Aktual.co.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan, kasus penyekapan dan penganiayaan wanita di tempat kos-kosan di Kabupaten Bandung dampak dari lingkungan masyarakatnya abai, sehingga tidak terdeteksi secara dini.
“Akan peka ketika viral, itu cermin lingkungan abai terhadap peristiwa,” kata Gubernur saat kunjungan kerjanya di Alun-alun Garut, Rabu dikutip ANTARA.
Pernyataan Gubernur Jabar menanggapi peristiwa keji kasus penyekapan dan penganiayaan dengan terduga seorang pria Taufik Hidayat (30) terhadap wanita berinisial YTR (29) di Kabupaten Bandung yang menyebabkan kondisi korban memprihatinkan.
Disampaikan agar masyarakat harus selalu peka terhadap kondisi di lingkungan sekitarnya dengan menanyakan identitas setiap warga baru di lingkungannya.
Tujuannya untuk mengetahui warga tersebut pasangan suami istri atau bukan, dan tidak membiarkan setiap pasangan berada di tempat kos tanpa menunjukkan surat nikah.
Ia mengatakan sistem lingkungan yang baik yakni menerapkan wajib lapor 1×24 jam, dan kasus yang saat ini terjadi tidak menjalankannya untuk memberitahukan kepada pengurus RT/RW setempat.
Menurut dia perkembangan teknologi saat ini cukup mudah mencatat identitas kemudian melaporkan setiap warga baru dengan cukup memotret wajahnya kemudian memasukkan ke data penduduk sementara.
“Harusnya itu (pelaku dan korban) terdata, yang datang difoto wajahnya, setelah itu masukin dalam data penduduk sementara,” katanya.
Diharapkan orang tua harus lebih aktif mengawasi anak-anak terutama anak perempuan untuk memastikan pergi ke mana dan dengan siapa, sehingga bisa terdeteksi keberadaannya.
Gubernur mempertanyakan terkait sistem pengamanan dan perizinan tempat usaha kos-kosan, karena selama ini diketahui tidak terdaftar oleh pemerintah daerah, kecuali yang tujuannya pungutan pajak.
Ditegaskan seluruh rumah yang dikontrakkan atau disewakan harus terdaftar sebagai unit usaha yang dapat dilakukan secara daring. (ANTARA)
