Aktual.co.id – Seorang warga negara Vietnam, Quang Do berbagi pengalaman ketika bekerja di GOOGLE Singapura dan kepindaghannya ke Saigon, Vietnam.
Kisahnya ini dibagikan di platform X dengan judul ‘Saya menghabiskan 3 tahun di GOOGLE Singapura, mengunjungi Vietnam setiap bulan untuk urusan pekerjaan. Setiap perjalanan mengungkapkan dua pola pikir yang sangat berbeda tentang hidup, pekerjaan, dan kepuasan.”
Pendirinya berbagi 11 perbedaan budaya utama yang ia temukan antara Singapura dan Vietnam. Menurutnya, di Singapura, segala sesuatunya harus dilakukan dengan akurasi sempurna.
Satu kesalahan ketik atau kesalahan kecil dapat merusak keseluruhan proyek. Sistem ini menuntut presisi 100%. Sementara di Vietnam, semuanya berbeda. Orang-orang menyukai pekerjaan yang cepat, namun tingkat kesempurnaannya hanya sekitar 80%.

Orang Singapura memercayai sistem dan aturan. Mereka percaya bahwa orang asing akan mematuhi hukum dan perjanjian. Di Vietnam, orang-orang memulai dengan hati-hati dan saling mengingatkan untuk berhati-hati.
Di Singapura, harga dan aturan sudah ditetapkan. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Vietnam justru sebaliknya; hampir semuanya terbuka untuk diskusi dan tawar-menawar.
Berjalan-jalan di Vietnam, terlihat jelas bahwa banyak orang sedang berjuang, memulai bisnis baru, berjualan, dan berkreasi.
Di Singapura, gaji yang tinggi membuat lebih sedikit orang yang berani mengambil risiko untuk memulai bisnis sendiri.
Do mengatakan gedung-gedung tinggi dan perusahaan-perusahaan global di Singapura dapat membuat seseorang merasa kecil dan seperti bagian kecil dari sebuah mesin raksasa. Sebaliknya, Vietnam menawarkan rasa kemungkinan.
Komunikasi di Singapura bersifat langsung dan terdokumentasi. Sementara di Vietnam, komunikasinya fleksibel. Singapura menghargai perpaduan multikultural, sementara Vietnam menghargai akar budaya.
Ia menjelaskan bahwa mencoba menjalani sistem Singapura di Vietnam atau sebaliknya bisa melelahkan. Kuncinya adalah belajar beralih di antara dua cara berpikir tersebut.
Beradaptasi dengan setiap pola pikir menggunakan ketepatan saat dibutuhkan dan fleksibilitas saat berfungsi paling baik adalah kunci membangun hubungan yang kuat dan mencapai kesuksesan di kedua dunia. (ndi/Hindustan Times)
