Aktual.co.id – Sebuah laporan awal menggambarkan kebingungan di kokpit sesaat sebelum pesawat jet Air India jatuh dan menewaskan 260 orang bulan lalu.
Setelah sekalar pemutus bahan bakar mesin pesawat aktif hampir bersamaan dan membuat kekurangan bahan bakar.
Pesawat 787 Dreamliner yang menuju kota Ahmedabad di India mulai kehilangan daya dorong dan tenggelam tak lama setelah lepas landas.
Laporan oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara India (AAIB) tentang kecelakaan 12 Juni menimbulkan pertanyaan baru mengenai posisi sakelar pemutus bahan bakar mesin yang penting.
Hampir segera setelah pesawat lepas landas dari tanah, rekaman TV sirkuit tertutup menunjukkan sumber energi cadangan yang disebut turbin udara ram telah dikerahkan, yang menunjukkan hilangnya daya dari mesin.
Seorang pilot terdengar di perekam suara kokpit bertanya kepada pilot lainnya mengapa ia mematikan bahan bakar. “Pilot lainnya menjawab bahwa ia tidak melakukannya,” kata laporan itu.
DIa tidak mengidentifikasi pernyataan mana yang dibuat oleh kapten pesawat dan mana yang dibuat oleh kopilot, ataupun pilot mana yang menyampaikan “Mayday, Mayday, Mayday” sesaat sebelum kecelakaan.
Pilot utama pesawat Air India adalah Sumeet Sabharwal, 56 tahun, yang memiliki total pengalaman terbang 15.638 jam dan, menurut pemerintah India, juga seorang instruktur Air India.
Kopilotnya adalah Clive Kunder, 32 tahun, yang memiliki total pengalaman terbang 3.403 jam. Sakelar bahan bakar hampir secara bersamaan beralih dari posisi “run” ke posisi “cut-off” tepat setelah lepas landas.
Laporan awal tidak menjelaskan bagaimana sakelar tersebut bisa beralih ke posisi “cut-off” selama penerbangan.
Para ahli mengatakan seorang pilot tidak akan mungkin secara tidak sengaja menggerakkan saklar bahan bakar. “Jika mereka dipindahkan karena seorang pilot, mengapa?” tanya pakar keselamatan penerbangan AS Anthony Brickhouse.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa sakelar-sakelar tersebut berputar dengan selisih satu detik, kira-kira sama dengan waktu yang dibutuhkan memindahkan sakelar pertama dan kemudian sakelar kedua, menurut pakar penerbangan AS, John Nance.
Seorang pilot biasanya tidak akan pernah mematikan sakelar selama penerbangan, terutama saat pesawat mulai menanjak. Membalikkan pesawat ke posisi mati otomatis hampir seketika mematikan mesin.
Hal ini paling sering digunakan untuk mematikan mesin setelah pesawat tiba di gerbang bandara dan dalam situasi darurat tertentu, seperti kebakaran mesin. Laporan tersebut tidak menunjukkan adanya keadaan darurat yang mengharuskan mesin dimatikan.
Di lokasi kecelakaan, kedua sakelar bahan bakar ditemukan dalam posisi menyala dan ada indikasi kedua mesin menyala kembali sebelum kecelakaan di ketinggian rendah, kata laporan tersebut, yang dirilis sekitar pukul 01.30 IST pada hari Sabtu (20.00 GMT pada hari Jumat). (ndi)
