• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Berikut Alasan Rindu Sulit Terobat Akibat Luka Dikecewakan
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Berikut Alasan Rindu Sulit Terobat Akibat Luka Dikecewakan

Redaktur III Jumat, 13 Maret 2026
Share
6 Min Read
ilustrasi depresi dengan ponsel/ Foto: freepik
ilustrasi depresi dengan ponsel/ Foto: freepik

Aktual.co.id – Ada paradoks yang sulit diterima: otak manusia kadang lebih setia pada rasa sakit daripada pada kenyamanan.

Semua orang bisa ditinggalkan, disakiti, bahkan dikhianati, tapi anehnya sosok itulah yang kerap muncul dalam rindu. Fakta menariknya, studi neurosains menunjukkan kehilangan orang yang pernah dekat bisa mengaktifkan area otak yang sama dengan kecanduan narkoba.

Itu sebabnya, rindu kadang bukan tanda cinta murni, melainkan gejala ikatan emosional yang belum selesai. Seseorang yang disakiti pasangannya tetap memeriksa pesan lama, mendengarkan lagu kenangan, atau membandingkan pasangan baru dengan yang lama.

Rasanya irasional, tapi sangat manusiawi. Untuk memahami fenomena ini, perlu membedah lapisan psikologis yang membuat rindu sering melekat pada sosok yang justru pernah melukai.

Otak Lebih Ingat pada Emosi Kuat

Kenangan yang melekat kuat biasanya bukan yang netral, tapi penuh emosi, baik positif maupun negatif. Saat seseorang melukai maka perasaan itu menciptakan jejak mendalam di otak.

Itulah sebabnya bisa lupa detail keseharian, tapi sulit melupakan momen emosional tertentu. Contoh sederhana, seseorang lebih mudah mengingat pertengkaran besar dengan pasangannya daripada ratusan percakapan biasa.

Rasa sakit meninggalkan bekas tajam yang sulit terhapus. Dari sinilah muncul ilusi merindukan orang yang telah menyakiti tersebut, padahal yang dirindukan adalah intensitas emosinya.

Baca Juga:  Perilaku Ketika Memasuki Pensiun

Rindu Sering Menyamar Jadi Nostalgia

Saat rindu muncul, otak jarang menampilkan ingatan secara utuh. Ia memilih potongan terbaik, menyensor sisi gelap, dan mengemasnya dalam nostalgia.

Akibatnya, seolah hanya mengingat senyumnya, bukan kata-kata tajamnya. Hanya mengingat pelukannya, bukan pengkhianatannya.

Contohnya, seseorang bisa merindukan liburan bersama mantan, tanpa mengingat pertengkaran sengit yang justru terjadi di hari terakhir perjalanan.

Rindu menjadi selektif, lalu menipu seolah semua kenangan manis. Di titik ini, kesadaran menjadi kunci. Karena rindu bukan selalu tentang orangnya, melainkan tentang ilusi yang dibentuk otak.

Luka Membuat Ikatan Lebih Kompleks

Hubungan yang menyakitkan sering melibatkan dinamika tarik-ulur. Justru pola naik-turun inilah yang membuat ikatan semakin kuat, mirip efek intermittent reinforcement dalam psikologi perilaku.

Seperti seseorang yang kecanduan judi, karena sesekali menang, ia bertahan meski sering kalah. Dalam konteks hubungan, ketika seseorang kadang diperlakukan baik lalu tiba-tiba disakiti, otak semakin bingung sekaligus semakin terikat.

Ketidakpastian memperkuat ikatan emosional, itulah rindu bisa terasa begitu membingungkan. Ia lahir bukan dari kestabilan, tapi dari kontradiksi yang sulit dicerna.

Rasa Sakit Bisa Jadi Identitas Baru

Bagi sebagian orang, luka yang dialami menjadi bagian dari identitas diri. “Aku pernah dilukai, aku pernah bertahan.”

Cerita itu melekat dalam hingga sulit dibayangkan hidup tanpa sosok yang menjadi tokoh antagonis dalam kisah tersebut.

Baca Juga:  Cara Orang Cerdas Menghadapi Pertemuan dengan Kerabat yang Beracun

Misalnya, seseorang yang sering bercerita kepada temannya tentang betapa ia disakiti pasangan, lama-lama menjadikan cerita itu bagian dari dirinya.

Saat sosok itu pergi, yang hilang bukan hanya orangnya, tapi juga identitas yang sudah dibangun di atas luka. Maka rindu yang muncul bukan sekadar kerinduan pada individu, melainkan pada bagian diri yang sudah lama terbentuk.

Ada Ilusi Bahwa Luka Bisa Disembuhkan Jika Bersatu Lagi

Banyak orang merindukan pelaku luka karena di dalam dirinya ada harapan tersembunyi. Harapan tersebut adalah jika bersatu lagi, luka itu mungkin bisa sembuh.

Pikiran ini menipu, seolah kembali pada sumber sakit, bisa menemukan obatnya. Contoh nyata, seseorang yang berkali-kali kembali pada pasangan yang toksik dengan alasan “kali ini pasti berbeda.”

Padahal, yang berbeda hanyalah harapan, bukan pola hubungan. Rindu dalam kasus ini lebih mirip harapan yang belum mau mati.

Perlu dibedakan antara rindu yang sehat dan rindu yang berasal dari ilusi perbaikan. Jika tidak, rindu akan terus menjadi lingkaran yang tak berujung.

Otak Lebih Mudah Merindukan Ketidakpastian daripada Kepastian

Ironisnya, hubungan yang penuh ketidakpastian justru sering lebih dirindukan. Ada sensasi adrenalin, rasa penasaran, bahkan tantangan yang membuat otak tetap aktif.

Baca Juga:  Cara Mengelola Emosi dan Ketegasan Bagi Orang Bijaksana

Dalam hubungan yang stabil dan aman, rasa ini sering berkurang. Seseorang yang terbiasa dengan pasangan penuh drama bisa merasa hampa saat bersama pasangan baru yang penuh kepastian.

Dari sini muncul rindu pada sosok lama, bukan karena cintanya lebih besar, tapi karena otak kecanduan pada sensasi ketidakpastian.

Sebab ternyata yang dirindukan bukan orangnya, melainkan dinamika kacau yang pernah menyalakan adrenalin.

Rindu Adalah Cermin Kebutuhan yang Belum Terpenuhi

Pada akhirnya, rindu sering kali bukan tentang orang tertentu, tapi tentang kebutuhan yang belum terjawab. Bisa jadi kebutuhan akan validasi, kasih sayang, atau sekadar didengar.

Orang yang pernah melukai mungkin sempat memenuhi kebutuhan itu, meski cara yang tidak konsisten. Contoh, seseorang bisa merindukan pasangan toksik karena dalam momen tertentu, pasangannya adalah satu-satunya yang membuatnya merasa berharga.

Luka yang datang setelahnya tidak serta merta menghapus kebutuhan yang sudah pernah dipenuhi. Dengan memahami hal ini, rindu berubah fungsi.

Ia tidak lagi sekadar tarikan emosional pada seseorang, melainkan penunjuk jalan tentang kebutuhan diri yang harus dicari dengan cara lebih sehat.

Pada akhirnya, merindukan orang yang melukai adalah fenomena manusiawi yang sarat kompleksitas. Tapi menyadari lapisan-lapisan psikologisnya memberi kesempatan mengubah arah.

SHARE
Tag :Gangguan CemasMental healthpsikologi

Berita Aktual

Kantor BNPB/ Foto: Ist
KPK Menggeledah Ruang Kepala BNPB Terkait Dugaan Korupsi Dana Siap Pakai
Jumat, 16 Oktober 2026
Lokasi gempa bumi di Kota Bogor/ Foto: BMKG
Gempa Bumi 4,1 Mag Terjadi di Barat Daya Kota Bogor Jawa Barat
Kamis, 15 Oktober 2026
Doddy Katamsi/ Foto: Ist
Vokalis Elpamas Doddy Katamsi Meninggal Dunia
Kamis, 15 Oktober 2026
Jenderal TNI Maruli Simanjuntak/ Foto: youtube setpres
Jenderal TNI Maruli Simanjuntak Menjabat Wakil Panglima TNI dan Kepala BNPPDT
Kamis, 15 Oktober 2026
Ahmad Hidayat/ Foto: dok AHa
Ahmad Hidayat Gabung PSI Sesuai Semangat Soekarnoisme dan Marhaenisme
Kamis, 15 Oktober 2026

Mental Health

Mencuci tangan/ Foto: freepik

Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ilustrasi kebosanan/ Foto: freepik

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

KPK Menahan Lima Orang Tersangka Hasil OTT di Lingkungan BNPB

Dampak Polusi Udara Karhutla Terhadap Kesehatan Respirasi

Bahlil: Kendaraan Antrian BBM Diduga Karena Isu Distribusi di Bali

Ahmad Hidayat Gabung PSI Sesuai Semangat Soekarnoisme dan Marhaenisme

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

More News

Ilustrasi orang dengan ketenagan diri/ Foto: freepik

Tips Agar Tidak Diremehkan oleh Orang Lain

Sabtu, 14 Maret 2026
Akan ada pembeda orang yang hidup dalam kejujuran dengan kepura-puraan / Foto : Freepik

Perbedaan Orang Jujur dengan Orang yang Berpura – pura

Kamis, 17 April 2025
Depresi bisa karena tuntutan pada diri sendiri yang tinggi / Foto : Freepik

Perilaku yang Merusak Kesehatan Mental Diri Sendiri

Jumat, 2 Mei 2025
Ilustrasi tetap tenang dalam perdebatan/ Foto: freepik

Cara Menghadapi Seseorang yang Melakukan Komunikasi Intimidasi

Minggu, 22 Februari 2026
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id