Aktual.co.id – Amerika Serikat mengumumkan melakukan serangan yang disebut sebagai operasi membela diri terhadap target-target militer Iran setelah jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS pada Senin (9/6).
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataannya pada Selasa (10/6) mengatakan bahwa pasukan AS menyerang sistem pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan lokasi radar pengawasan di dekat Selat Hormuz menggunakan amunisi presisi yang diluncurkan dari jet tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS.
CENTCOM menyebut operasi tersebut dimulai pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS pada Selasa. “Operasi ini respons terhadap serangan-serangan terhadap pasukan AS dan kapal-kapal komersial internasional yang melintasi perairan kawasan,” demikian pernyataan CENTCOM.
Dikutip dari Anadolu, CENTCOM menambahkan bahwa pasukan AS tetap dalam kondisi siaga untuk mempertahankan diri dari apa yang disebut sebagai agresi Iran yang tidak beralasan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington perlu merespons dugaan serangan Iran yang menyebabkan jatuhnya helikopter militer AS.
“Saya baru saja diberi tahu oleh militer bahwa tadi malam Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache yang sangat canggih saat melakukan patroli di atas Selat Hormuz,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.
Trump mengatakan kedua pilot berhasil diselamatkan dan tidak mengalami cedera, namun menegaskan bahwa Amerika Serikat harus merespons serangan ini.
Menurut Trump, serangan yang dilancarkan AS merupakan respons yang sangat kuat terhadap Iran. “Saya pikir sangat penting untuk merespons. Mereka menembak jatuh helikopter, dan kami sedang merespons saat ini juga,” kata Trump kepada jurnalis ABC News Jonathan Karl.
“Ini adalah respons terhadap apa yang mereka lakukan terhadap helikopter kami tadi malam, dan saya percaya responsnya harus sangat kuat, sangat besar, dan itulah yang sedang dilakukan saat ini,” ujarnya.
Situs berita Axios, mengutip seorang pejabat senior AS, melaporkan bahwa militer AS menyerang sejumlah baterai pertahanan udara dan sistem radar Iran di sekitar Selat Hormuz.
Axios melaporkan bahwa gelombang kedua dan ketiga serangan terhadap Iran berlangsung dengan sasaran sistem pertahanan udara dan radar.
Sementara itu, Politico melaporkan, mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih, bahwa Trump masih meyakini peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran tetap terbuka meskipun terjadi aksi saling serang.
“Tidak ada yang berubah terkait posisi kesepakatan saat ini,” kata pejabat tersebut. Ketua DPR AS Mike Johnson menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang “proporsional dan terbatas.”
“Gedung Putih dan Pentagon telah menyatakan bahwa ini dilakukan untuk menghadapi agresi Iran yang tidak beralasan. Mereka memberi tahu saya sebelum operasi dimulai, dan serangan itu ditujukan pada lokasi radar, rudal, serta pusat komando dan kendali, serta bersifat defensif,” kata Johnson dalam konferensi pers.
Johnson mengatakan dirinya berada di Gedung Putih bersama Trump, Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan sejumlah pejabat lainnya sebelum operasi dilakukan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Amerika Serikat telah memilih untuk menguji tekad Teheran.
“Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa balasan. Tinggalkan kawasan kami jika Anda ingin aman,” tulis Araghchi di platform X. (ndi/Anadolu)