Aktual.co.id – Sebuah analisis menemukan orang yang sering melewatkan makan utama cenderung melaporkan perasaan depresi, meskipun mengonsumsi berbagai macam makanan. Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders .
Para ahli kesehatan mental seringkali mempertimbangkan peristiwa kehidupan, genetika, dan kimia otak ketika mengobati gangguan suasana hati.
Mengutip dari Psypost, baru-baru ini, para peneliti perilaku memperhatikan rutinitas gaya hidup, termasuk nutrisi dan kebiasaan makan sehari-hari. Waktu konsumsi makanan membantu mengatur jam internal tubuh, yang dikenal sebagai ritme sirkadian.
Ritme harian ini mengatur segalanya, mulai dari pola tidur hingga produksi hormon. Ketika orang makan pada waktu yang tidak teratur, mereka mungkin mengganggu siklus internal ini.
Gangguan ini diyakini dapat mengacaukan pelepasan hormon seperti kortisol yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Respons stres yang tidak terkendali dapat melemahkan ketahanan emosional.
Pola makan yang tidak teratur dianggap mengubah komposisi bakteri yang hidup di saluran pencernaan. Lambung dan otak mengirimkan sinyal satu sama lain, berbagi informasi tentang rasa lapar, kenyang, dan stres.
Pola makan tidak teratur dapat memengaruhi jaringan komunikasi ini secara negatif dan gagal mendukung fungsi penghalang usus.
Ketika dinding usus lemah, hal itu dapat memicu peradangan ringan ke dalam tubuh, suatu kondisi yang sering terlihat pada pasien depresi.
Sebagian besar penelitian tentang diet dan kesehatan mental berfokus pada makanan spesifik yang dikonsumsi orang.
Studi yang secara khusus meneliti waktu makan biasanya berfokus pada kelompok yang sempit, seperti pekerja maskapai penerbangan yang mengalami jet lag.
Hyejin Tae, seorang peneliti di Klinik Stres di Rumah Sakit Seoul St. Mary di Korea Selatan, memimpin investigasi tentang topik ini. Tae dan rekan penulisnya, Jeong-Ho Chae, menganalisis catatan kesehatan dari basis data nasional.
Penilitian ini bertujuan memberikan pedoman perilaku yang dapat membantu individu mengelola atau mencegah gangguan suasana hati melalui pilihan gaya hidup sehari-hari.
Para peneliti memeriksa 21.568 orang dewasa yang berpartisipasi dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Korea antara tahun 2014 dan 2022.
Program nasional ini mengumpulkan informasi tentang populasi melalui wawancara kesehatan tatap muka, pemeriksaan fisik, dan penilaian gizi.
Para profesional klinis mengambil sampel darah memeriksa kondisi seperti diabetes dan kolesterol tinggi, dan mencatat berat badan dan tekanan darah.
Para peserta merinci makan selama periode 24 jam selama wawancara dengan ahli diet terlatih. Para peneliti menanyakan berapa kali seminggu peserta makan sarapan, makan siang, dan makan malam selama setahun terakhir.
Para peneliti mencatat pola makan yang tidak teratur jika seseorang makan makanan utama tertentu kurang dari lima kali seminggu. Hal ini memberi gambaran tentang kebiasaan makan mingguan, bukan hanya gambaran satu hari saja.
Untuk mengukur keluasan nutrisi, para peneliti menghitung skor keragaman diet untuk setiap orang. Skor ini melacak apakah peserta mengonsumsi makanan dari enam kelompok penting: biji-bijian, sayuran, buah-buahan, daging, kacang-kacangan dan biji-bijian, serta produk susu. Mengonsumsi lebih banyak kelompok menghasilkan skor keragaman yang lebih tinggi.
Hasil penelitian menunjukkan pola menghubungkan kebiasaan makan dengan kesejahteraan mental. Individu yang memiliki jadwal makan paling tidak teratur mengalami 1,55 kali gejala depresi dibandingkan yang memiliki waktu makan teratur.
Hubungan ini tetap stabil di seluruh spektrum ketidakteraturan makan. Semakin tidak teratur jadwal makan, semakin tinggi kemungkinan mengalami suasana hati yang buruk.
Meskipun penelitian ini berskala besar, penelitian ini menggunakan desain potong lintang, yang berarti hanya menangkap satu momen waktu tertentu.
Karena itu, para peneliti tidak dapat membuktikan jika melewatkan makan menyebabkan depresi. Sangat mungkin hubungan tersebut bekerja sebaliknya.
Orang yang berjuang melawan depresi sering mengalami kehilangan nafsu makan dan penurunan motivasi yang parah.
Kurangnya energi dapat mencegah seseorang untuk memasak, mendorong melewatkan makan atau mengonsumsi beberapa makanan yang mudah dimakan.
Proyek-proyek mendatang perlu melacak sukarelawan yang bertahun-tahun untuk melihat apakah pola makan tidak teratur mendahului penurunan kesehatan mental.
Melakukan uji coba terkontrol di mana orang-orang diberi jadwal makan tertentu juga dapat membantu mengisolasi mekanisme tubuh yang tepat yang berperan.
Sampai penelitian tersebut dilakukan, temuan ini menunjukkan kapan seseorang makan mungkin sama pentingnya dengan apa yang mereka makan.
Menetapkan rutinitas makan harian yang teratur dapat menjadi salah satu cara mudah mendukung kesehatan emosional.
Memadukan jadwal yang konsisten dengan beragam makanan dapat menjadi pertahanan yang sangat baik terhadap suasana hati yang buruk. (ndi/psypost)
