Aktual.co.id — Upaya memperkuat pengembangan ekowisata berbasis konservasi kembali digencarkan akademisi. Tim dosen Program Studi Pariwisata Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) melakukan observasi lapangan dan diskusi bersama pemangku kepentingan lokal di kawasan mangrove Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Trenggalek. Kunjungan ini menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mengembangkan destinasi ekowisata berkelanjutan.
Kegiatan tersebut melibatkan lima dosen UPNVJT: Praja Firdaus Nuryananda, Alfiandi Imam Mawardi, Farta Ade Saputra, Farid Asfari Rahman, dan Bergas Anggito Adjie. Selain melakukan asesmen akademis, tim juga membuka peluang kerja sama jangka panjang dalam penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan pariwisata desa.
Setibanya di Wonocoyo, tim langsung meninjau kondisi ekosistem mangrove Kili-Kili. Berdasarkan observasi, tutupan vegetasi mangrove di kawasan tersebut masih terbatas. Berbeda dengan mangrove yang tumbuh alami di pesisir, sebagian besar mangrove Kili-Kili berada di dalam tambak yang lokasinya berdekatan dengan garis pantai.
Jenis mangrove yang mendominasi adalah Rhizophora mucronata. Masyarakat menerapkan teknik pembibitan dengan propagul, yang dinilai lebih adaptif dibandingkan bibit polybag.
Sekretaris Desa Wonocoyo, Eko Margono, membenarkan hal itu. “Tingkat keberhasilan propagul jauh lebih tinggi. Sementara bibit polybag sering tidak kuat ketika dipindah ke tambak,” ujarnya saat mendampingi tim melakukan peninjauan.
Namun pengembangan kawasan ini dihadapkan pada sejumlah kendala. Keterbatasan lahan menjadi hambatan utama karena sebagian besar tambak berstatus milik pribadi (SHM). Desa tidak memiliki kewenangan untuk memperluas area tanam. Selain itu, fasilitas dasar seperti toilet, area parkir, dan sarana kenyamanan wisatawan belum tersedia, sehingga kunjungan wisata masih rendah.
Minimnya fasilitas juga berdampak pada belum optimalnya manfaat ekonomi bagi masyarakat. Padahal, banyak desa lain di Jawa Timur yang telah sukses mengembangkan ekowisata mangrove sebagai sumber pendapatan baru melalui jasa pemandu, kuliner, hingga produk olahan mangrove.

Usai observasi lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) di Balai Desa Wonocoyo. FGD dihadiri Kepala Desa Didik Herkunadi, perangkat desa, Pokmaswas, hingga tokoh masyarakat. Diskusi membahas kondisi kawasan, tantangan pengelolaan, serta peluang kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat.
Koordinator kegiatan, Praja Firdaus Nuryananda, menegaskan komitmen kampus untuk menjadi mitra strategis desa. “Kami hadir bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai pendamping jangka panjang bagi desa dalam mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam paparannya, tim dosen menawarkan sejumlah program kolaboratif, di antaranya pemetaan potensi ekowisata berbasis riset, pelatihan pemandu wisata, penguatan kelembagaan Pokmaswas, serta pelibatan mahasiswa melalui KKN tematik. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab persoalan desa mulai dari kapasitas SDM hingga kebutuhan perencanaan berbasis data.
Sementara itu, Kepala Desa Didik Herkunadi menyambut baik rencana tersebut. Ia berharap pendampingan akademisi dapat membantu desa mengatasi keterbatasan fasilitas dan sumber daya. “Kami ingin mangrove Kili-Kili berkembang menjadi destinasi unggulan desa,” ujarnya.
Perwakilan Pokmaswas juga menyampaikan sejumlah kendala, seperti kekurangan anggaran operasional, kurangnya pelatihan konservasi, serta minimnya publikasi mengenai kawasan. Mereka berharap kawasan ini dapat dikembangkan sebagai laboratorium alam bagi pelajar dan mahasiswa.
Kolaborasi UPN Veteran Jatim dan Desa Wonocoyo diharapkan menjadi momentum mempercepat pembangunan ekowisata mangrove secara terstruktur. Selain pengembangan fisik destinasi, pendampingan juga menyasar peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan observasi dan diskusi tersebut menjadi langkah awal bagi transformasi kawasan mangrove Kili-Kili. Dengan dukungan pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi, kawasan ini dinilai memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata edukatif yang mengedepankan nilai konservasi dan pengalaman otentik.
(Penulis: Praja Firdaus Nuryananda, Farta Ade Saputra, Farid Asfari Rahman, Bergas Anggito Adjie, Alfiandi Imam Mawardi)
