Aktual.co.id – Sebuah studi yang meneliti efek olahraga terhadap tingkat gejala kesehatan mental menemukan bahwa olah raga bisa mengurangi stres dan pemikiran negatif.
Dengan kata lain, olahraga mengurangi stres yang dirasakan dan pemikiran negatif yang berulang, dan menyebabkan pengurangan gejala kesehatan mental lainnya. Makalah tersebut diterbitkan di Psychological Medicine.
Mengutip dari psypost, olahraga teratur diakui alat mendukung kesehatan mental dan fisik. Penelitian menunjukkan olahraga dapat mengurangi gejala beberapa kondisi kesehatan mental, termasuk depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca-trauma, dan insomnia.
Namun, para peneliti berupaya memahami secara tepat mengapa menggerakkan tubuh dapat menghasilkan manfaat psikologis yang begitu luas.
Salah satu kemungkinannya adalah olahraga bertindak sebagai pengobatan transdiagnostic artinya, olahraga memengaruhi proses yang sama di berbagai gangguan mental, bukan mengatasi gejala yang unik untuk diagnosis tertentu.
Proses umum ini meliputi seberapa kuat seseorang merasakan dan mengalami stres, seberapa sering terjebak dalam pikiran negatif yang berulang dan seberapa baik mereka tidur.
Masing-masing faktor ini berkontribusi pada perkembangan dan berlanjutnya kesulitan psikologis, dan faktor-faktor tersebut dapat saling memperkuat seiring waktu.
Olahraga membantu menghentikan siklus ini dengan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi stres, mengurangi pola pikir negatif yang terus-menerus, dan mendukung kualitas tidur yang lebih baik.
Penulis studi Anna Katharina Frei dan rekan-rekannya melakukan penelitian bagaimana stres, pemikiran negatif yang berulang, dan kualitas tidur secara bersama-sama dimediasi dengan efek olahraga.
Peneliti melakukan analisis sekunder data uji coba ImPuls (menggunakan data yang sudah ada dari uji coba yang telah selesai untuk menjawab pertanyaan baru ini) yang mencakup tindak lanjut 6 dan 12 bulan bersama pengumpulan data di awal studi.
Uji coba ImPuls adalah sebuah studi yang dilakukan di 10 lokasi penelitian di Baden-Württemberg, Jerman. Peserta secara acak dibagi menjadi dua kelompok parallel di mana satu kelompok menerima perawatan latihan ImPuls ditambah perawatan seperti biasa. Dan satu kelompok hanya menerima perawatan seperti biasa, yang bertindak sebagai kelompok kontrol.
Peserta penelitian terdiri dari 400 individu yang tidak aktif secara fisik dan menderita gangguan depresi mayor, agorafobia, gangguan panik, PTSD, atau insomnia.
Hampir 72% dari mereka menderita gangguan depresi mayor. Usia rata-rata peserta adalah 42 tahun, dan sekitar 71% di antaranya adalah perempuan.
Perawatan ImPuls terdiri dari pertemuan kelompok yang diawasi dan 30 menit latihan aerobik intensitas sedang hingga tinggi yang dilakukan di luar ruangan dua hingga tiga kali seminggu.
Pertemuan kelompok tersebut berfokus pada teknik perubahan perilaku misalnya penetapan tujuan, manajemen hambatan yang disampaikan oleh terapis olahraga yang berkualifikasi untuk meningkatkan motivasi dan komitmen mempertahankan rutinitas olahraga.
Bagian perawatan yang diawasi berlangsung selama 4 minggu, setelah itu peserta diinstruksikan melanjutkan latihan aerobik tanpa pengawasan selama lima bulan lagi, sehingga intervensi keseluruhan berlangsung selama 6 bulan.
Kepatuhan terhadap program ini dipantau melalui telepon dengan terapis olahraga. Kondisi perawatan seperti biasa mencakup intervensi standar yang biasanya diberikan di fasilitas rawat jalan Jerman, seperti perawatan psikologis dan pengobatan.
Para penulis studi menilai tingkat keparahan gejala keseluruhan peserta menggunakan Indeks Keparahan Global, yang mengukur gabungan tekanan dari depresi, kecemasan, dan gejala fisik, kualitas tidur, stres yang dirasakan, dan pemikiran negatif yang berulang.
Hasil penelitian menunjukkan pada penilaian 6 dan 12 bulan, peserta yang menjalani perawatan ImPuls menunjukkan penurunan signifikan dalam pola pikir negatif berulang dan stres yang dirasakan dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Bertentangan dengan harapan awal, intervensi olahraga tidak menyebabkan peningkatan kualitas tidur pada kedua titik waktu tersebut.
Para penulis berpendapat hal ini karena olahraga diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur bagi penderita depresi, dampaknya terhadap tidur penderita PTSD dan gangguan kecemasan yang juga termasuk dalam kelompok campuran ini secara historis kurang meyakinkan.
Para penulis studi menguji model statistik yang mengusulkan pengurangan pemikiran negatif berulang dan stres yang dirasakan menyebabkan pengurangan gejala gangguan.
“Hasil penelitian menunjukkan perubahan persepsi stres dan pemikiran negatif yang berulang merupakan mekanisme transdiagnostik kunci yang mendasari efek pengobatan olahraga terhadap tingkat keparahan gejala secara keseluruhan,” demikian kesimpulan para penulis studi.
Para peneliti berteori olahraga mengurangi stres secara efektif melatih tubuh menangani stres psikologis yang dengan lebih baik dari waktu ke waktu.
Aktivitas fisik dari olahraga dapat bertindak sebagai pengalih perhatian, memaksa otak mengalihkan fokus dari gejala dan memutus siklus pemikiran negatif yang berulang. Studi ini berkontribusi pemahaman ilmiah tentang efek olahraga terhadap gejala kesehatan mental. (ndi/psypost)
