Aktual.co.id – Di tengah pusaran isu pembangunan ekonomi nasional, satu faktor sering luput dari sorotan: kultur kebersihan dan kerapian. Padahal, dari sisi ilmiah maupun rasional, budaya ini memegang peran krusial dalam menciptakan ekosistem produktif, sehat, dan kompetitif.
Kini, sudah waktunya pemerintah dan masyarakat menempatkan kebersihan dan kerapian sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional, bukan sekadar urusan etika sosial atau estetika ruang publik.
Secara ilmiah, lingkungan yang bersih dan rapi memiliki korelasi positif dengan kesehatan masyarakat. Studi WHO dan World Bank menyebutkan bahwa negara-negara dengan sistem sanitasi dan kebersihan yang baik mampu menekan angka penyakit menular hingga 60%, mengurangi beban biaya kesehatan hingga miliaran dolar setiap tahunnya.
Dalam konteks Indonesia, penguatan budaya bersih dapat menjadi solusi strategis mengurangi tekanan pada sistem kesehatan nasional dan mengalihkan anggaran ke sektor-sektor produktif lainnya.
Lebih jauh, produktifitas individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Riset dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang bersih dan terorganisir meningkatkan konsentrasi karyawan sebesar 25% dan mempercepat penyelesaian tugas harian.
Dengan kata lain, kebersihan bukan hanya soal kenyamanan, melainkan alat peningkat efisiensi kerja. Di skala nasional, dampaknya terasa dalam bentuk peningkatan output industri dan efisiensi sektor jasa.
Secara rasional, kota-kota yang bersih dan tertata cenderung lebih menarik bagi wisatawan dan investor asing. Singapura menjadi bukti konkret bagaimana pendekatan disiplin terhadap kebersihan tidak hanya membentuk karakter warga, tapi juga menjadi nilai jual ekonomi. Kota yang bersih meningkatkan indeks kepercayaan investor, mempercepat perizinan usaha, dan membangun reputasi global sebagai destinasi bisnis. Jika Indonesia ingin mendorong pertumbuhan melalui sektor pariwisata dan investasi, maka mengabaikan kebersihan sama artinya dengan melepaskan peluang.
Dalam konteks UMKM dan sektor informal, kebersihan lapak, etalase, hingga lingkungan pasar berdampak langsung terhadap keputusan pembelian konsumen. Konsumen masa kini semakin sadar akan standar higienitas, terutama pasca-pandemi COVID-19. Pelaku usaha yang memprioritaskan kerapian dan kebersihan lebih dipercaya, lebih laris, dan lebih cepat tumbuh. Ini memperlihatkan bahwa budaya bersih secara langsung meningkatkan daya saing sektor riil.
Tak hanya itu, kultur kebersihan juga membentuk karakter bangsa yang tangguh dan disiplin. Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan bersih akan memiliki mental tertib, teratur, dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Ini adalah modal jangka panjang yang tak ternilai bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Tanpa mentalitas yang bersih, jangan harap produktifitas dan inovasi dapat lahir secara konsisten.
Pertanyaannya, mengapa budaya ini belum menjadi prioritas nasional?
Jawabannya bukan karena masyarakat tidak mampu, melainkan karena kebersihan belum diposisikan sebagai investasi ekonomi. Padahal, jika dirancang secara sistemik melalui kebijakan tata ruang, kurikulum pendidikan, insentif usaha bersih, hingga regulasi sanitasi publik maka dampaknya akan terasa langsung dalam bentuk kenaikan indeks kualitas hidup, efisiensi anggaran, dan percepatan pertumbuhan ekonomi.
Kesadaran kolektif tentang pentingnya kebersihan harus dibangun sebagai gerakan nasional. Pemerintah daerah harus mulai melihat pengelolaan sampah, fasilitas toilet publik, dan pemeliharaan taman kota bukan sebagai beban anggaran, tapi sebagai motor pertumbuhan ekonomi lokal. Dunia usaha juga harus menjadikan kebersihan sebagai bagian dari standar mutu dan nilai jual perusahaan.
Di sisi lain, perubahan pola pikir masyarakat adalah kunci utama. Sudah saatnya kita berhenti memandang kebersihan sebagai tanggung jawab petugas kebersihan semata. Ini adalah tanggung jawab bersama. Karena sejatinya, bangsa yang bersih bukan hanya bangsa yang sehat, tapi juga bangsa yang maju, berdaya saing, dan sejahtera.
(Penulis: Samas Adimisa Mishbah Habibie/Dosen Program Studi Akuntansi UPN Veteran Jawa Timur)
