• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Depresiasi Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Depresiasi Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham

Redaktur III Rabu, 14 Januari 2026
Share
8 Min Read
ILustrasi pasar saham/ Foto: freepik
ILustrasi pasar saham/ Foto: freepik

Fenomena all-time high (ATH) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan depresiasi nilai tukar rupiah per dollar Amerika Serikat (AS) menarik untuk dianalisis.

Di mana, IHSG beberapa kali mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak 15 Agustus 2025 menjadi 8.017 dan pada saat yang sama, nilai tukar rupiah per dollar AS terdeprsiasi hingga awal tahun 2026.

Nilai tukar rupiah per dollar AS pada 14 Agustus 2025 tercatat sangat kuat, yaitu sebesar Rp. 16.170 per dollar AS lalu melemah menjadi Rp.16.770,7 pada 25 September 2025 (Trading Economics, 2026).

Tren pelemahan rupiah per dollar AS dan penguatan IHSG berlanjut hingga Selasa, 13 Januari 2026. Di mana, kurs rupiah per dollar AS menyentuh titik terendah sejak 8 April 2025, yaitu sekitar Rp.16.875 per dollar AS.

Sebaliknya, IHSG mengalami tren penguatan, yaitu dari level terendah sebesar 5.675 pada 8 April 2025 dan tertinggi sebesar 8.954 pada 8 Januari 2026.

Fenomena ini melahirkan pertanyaan, mengapa nilai tukar rupiah per dollar AS melemah pada saat IHSG menguat?

Dalam beberapa kasus keduanya memiliki pergerakan yang searah. Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh otoritas moneter dan fiskal untuk membalikkan arah pelemahan rupiah?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya merujuk pada ekonom senior Jeffrey A. Frankel dari Kennedy School of Government, Harvard University yang memperkenalkan komsep “portofolio balance approach models”.

Pendekatan Frankel menyebutkan bahwa pada saat terjadi tekanan, investor global akan melakukan rebalancing atau rekalkulasi kepemilikan asset keuangannya dan cenderung lebih memilih asset keuangan yang menawarkan tingkat pengembalian tertinggi. Setiap asset dinyatakan dalam mata uang lokal.

Baca Juga:  Awas, Bau Mulut Menjadi Pertanda Ada Gangguan Paru-Paru

Di mana, investor global dianggap memiliki perilaku home country bias (mendahulukan asset keuangan negaranya sendiri).

Lebih jauh, asset keuangan domestik dan luar negeri tidak bersubtitusi secara sempurna (imperfect substitute).

Dalam regim nilai tukar mengambang bebas, kenaikan harga asset di suatu negara, misalnya IHSG akan mendorong investor global membeli saham di negara bersangkutan.

Hal di atas mendorong aliran modal masuk ke suatu negara (capital inflow) yang menyebabkan mata uang negara bersangkutan terapresiasi (menguat).

Sebaliknya, pada saat harga asset keuangan turun membuat investor global mengalihkan investasinya ke negara lain. Terjadi aliran modal keluar (capital outflow) yang menyebabkan mata uang negara bersangkutan terdepresiasi (melemah).

Secara faktual, perkembangan harga saham tidak harus selalu searah dengan perkembangan nilai tukar rupiah per dollar AS. Hal ini berkaitan dengan peran investor asing di pasar modal Indonesia yang cenderung mengalami penurunan.

Saat ini, investor asing hanya menguasai sekitar 40 – 43,6 persen dari total kepemilikan saham pada tahun 2025, turun dari 46,5 persen pada tahun 2024.

Di mana, perilaku investor asing pada umumnya cenderung hanya membeli saham blue–chip yang berkapitalisasi besar, seperti Bank BRI, BNI, Bank BCA, Bank Mandiri dan lainnya.

Sebagai ilustrasi, pada periode Juli – September 2025, IHSG menguat sebesar 16,4 persen dari posisi 6.923 menjadi 8.061.

Menariknya, pada periode yang sama, saham-saham blue–chip yang berkapitalisasi besar justru mengalami penurunan.

Sebaliknya, saham-saham non blue–chip yang berkapitalisasi kecil justru mengalami kenaikan harga dan aktif ditransaksikan di pasar saham. Hal ini melahirkan isu keberadaan “saham gorengan” oleh investor lokal yang mendongkrak IHSG.

Baca Juga:  Pelatihan Public Speaking Bekali Siswa MTs Nurul Huda Lebih Percaya Diri di Era Digital

Faktanya, terdapat tiga saham berkapitalisasi kecil yang aktif ditransaksikan di pasar saham Indonesia sehingga harganya meningkat, yaitu PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Di mana, tanpa memperhitungkan harga saham ketiga perusahaan tersebut di atas dalam menghitung IHSG maka sejatinya IHSG hanya sekitar 7.340 bukan 8.116,2 (Kompas, 23/11/2025).

Sementara, tren depresiasi rupiah per dollar AS terjadi sejak tahun lalu dan secara khusus dalam beberapa hari terakhir, yaitu dari Rp. 16.685 per dollar AS pada 2 Januari 2026 menjadi Rp. 16.840 per dollar AS pada 9 Januari 2026.

Bahkan, depresiasi rupiah per dollar AS saat ini cenderung menuju ke posisi terlemah rupiah per dollar AS dalam setahun terkahir, sebesar Rp. 17.071 pada 8 April 2025.

Depresiasi rupiah disebabkan oleh sentimen negatif terhadap mata uang rupiah sebagai respon investor global terhadap meningkatnya risiko perekonomian global akibat penangkapan presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS pada 3 Januari 2026.

Di mana, pada saat terjadi turbulensi dalam perekonomian global, investor global beralih memegang safe-haven currency atau safe-haven asset, yaitu asset yang nilainya stabil dan bahkan meningkat meskipun terjadi tekanan. Salah satu mata uang yang selama ini dianggap sebagai safe-haven currency adalah dollar AS.

Peralihan ke safe-haven currency oleh investor global tercermin pada peningkatan US Dollar Index (DXY) dari 98,42 pada 2 Januari 2026 menjadi 99,12 pada 9 Januari 2026.

Peningkatan DXY mencerminkan penguatan mata uang dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia, yaitu Euro, Yen Jepang, Poundsterling Inggris, Dollar Kanada, Krona Swedia dan Swiss Franc.

Baca Juga:  UPN Veteran Jatim Perkuat Kerja Sama Internasional Lewat Webinar Wellness Tourism Berbasis Riset Ekonomi

Penguatan mata uang dollar AS terhadap mata uang utama dunia juga berdampak pada penguatan mata uang Dollar AS terhadap mata uang Emerging Market Economies (EMEs), termasuk Indonesia. Di mana, investor mengalihkan kepemilikan assetnya dari rupiah ke dollar AS.

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas fiskal dan moneter?” Langkah pertama, otoritas moneter dan fiskal harus bisa meyakinkan pelaku pasar bahwa prospek perekonomian nasional sangat baik.

Hal ini tercermin pada kondisi fundamental rupiah, seperti pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2025 yang diperkirakan sekitar 5,45 persen, perkiraan inflasi yang rendah sekitar 2,92 persen pada tahun 2025 secara tahunan (year-on-year), suku bunga riil yang tinggi tercermin pada policy rate dalam hal ini BI rate yang masih jauh di atas inflasi, dan lainnya.

Langkah kedua, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal harus lebih baik sehingga memberikan keyakinan kepada investor bahwa arah perekonomian nasional masih sesuai dengan target pemerintah, terutama berkaitan dengan angka defisit fiskal yang sudah mendekati batas atas sesuai ketentuan konstitusi sebesar 3,0 persen.

Akhirnya, pemerintah perlu meyakinkan para investor bahwa meskipun difist fiskal meningkat tetapi tidak mengurangi kemampuan pemerintah membayar cicilan utang dan bunganya yang tercermin pada Debt Service Ratio (DSR) yang berada di sekitar batas aman 30 persen dan menjaga BI rate tetap menarik bagi investor untuk menjamin stabilitas rupiah per dollar AS.

Muhammad Syarkawi Rauf/ Foto: Ist
Muhammad Syarkawi Rauf/ Foto: Ist

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf

(Dosen FEB Unhas dan Chairman ASEAN Competition Institute – ACI)

SHARE
Tag :Fenomena all-time highIHSGTren Rupiah
Ad imageAd image

Berita Aktual

Rekaman CCTV yang dirilis Kementerian Media Arab Saudi menunjukkan penumpang di Bandara King Khalid di Riyadh saat serangan terjadi/ Foto: Kementerian Media Saudi
Arab Saudi Menangguhkan Penerbangan Setelah Serangan Houthi di Bandara.
Senin, 12 Oktober 2026
Asap dan kobaran api membubung dari Bandara King Khalid setelah pemberontak Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan di bandara di Riyadh, Arab Saudi, pada 8 Oktober/ Foto: vietnam
Tiga Negara Mengeluarkan Bersama Mengutuk Serangan Houthi
Senin, 12 Oktober 2026
Para pejuang Houthi di Sanaa, Yaman/ Foto: AFP
Arab Saudi Menyatakan Tidak Menyetujui Gencatan Senjata dengan Pasukan Houthi
Jumat, 9 Oktober 2026
Penampakan erupsi Gunung Anak Krakatau/ Foto: ANTARA
Gunung Anak Krakatau Erupsi Meluncurkan Abu Setinggi 250 Meter
Jumat, 9 Oktober 2026
Febria Ardiansyah/ Foto: ANTARA
JPU Mendakwa Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Melakukan Pemerasan
Rabu, 7 Oktober 2026

Mental Health

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Tiga Negara Mengeluarkan Bersama Mengutuk Serangan Houthi

Arab Saudi Menangguhkan Penerbangan Setelah Serangan Houthi di Bandara.

More News

Zahrotul munawwaroh saat menyampaikan materinya/dok.aktual.co.id

Kuatkan Ekonomi Digital, UPN Veteran Jatim Gelar Workshop Digital Marketing dan Affiliate Marketing

Rabu, 29 Oktober 2025
Ilustrasi pertobatan/dok.aktual.co.id

Refleksi Sebuah Fenomen: Perlukah Pertobatan Nasional?

Rabu, 29 April 2026
Workshop bertajuk “Belajar Figma: Design Web Menjadi Menarik” di SMK Pawiyatan Surabaya/dok.aktual.co.id

Implementasi Nilai Pancasila, Mahasiswa UPNVJT Gelar Workshop “Belajar Figma”

Rabu, 19 November 2025
Dugaan ijazah palsu Jokowi/ Foto : istimewa

Jika Memang Ijazah Jokowi Palsu!

Selasa, 8 April 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id