Aktual.co.id – Orang yang memiliki kepribadian gelap seperti narsisistik dan toxic lebih siap mengelola depresi, menurut studi Personality and Individual Differences.
Penelitian ini meneliti bagaimana kepribadian “gelap” berinteraksi dengan fleksibilitas penanganan dan gejala depresi, kecemasan, dan stres.
Orang dengan tingkat sifat manipulatif lebih fleksibel dan melaporkan lebih sedikit gejala depresi. Hal ini menantang asumsi bahwa semua sifat gelap memiliki kecenderungan psikologis yang buruk.
meskipun kehadiran orang seperti ini tidak diinginkan secara sosual, namun pemiliki kepribadian gelap ini memiliki kemampuan adaptif terhadap gejala depresi.
Studi ini bertujuan menyelidiki sifat-sifat ini berhubungan dengan fleksibilitas penanganan dalam mengatasai depresi.
“Meskipun beberapa aspek dari sifat-sifat ini dapat menjadi pertentangan di masyarakat sosial, namun pemilik kepribadian ini dapat membantu individu mengatasi stress,” ujar Micheala McIlvenna , seorang mahasiswa PhD di Lab InteRRaCt di Universitas Queen di Belfast dan asisten komunikasi penelitian untuk European Journal of Personality .
Untuk menyelidiki hal ini, McIlvenna dan rekan-rekannya merekrut 343 peserta dewasa secara daring. Usia rata-rata mereka sekitar 30 tahun dengan jenis kelamin lebih banyak perempuan.
Peserta menyelesaikan serangkaian kuesioner yang mengukur tingkat sifat-sifat triad gelap dengan menggunakan alat-alat yang sudah mapan.
Alat-alat ini termasuk Five-Factor Machiavellianism Inventory, yang membagi Machiavellianism menjadi agensi, perencanaan, dan antagonism.
Five-Factor Narcissism Inventory, yang mencakup aspek-aspek seperti ekstroversi, neurotisme, dan antagonism.
Dan alat Levenson Self-Report Psychopathy Scale, yang membedakan antara psikopati primer dan sekunder.
Untuk mengukur tekanan psikologis, peserta menyelesaikan Skala Stres Kecemasan dan Depresi. Fleksibilitas penanganan dinilai menggunakan versi Skala Fleksibilitas Penanganan, yang mencakup tiga dimensi: kemampuan meninggalkan strategi penanganan yang tidak efektif, mengembangkan strategi baru, dan mengevaluasi proses penanganan seseorang secara keseluruhan.
Para peneliti menggunakan analisis jaringan untuk memetakan bagaimana sifat, dimensi penanganan, dan gejala psikologis saling terhubung.
Agensi Machiavellian menonjol sebagai simpul yang sangat berpengaruh. Hal itu terkait positif dengan fleksibilitas penanganan dan terkait negatif dengan depresi.
Artinya, individu yang mendapat skor tinggi dalam agensi Machiavellian cenderung terlibat dalam strategi penanganan yang fleksibel dan melaporkan lebih sedikit gejala depresi.
Agensi Machiavellian juga terkait erat dengan ekstroversi narsistik, yang mencakup sifat-sifat seperti ketegasan dan kepercayaan diri.
Menariknya, ekstroversi narsistik tidak secara langsung terkait dengan berkurangnya depresi, tetapi memengaruhi depresi secara tidak langsung dengan mendukung agensi Machiavellian.
Penelitian ini mengamati ciri-ciri ini pada orang-orang biasa, bukan kepribadian ekstrem yang sering digambarkan di media.
“Kami tidak melabeli seseorang sebagai narsisis atau Machiavellian, tetapi lebih mengeksplorasi bagaimana aspek kepribadian ini saling membantu dalam menangani persoalan depresi dan stress,” kata Micheala McIlvenna. (ndi/psypost)
