Aktual.co.id – Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghantam Iran dua puluh kali lebih keras jika negara itu menghentikan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Hal ini disampaikan oleh Trump beberapa jam setelah mengatakan perang bisa berakhir segera
Kerumunan besar telah berkumpul di seluruh Iran untuk mendukung Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, karena Teheran mengatakan bahwa merekalah, bukan AS, yang akan menentukan akhir dari konflik tersebut.
Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi. Setidaknya dua orang tewas di Israel.
Israel dan Hizbullah saling baku tembak saat jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon melampaui 486 orang.
Sebelumnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (9/3) mengatakan bahwa perang dengan Iran yang hingga kini masih berlangsung diperkirakan akan “segera berakhir”, tetapi membantah berakhir pekan ini.
“Kami menang telak. Kami jauh lebih cepat dari jadwal,” klaim Trump, yang awalnya memperkirakan konflik tersebut dapat berlangsung selama 4-5 pekan, dalam suatu taklimat media di Florida.
Pernyataan Trump muncul setelah Iran memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru mereka setelah sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, gugur dalam gelombang pertama serangan gabungan AS-Israel.
Mojtaba Khamenei dikenal karena kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Naiknya Mojtaba ke tampuk kekuasaan menimbulkan kekhawatiran di sebagian besar negara bahwa perang, yang memasuki pekan kedua, dapat semakin menggoyahkan kawasan Timur Tengah dan langsung berdampak pada ekonomi global.
Kendati bersikeras bahwa AS telah mencapai keberhasilan militer yang “belum pernah terjadi sebelumnya”, Trump mengaku kecewa dengan terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran. “Kami pikir ini hanya akan menyebabkan masalah yang sama untuk negara ini,” katanya. (ndi/aljazeera)
