Aktual.co.id – banyak yang merasakan kecewa ketika sudah menunggu lama tiba-tiba teman atau rekanan membatalkan secara tiba-tiba tanpa perasaan bersalah.
Yang lebih menyakitkan bukan sekadar rencananya yang batal. Tetapi perasaan seolah-olah waktu, usaha, dan kehadiran tidak pernah dianggap penting.
Jika pola ini terjadi berulang bisa jadi itu bukan kebetulan. Pada sebagian orang dengan sifat narsistik yang kuat, membatalkan rencana dapat menjadi salah satu bentuk manipulasi dalam hubungan.
Untuk Menguji Batasan
Pemilik kepribadian narsistik ingin melihat seberapa banyak perlakuan buruk yang masih akan ditoleransi. Saat tetap memaafkan, tetap menunggu, dan tetap menerima alasan, orang ini akan belajar bahwa batas bisa terus didorong. Lama-kelamaan akan terbiasa mengorbankan diri demi menjaga hubungan tetap berjalan.
Karena Ada yang Dianggap “Lebih Menguntungkan”
Bagi orang lain sering diperlakukan seperti pilihan, bukan prioritas. Jika muncul seseorang atau situasi yang dianggap lebih menguntungkan, mereka tidak ragu meninggalkan janji yang sudah dibuat.
Yang menyakitkan, orang ini sering tidak memikirkan dampak emosional yang harus ditanggung. Bukan karena orang lain tidak berharga, tetapi karena dia lebih mengutamakan kepentingannya sendiri.
Untuk Merasa Berkuasa
Saat terus menunggu kabarnya, dia merasa memiliki kendali. Dia menikmati ketika tahu suasana hati bergantung pada keputusannya.
Semakin mengejar penjelasan, semakin dia memiliki posisi yang lebih tinggi dalam hubungan. Hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut kehilangan, tetapi di atas saling menghargai.
Sebagai Bentuk Hukuman Diam-Diam
Kepribadian ini tiba-tiba berubah dingin, menghilang, atau membatalkan rencana tanpa penjelasan. Ini bisa menjadi cara membua orang lain merasa bersalah, bingung, lalu sibuk mencari-cari kesalahan pada dirimu sendiri.
Padahal, hubungan yang dewasa menyelesaikan masalah dengan komunikasi, bukan hukuman diam-diam.
Untuk Merendahkan Nilaimu
Membatalkan janji di menit terakhir dapat menjadi pesan halus:
“Waktuku lebih penting daripada waktumu.”
Lama-kelamaan korban mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Apa aku memang tidak cukup penting?”
“Apa aku terlalu banyak berharap?”
Padahal yang sedang dirusak bukan hanya jadwal, tetapi juga rasa percaya diri. Seseorang yang benar-benar menghargai mungkin sesekali terpaksa membatalkan janji karena keadaan.
Jika pembatalan dilakukan terus-menerus, disertai alasan yang berubah-ubah, membuat merasa bersalah, bingung, atau terus mengejar perhatiannya, maka itu menjadi tanda untuk dievaluasi.
Cinta yang sehat membuat merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia yang bernilai. Batasan bukanlah bentuk kebencian. Batasan adalah cara menghargai diri sendiri. (fb)
