Aktual.co.id – Dengan menari khas daerah, warga Kenya dan wisatawan merayakan bulan darah yang tengah terjadi di negara tersebut.
Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar, bayangan yang dihasilkan planet tersebut pada satelitnya membuat berwarna merah tua yang menakutkan, yang membuat manusia takjub selama ribuan tahun.
Fenomena ini terlihat jelas pada Minggu malam di antaranya di sebuah pondok terpencil di daerah Samburu, ratusan mil dari ibu kota Nairobi.
Tempat ini oleh kementerian pariwisata Kenya dan Badan Antariksa Kenya digunakan untuk meluncurkan gerakan untuk mendorong program astrowisata.
Para wisatawan asing berbaur dengan para penari lokal, mengenakan manik-manik berwarna-warni yang fantastis dan kain yang dibentangkan.
Mereka bergantian menatap ke langit melalui teleskop ke arah bulan yang perlahan memerah dan kaleidoskop bintang di sekitarnya.
“Ini pengalaman yang luar biasa,” kata pengunjung Kenya Stella-Maris Miriti seperti dikutip AFP.
“Awalnya saya pikir itu tidak terjadi karena bulannya gelap, tetapi pada pukul 8.30 keajaiban terjadi,” tambahnya.
Operator tur menjelaskan jika telah melakukan perjalanan dari Nairobi menuju tempat terpencil ini untuk melihat “bulan darah”.
Menunggu gilirannya di teleskop, adalah Maggie Debbe yang berusia 26 tahun sembarimengunjungi orang tuanya dari Australia. “Ini luar biasa, saya tidak menyangka bisa seperi ini,” katanya.
Kenya berharap dapat memanfaatkan wisatawan pada moment seperti ini. Negara ini memiliki salah satu tingkat polusi cahaya terendah di dunia, sehingga memungkinkan untuk menikmati fenomena antariksa seperti peristiwa gerhana bulan.
Menurut Wakil Direktur Penelitian dan Inovasi Luar Angkasa Badan Antariksa Kenya Jacques Mataea, wisata astronomi bisa menjadi obyek baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kenya.
“Kita punya keuntungan karena memiliki beberapa langit terindah dan terbersih di dunia,” ujarnya kepada AFP.
Menurutnya wisata tematik astronomi mampu meningkatkan kesadaran tentang manfaat luar angkasa bagi pembangunan sosial ekonomi.
Saat “bulan darah” bersinar di antara bintang-bintang di Kenya, salah satu mantan guru di Belanda bernama Johanns Hertogh-van der Laan sangat setuju Kenya memiliki wisata khusus astronomi yang bisa ditawarkan ke berbagai negara.
“Setelah datang ke Kenya bersama istri saya untuk melihat satwa liar, saat ini terpesona melihat keindahan gerhana bulan merah darah di Kenya,” ungkapnya. (ndi/yahoonews)
