• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Media Massa di Era Network Society: Antara Simbolisme, Disorientasi, dan Peluang Komunikasi Big Data
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Big Data

Media Massa di Era Network Society: Antara Simbolisme, Disorientasi, dan Peluang Komunikasi Big Data

Redaktur Selasa, 20 Mei 2025
Share
6 Min Read
Ilustrasi Tantangan dan Peluang Media di Era Disruptif dalam Masyarakat Jaringan/Dok.Aktual.co.id
Ilustrasi Tantangan dan Peluang Media di Era Disruptif dalam Masyarakat Jaringan/Dok.Aktual.co.id

Aktual.co.id – Kita tengah hidup di era network society sebuah masyarakat jaringan digital di mana informasi mengalir cepat, horizontal, dan nyaris tanpa kontrol institusional tradisional. Dalam konfigurasi ini struktur sosial tidak lagi ditentukan oleh hirarki, melainkan oleh interaksi antar-node yang saling terhubung melalui teknologi. Konsekuensinya informasi tidak lagi dimonopoli oleh media arus utama, melainkan diproduksi dan disebarluaskan secara masif oleh siapa saja—individu, komunitas, bahkan akun anonim.

Yang dominan dalam arus informasi ini bukanlah diskursus rasional atau argumentasi ilmiah sebagaimana ideal dalam model komunikasi publik konvensional. Teridentifikasi bahwa Informasi hari ini didorong oleh simbolisme, sentimen, ilusio, dan kepentingan. Simbolisme hadir dalam bentuk narasi singkat, meme, atau slogan visual yang membangkitkan emosi lebih dari logika. Sentimen menjadi bahan bakar utama keterlibatan publik—emosi kolektif seperti marah, simpati, atau bangga menyebar lebih cepat daripada fakta.

Ilusio dalam pengertian Pierre Bourdieu menunjukkan bagaimana masyarakat digital terlibat dalam permainan simbolik yang diyakini sebagai kenyataan meskipun sebenarnya adalah konstruksi sosial. Di balik itu semua teridentifikasi narasi yang tersebar kerap dibentuk dan didorong oleh kepentingan politik, ekonomi, atau identitas kelompok tertentu yang tampak pada visualisasi jaringan komunikasi.

Analisis Komunikasi Big Data tentang Clauster Media/Dok.Aktual.co.id
Analisis Komunikasi Big Data tentang Clauster Media/Dok.Aktual.co.id

Dalam kondisi ini produksi dan konsumsi informasi pun bergeser dari nalar ke emosi. Realitas tidak lagi sekedar dipahami melalui analisis kritis, melainkan melalui resonansi afektif dan keterikatan identitas. Media massa arus utama sayangnya kurang dapat membaca pergeseran ini. Banyak yang masih berpegang pada logika lama: produksi satu arah, redaksi tertutup, dan relasi pasif dengan audiens. Celakanya bukan hanya televisi, tetapi juga media berita daring juga terjebak dalam pola yang sama—sekadar mengulas ulang apa yang telah viral di media sosial.

Baca Juga:  Membangun Kepercayaan Publik dengan Strategi Komunikasi Berbasis Big Data di Era Digital

Alih-alih memproduksi konten yang independen dan menambah nilai jurnalistik, mereka lebih sering bertindak sebagai pengulang algoritma, mengutip komentar netizen atau membahas tren media sosial tanpa pendalaman. Fenomena ini memperkuat persepsi publik: “Untuk apa membaca berita atau menonton televisi kalau saya sudah melihat semua informasinya lebih dulu dan lebih luas di media sosial?” Akibatnya media justru memperkuat popularitas media sosial alih-alih memanfaatkan media sosial sebagai kanal distribusi strategis untuk memperkuat narasi mereka sendiri. Dalam kondisi ini media tidak hanya kehilangan otoritas tetapi juga arah.

Cepatnya perkembangan teknologi dan di tengah era disruptif ini situasinya menjadi lebih kompleks. Informasi datang seperti banjir, tanpa jeda dan tanpa struktur yang memungkinkan kita untuk memahaminya secara mendalam. Semua tercampur: opini, ego, emosi, kepentingan, dan narasi acak yang dibentuk oleh logika viralitas. Jika masih menggunakan metode konvensional, media akan tersesat dalam kabut data dan terjebak dalam pseudopower—kuasa semu yang dibentuk oleh angka viral semata—dan semakin tunduk pada algoritma.

Baca Juga:  Selamat Hari Kasih Sayang Menjadi Tren Pembicaraan Warganet

Oleh karena itu dibutuhkan metode baru dan keahlian baru untuk membaca komunikasi masyarakat digital secara lebih akurat dan reflektif. Kita perlu cara khusus untuk “mendengar” masyarakat digital: memahami bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga mengapa, oleh siapa, untuk siapa, dan dalam konteks apa pesan itu beredar. Inilah pendekatan yang mampu menyingkap makna sesungguhnya dari budaya komunikasi dalam network society.

Di sinilah relevansi pendekatan ASIGTA (Analisis Komunikasi Big Data – Media Digital) menjadi sangat strategis melalui metode riset sosial berbasis big data. ASIGTA bukan hanya soal angka dan statistik melainkan pendekatan analitis berbasis data yang membaca resonansi simbolik, emosi kolektif, serta dinamika relasional dalam jejaring sosial. Melalui ASIGTA media bisa mengukur eksposur konten secara real-time tanpa harus bergantung pada lembaga pihak ketiga seperti Nielsen. Media juga dapat membaca respons audiens secara presisi—mulai dari waktu tonton, segmentasi emosi, hingga keterlibatan dalam ekosistem digital. Yang lebih penting ASIGTA memungkinkan media memahami bagaimana konten dapat dirancang agar beresonansi dalam jaringan sosial digital sehingga strategi penyebaran tidak hanya mengikuti viralitas tetapi membentuknya melalui viral value.

Analisis Komunikasi Big Data tentang Clauster Media/Dok.Aktual.co.id
Analisis Komunikasi Big Data tentang Clauster Media/Dok.Aktual.co.id

Melalui pendekatan baru seperti ini media dapat kembali menjadi arsitek narasi publik bukan sekadar pengekor algoritma. Mereka bisa merancang program dan pemberitaan yang tidak hanya relevan secara topik tetapi juga kuat secara simbolik dan afektif. Distribusi konten pun bisa dilakukan secara sinergis—bukan dengan menjiplak media sosial, tetapi menjadikan media sosial sebagai amplifier dari narasi utama yang dibangun media (orkestrasi media sosial).

Baca Juga:  Ghibli Style dan Kartu Lebaran AI: Siapa yang Untung dan Buntung?

Dalam konteks ini media sosial tidak lagi mendikte televisi atau media daring melainkan menjadi saluran yang memperkuat kehadiran dan pengaruh keduanya. Sayangnya masih banyak yang menyalahpahami analisis big data. Banyak yang mengira ini sekadar permainan angka impresi atau metrik keterpaparan. Padahal analisis komunikasi big data adalah kerja pemaknaan. Ia menuntut pembacaan mendalam terhadap struktur sosial, emosi publik, dan relasi makna dalam jaringan digital. Untuk tetap relevan di tengah lanskap informasi yang kian cair, media harus berani bergeser: dari produksi konten menuju produksi makna, dari kerja redaksi menuju kerja riset, dari siaran tunggal menuju interaksi partisipatif yang berbasis data.

Dengan mendengarkan masyarakat digital melalui pendekatan data yang reflektif dan bermakna, media tidak hanya bisa bertahan—tetapi bisa kembali menjadi aktor utama yang memimpin dalam arus informasi global. Itulah tantangan sekaligus peluang di era network society yang disruptif ini.

Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom.

Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id

Kepala Laboratorium Integrated Digital – FISIBPOL – UPN “Veteran” Jatim

Founder ASIGTA Group

SHARE
Tag :Big Data
Ad imageAd image

Berita Aktual

Xiaomi 18 / Foto: Gizmochina
Bocoran Xiaomi 18 Kemungkinan Memiliki Pilihan Lima Warna
Selasa, 11 Agustus 2026
Ilustrasi HipHop/ Foto: natonal today
Memperingati Musik HipHop yang Dikenalkan dari Pesta Jalanan Bronx
Selasa, 11 Agustus 2026
Emas Antam/ Foto: ANTARA
Harga Emas Antam Naik Rp20.000 Jadi Rp2,710 Juta Per Gram
Selasa, 11 Agustus 2026
Tangkapa layar klarifikasi dari pihak penyelenggara/ Foto: capture Radar Cirebon
MUI Kecam Aksi Tantangan Booth Minuman Keras Newport di Jakarta
Selasa, 11 Agustus 2026
Bangunan runtuh akibat gempa di Kolombia/ Foto: anadolu
Bangunan Tiga Lantai Runtuh Total Akibat Gempa Magnitudo 7,4 di Cali
Selasa, 11 Agustus 2026

Mental Health

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Meditasi sarana menenangkan diri ala Stoikisme/ foto : istimewa

Lima Kecerdasan yang Bisa Dilatih untuk Kesehatan Mental

Ilustrasi manipulasi/ Foto: freepik

Berikut Cara Manipulator Mempengaruhi Orang Lain Agar Mengikuti Kehendaknya

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Redmi 17 5G Dilengkapi Baterai 7.500 mAh Siap Diluncurkan ke Pasar Global

Kemenhut Menutup Wisata Gunung Bromo Dampak Kebakaran Hutan yang Meluas

Pilot dan Kru Helikopter Pemadam Tewas Saat Pembasahan Kebakaran di Utah

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Agensi Menjawab Kekhawatiran Terhadap Kesehatan Han Seung Yeon

More News

Barang bukti truk air galon diamankan petugas / foto : istimewa

Pengamat : Kecelakaan Truk Tidak Ada Ketegasan dari Presiden

Kamis, 6 Februari 2025
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menghadiri acara militer di Caracas pada 4 Agustus 2018/ Foto: capture Al Jazeera

Mengenal Nicolas Maduro yang Kini Ditahan oleh Amerika Serikat

Minggu, 4 Januari 2026
Cover GTA VI/ Foto: Hindustani Time

Beredar Isu Pelucuran Grand Theft Auto VI Mudur Hingga Tahun 2027

Selasa, 30 Desember 2025
Unjuk rasa siswa menolak program Makan Bergizi Gratis di Papua

Papua Menguat di Media Sosial Tentang Unjuk Rasa Siswa Menolak Makan Bergizi Gratis

Senin, 17 Februari 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id