Aktual.co.id – Semua pernah mengalami ketika mendapat perlakuan yang tidak baik meski sudah melakukan hal yang maksimal. Sikap tidak hormat memang menyakitkan, namun bagi orang yang memiliki kecerdasan emosional akan menangani hal tersebut dengan cara yang berbeda.
Menurut penulis kepribadian Lachlan Brown berbagi cara menangani psikologis ketika berhadapan dengan orang yang merendahkan orang lain.
Berhenti Sejenak Sebelum Bereaksi
Sikap tidak hormat secara alami memicu luapan emosi: marah, sakit hati, defensif. Namun, psikologi menunjukkan bahwa bertindak dalam luapan emosi sering kali berujung pada penyesalan. Amigdala, pusat pendeteksi ancaman di otak menjadi aktif sehingga mendorong ke mode lawan atau lari.
Untuk meredamkan, maka berhenti sejenak kemudian bernapas, memberi ruang beberapa menit untuk memberikan kesempatan korteks prefrontal, bagian otak yang rasional mengambil alih. Jeda sebentar ini untuk menciptakan ruang antara stimulus dan respons, memberi kembali kendali atas situasi ini.
Menilai Niat Sebelum Berasumsi Adanya Niat Jahat
Psikologi memiliki istilah kecenderungan berasumsi yang terburuk yakni bias atribusi bermusuhan. Bias ini terjadi ketika meyakini tindakan seseorang didorong oleh niat buruk, meskipun belum tentu demikian.
Orang-orang yang benar-benar pintar menolak bias ini. “Bisa jadi dia lelah sehingga mengucapkan hal tersebut,” ujar dalam benaknya.
Jangan sampai kehilangan ketenangan dengan berasumsi suatu penghinaan itu disengaja. Terkadang masalahnya ada pada orang tersebut.
Menetapkan Batasan dengan Tenang
Jika seseorang terus-menerus tidak menghormati, sebaiknya membiarkan begitu saja. Psikologi menunjukkan bahwa ketegasan adalah jalan tengah antara agresi dan kepasifan.
“Aku akan sangat menghargai jika kamu tidak berbicara seperti itu kepadaku,”
“Saya ingin kita fokus pada solusi daripada serangan pribadi.”
Dengan melakukan ini menunjukkan orang tersebut menghargai diri sendiri. Batasan melindungi harga diri. Ketegasan yang tenang lebih ampuh daripada amarah yang meledak-ledak.
Memilih Pertempuran dengan Bijak
Tidak semua bentuk ketidakhormatan pantas ditanggapi. Psikologi menyebutnya pengabaian strategis adalah pilihan untuk membalasnya dengan perhatian.
Misalnya, jika orang asing memotong jalan lalu melontarkan sindiran kecil, maka biarkan saja tindakan orang tersebut.
Terlibat dalam setiap pertempuran menguras energi emosional dan seolang memberi kekuasaan kepada orang yang tidak pantas mendapatkan penghormatan.
Mengubah Rasa Tidak Hormat Menjadi Praktik Penguasaan Diri
Bagi orang bijak, mendapat ketidakhormatan adalah kesempatan melatih pengendalian diri, ketahanan, dan kerendahan hati.
Ini bukan tentang menyalahkan diri sendiri atas perilaku orang lain, melainkan memilih pertumbuhan daripada kebencian. Setiap hinaan adalah kesempatan memperkuat kekuatan. Orang bijak menggunakan sebagai latihan, bukan siksaan.
Pergi Saat Diperlukan
Terkadang langkah terpintar adalah tidak mengambil langkah sama sekali. Menjauh bukanlah kelemahan melainkan kebijaksanaan. Ketika seseorang berulang kali tidak menghormati, orang-orang bijak tidak membuang waktu untuk mengubah hal yang tak dapat diubah. Mengubah seseorang yang memang keras kepala justru menyia-nyiakan waktu dan energi.
Entah itu mengakhiri pertemanan yang tidak sehat, meninggalkan pekerjaan dengan atasan yang tidak sopan, atau sekadar meminta maaf atas pertengkaran yang tidak produktif, orang bijak mengutamakan harga diri. (ndi)
