Aktual.co.id – Gedung putih menuntut penyelidikan atas insiden matinya ekskalator dan prompter saat Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan dan pidato di markas Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) di New York.
“Jika seseorang di PBB dengan sengaja menghentikan eskalator saat Presiden dan Ibu Negara sedang melangkah, mereka harus dipecat dan segera diselidiki,” kata Sekretaris Pers Karoline Leavitt di X.
Diberitakan sebelumnya bahwa saat Presiden AS Donald Trump mengunjungi markas PBB Eskalator di markas besar tersebut tiba-tiba berhenti saat Trump dan Ibu Negara Melania Trump melangkah ke atasnya .Terpaksa keduanya menapakai ekskalator yang mati tersebut dengan jalan kaki.
Bukan itu saja, pada saat Trump menyampaikan pidato tiba-tiba prompter juga mati sehingga pada hari itu ada dua peristiwa yakni ekskalator dan prompter yang mati.
Pada tanggal 21 September 2025, surat kabar Inggris The Times melaporkan bahwa staf PBB sempat melakukan candaan tentang mematikan alat yang ada di PBB.
“Bercanda bahwa mereka mungkin akan mematikan eskalator dan lift dan langsung mengatakan kepadanya bahwa mereka kehabisan uang, jadi dia harus naik tangga,” tulis surat kabar tersebut.
Mendapatkan peristiwa ini PBB mengatakan ada tim dari Trump yang tidak sengaja memencet tombol rahasia yang membuat ekskalator mati mendadak.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan pembacaan unit pemrosesan pusat eskalator menunjukkan eskalator berhenti setelah mekanisme pengaman bawaan pada anak tangga sisir dipicu di bagian atas eskalator.
Ia mengatakan videografer Trump telah berjalan mundur menaiki eskalator untuk mengabadikan kedatangannya bersama Ibu Negara Melania Trump.
“Videografer mungkin secara tidak sengaja mengaktifkan fungsi pengaman. Mekanisme pengaman ini dirancang untuk mencegah orang atau benda secara tidak sengaja tersangkut dan tersangkut atau tertarik ke roda gigi,” kata Duarric.
Meski demikian pihak Gedung putih tetap menuntut adanya penyelidikan terkait kasus matinya ekskalator dan tele prompter pada saat kunjungan Presiden AS Donald Trump di kantor PBB. (ndi)
