Aktual.co.id – Sering kali merasa terdorong untuk mengisi setiap keheningan, untuk menanggapi setiap pernyataan.
Justru kondisi tersebut hendaknya dihindari agar kekuatan dalam diri tetap bertahan ketika diam. Memilih diam tanpa banyak bicara terkadang memberikan kesan keras dalam komunikasi non verbal.
Psikolog Eliza Hartley memberikan gambaran bagaimana diam bisa memberikan kesan yang baik ketimbang banyak berbicara.
Saat Emosi Sedang Tinggi
Ketika dalam kondisi marah maka pilihannya adalah diam. Jika memaksa untuk membalas kata – kata yang diucapkan lawan bicara bagaikan menyiram minyak dalam api.
“Cukup diam dan dengarkan lawan bicara mengucapkan seluruh kekesalannya. Biarkan dia menyampaikan seluruh perkataannya, nanti akan berakhir ketika sudah terpuaskan,” ungkapnya.
Keputusan untuk tetap diam menyelamatkan persahabatan ketike di tengah konfli. Keputusan itu mengajarkan tentang situasi yang penuh emosi, diam benar-benar bisa menjadi kekuatan terbesar Anda.
Mendapatkan Kritik Tidak Mendasar
Ketika mendapatkan kritik yang tidak mendasar maka disarankan untuk diam. Karena ketika mencoba mempertahankan diri ketika mendapatkan kritik justru akan memperumit keadaan.
“Pada saat diam ada semacam kekuatan besar yang tidak bisa diungkapkan kata – kata,” kata Eliza. Berdiam diri memberi kekuatan menjaga harga diri serta mendapatkan ketenangan.
Banyak yang belum paham jika diam adalah sebuah respon yang paling kuat dalam melawan sebuah kritik yang tidak mendasar.
Saat Memproses Informasi
Menurut Eliza, keheningan adalah tempat berlindung yang aman bagi dirinya. “Keheningan ini memberi saya kebebasan untuk berpikir secara mendalam,” ungkapnya.
Keheningan bukan sekadar ruang kosong, katanta, bahkan keheningan adalah lahan subur untuk berpikir dan memahami. Di saat-saat hening itulah otak menyaring informasi dan menciptakan hubungan.
Ketika Orang Lain Membutuhkan Validasi
Saat orang lain berbagi momen, prestasi, atau perasaan penting, maka cukup diam. Karena orang tersebut membutuhkan respon dan validasi dari orang lain.
“Dengan diam memberikan rasa hormat dan empati tanpa harus diwujudkan dalam bentuk kata-kata yang bisa berujung persoalan,” kata Eliza.
Pada saat diam itulah memberikan kekuatan pada diri ketika orang lain sibuk mencari kekuatan validasi agar mendapatkan pujian dan pengakuan.
Saat Mendengarkan
Dalam kesibukan sehari-hari, kekuatan keheningan sering kali diabaikan. Dan hal ini paling jelas terlihat ketika dalam percakapan.
Percakapan yang sebenarnya bukanlah tentang berbicara; melainkan mendengarkan. Dan untuk mendengarkan maka harus diam.
“Yang menariknya, saat mendengarkan, tidak hanya memperoleh pemahaman lebih dalam tentang situasi, tetapi memperoleh rasa hormat dan kepercayaan dari orang yang diajak bicara,” ungkap Eliza. (ndi)
