Aktual.co.id – Meski belum bisa menjadi patokan, menurut psikolog Zayda Slabbekoorn, orang yang cerdas dan sadar diri cenderung lebih rendah hati tentang kecerdasannya. Artinya orang ini cenderung meremehkan diri, karena merasa belum tercapapi apa yang direncanakan selama ini.
Orang yang cerdas memiliki sejumlah pengalaman, kebiasaan, dan perilaku penuh tantangan. Banyak di antaranya berkontribusi pada kerendahan hati dalam menilai keterampilan, kehidupan sehari-hari, sehingga membangun harga diri dengan baik.
Memiliki Kesadaran Emosional
Orang yang cerdas secara sadar apa yang tidak diketahui. Orang ini sering merenungkan kelemahan maupun kekuatan yang dimiliki.
Mentalitas selalu bertanya pada diri sendiri menjadi kekuatan untuk pengembangan melalui perenungan yang terus dilakukannya.
Selalu Mencari Kesempatan Belajar
Orang yang tidak kompeten cenderung berfokus mendapat perhatian dari orang lain, sementara orang cerdeas sibuk untuk mengupgrade diri agar terus berkembang.
Mungkin seperti meremehkan kemampuan sendiri sehingga selal meminta mendapatkan perspektif, saran, atau pengetahuan dari orang lain.
Rendah Hati
Kerendahan hati intelektual yang melibatkan pengakuan dan keterbatasan pribadi membuat orang yang cerdas emosional cenderung santun.
Bahkan ketika orang ini berada di sebuah ruangan dapat mendorong untuk menyabotase diri sendiri, membiarkan peluang, pertumbuhan, dan kesuksesan
Cenderung Kurang Percaya Diri
Banyak orang cerdas berjuang dengan rasa percaya diri karena tidak memiliki kesempatan mewujudkan harapan dan tujuan yang tidak realistis yang ditetapkan pada dirinya.
Meskipun telah berhasilpun orang ini selalu dibayangi ketakutan tidak sesuai ekspektasi. Dan dalam dirinya beranggapan orang yang lebih percaya diri lebih kompeten untuk menjalankan sebuah proyek.
Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Menurut studi dari Journal of Economic Behavior & Organization , daya saing bukan hanya sifat yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sangat cerdas, tetapi juga memengaruhi perilaku dan interaksi sosialnya.
Dari mempromosikan standar yang tidak realistis hingga memicu kebencian dalam hubungan dan mendorong keraguan diri
itulah alasan orang cerdas emosional cenderung meremehkan diri sendiri. Orang ini meragukan diri sendiri terhadap keterampilan diri.
Pengkritik Diri yang Keras
Banyak orang yang kritis terhadap diri sendiri takut gagal dan menahan diri memiliki ekspektasi yang tidak realistis.
Orang ini tidak hanya menempatkan diri dalam siklus kekecewaan tetapi juga membandingkan diri dengan orang lain. Sehingga memicu keraguan pada pikiran negatif.
Memiliki Sindrom Penipu Diri Sendiri
Meskipun bukan diagnosis resmi atau penyakit mental, sindrom penipu memiliki pengaruh besar pada orang-orang cerdas.
Keadaan ini mendorong mengalami kecemasan, harga diri yang rendah, dan keraguan diri. Orang-orang yang mengalami sindrom penipu ini tertekan ketika mendapat penghargaan.
Orang ini merasa tidak pantas terhadap prestasi yang diperolehnya. Dalam benaknya masih bayak orang yang layak untuk mendapatkan penghargaan dibanding dirinya.
Takut Salah
Mengingat sering kali dituntut memenuhi standar yang tinggi dan ekspektasi yang tidak realistis. Tidak mengherankan jika orang-orang yang sangat cerdas takut melakukan kesalahan.
Dirinya ditekan untuk membuktikan diri, terkadang sampai pada titik di mana bersikap kritis terhadap diri dan meragukan menghadapi ketidakpastian.
Seperti yang dikemukakan sebuah studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Evolutionary Neuroscience , orang pintar lebih khawatir tentang hal-hal sehari-hari dan mengalami kecemasan tentang keadaan saat ini dan ke depan.
Pemikir yang Kompleks
Orang-orang cerdas, secara alamiah pemikir yang kompleks dan mendalam, cenderung berjuang melawan kecenderungan berpikir berlebihan karena mengetahui nuansa situasi dan pengalaman sehari-hari.
Kecenderungan berpikir mendalam tentang berbagai hal ini memungkinkan orang cerdas berpikiran terbuka, ingin tahu, dan kreatif. Demikian menurut penelitian Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology.
Memiliki Ekspektasi Tidak Realistis
Banyak orang cerdas memiliki standar dan harapan tidak realistis untuk meraih kesuksesan, terutama yang tumbuh dengan pujian atas kecerdasan.
Menurut Harvard Business Review , tekanan mencapai dan mempertahankan sikap perfeksionis dapat merugikan orang-orang cerdas. Artinya mendorong untuk fokus pada standar yang dipersepsikan daripada belajar, tumbuh, dan menerima kesalahan.
Itulah alasan orang pintar meremehkan diri sendiri, karena dipaksa masuk ke dalam siklus perjuangan, kekecewaan, dan kecemasan dalam meraih tujuan. (ndi)
