dalam seminggu.
Orang yang merasa cemas misalnya hari Rabu atau Jumat tidak menunjukkan peningkatan kadar hormon stres yang sama seperti cemas pada hari Senin.
Hal ini menyoroti beban psikologis unik yang tampaknya ditanggung banyak orang pada hari Senin, terlepas dari tanggung jawab mereka sehari-hari.
Merasa cemas di hari Senin berkorelasi respons stres biologis jangka panjang. Kabar baiknya, perasaan cemas tidak berkorelasi dengan respons stres di hari-hari lain dalam seminggu. Hal ini menunjukkan pentingnya akhir pekan untuk istirahat dan pemulihan.
Penelitian ini bersifat observasional, yang berarti tidak dapat membuktikan bahwa perasaan cemas di hari Senin menyebabkan kadar hormon stres yang lebih tinggi.
Data tersebut hanya didasarkan pada satu pengukuran kecemasan dan satu sampel rambut, sehingga perubahan kadar hormon dari waktu ke waktu pada individu yang sama tidak terlacak.
Terdapat juga ketidakpastian mengenai periode waktu pasti yang ditangkap oleh setiap sampel rambut, karena laju pertumbuhan rambut dapat sedikit bervariasi antar individu. (ndi)
