Aktual.co.id – Paus Leo XIV mengatakan bahwa dirinya tidak berdebat dengan presiden AS, Donald Trump tentang perang Iran.
“Hal ini saya sampaikan untuk memberitakan pesan Injil tentang perdamaian,” katanya ketika berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepausan yang terbang dari Kamerun ke Angola sebagai bagian dari kunjungannya selama 11 hari ke Afrika, Sabtu (18/4).
Ia membahas saling balas kritik Trump terhadap pesan perdamaiannya yang mendominasi berita utama di berbagai media.
Namun, Paus Amerika itu berupaya meluruskan keadaan dengan menegaskan bahwa khotbahnya tidak ditujukan kepada Trump, melainkan mencerminkan pesan Injil yang lebih luas tentang perdamaian.
“Ada narasi yang tidak akurat dalam semua aspeknya, tetapi karena situasi politik yang tercipta ketika, pada hari pertama perjalanan, presiden Amerika Serikat memberikan beberapa komentar tentang saya,” katanya seperti dikutip kantor berita resmi Vatikan .
“Sebagian besar dari apa yang telah ditulis sejak saat itu lebih merupakan komentar atas komentar, mencoba menafsirkan apa yang telah dikatakan,” tambah Paus.
Trump melancarkan kritik di platform media sosialnya ketika ia mengkritik khotbah Leo tentang perdamaian yang dianggapnya kritik terhadap serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Trump menuduh Leo lemah dalam menangani kejahatan. Kemudian, presiden melakukan serangan terhadap pemimpin Katolik dengan mengatakan Paus membuat pernyataan tentang Paus yang cenderung berpihak pada Iran.
Padahal, Paus sebenarnya berbicara menentang apa yang disebutnya sebagai kengerian mendalam yang ditimbulkan oleh senjata nuklir.
Leo secara konsisten menyerukan perdamaian dan dialog, serta mengecam penggunaan pembenaran agama untuk perang.
Secara khusus, ia menyebut ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban Iran dianggap tidak dapat diterima.
Vatikan menekankan bahwa ketika Leo berkhotbah tentang perdamaian, ia merujuk pada semua perang yang melanda planet ini, bukan hanya konflik Iran. Gereja Ortodoks Rusia, misalnya, telah membenarkan invasi Moskow ke Ukraina sebagai perang suci. (ndi/the guardian)
