Aktual.co.id – Kita tengah hidup di era network society sebuah masyarakat jaringan digital di mana informasi mengalir cepat, horizontal, dan nyaris tanpa kontrol institusional tradisional. Dalam konfigurasi ini struktur sosial tidak lagi ditentukan oleh hirarki, melainkan oleh interaksi antar-node yang saling terhubung melalui teknologi. Konsekuensinya informasi tidak lagi dimonopoli oleh media arus utama, melainkan diproduksi dan disebarluaskan secara masif oleh siapa saja—individu, komunitas, bahkan akun anonim.
Yang dominan dalam arus informasi ini bukanlah diskursus rasional atau argumentasi ilmiah sebagaimana ideal dalam model komunikasi publik konvensional. Teridentifikasi bahwa Informasi hari ini didorong oleh simbolisme, sentimen, ilusio, dan kepentingan. Simbolisme hadir dalam bentuk narasi singkat, meme, atau slogan visual yang membangkitkan emosi lebih dari logika. Sentimen menjadi bahan bakar utama keterlibatan publik—emosi kolektif seperti marah, simpati, atau bangga menyebar lebih cepat daripada fakta.
Ilusio dalam pengertian Pierre Bourdieu menunjukkan bagaimana masyarakat digital terlibat dalam permainan simbolik yang diyakini sebagai kenyataan meskipun sebenarnya adalah konstruksi sosial. Di balik itu semua teridentifikasi narasi yang tersebar kerap dibentuk dan didorong oleh kepentingan politik, ekonomi, atau identitas kelompok tertentu yang tampak pada visualisasi jaringan komunikasi.

Dalam kondisi ini produksi dan konsumsi informasi pun bergeser dari nalar ke emosi. Realitas tidak lagi sekedar dipahami melalui analisis kritis, melainkan melalui resonansi afektif dan keterikatan identitas. Media massa arus utama sayangnya kurang dapat membaca pergeseran ini. Banyak yang masih berpegang pada logika lama: produksi satu arah, redaksi tertutup, dan relasi pasif dengan audiens. Celakanya bukan hanya televisi, tetapi juga media berita daring juga terjebak dalam pola yang sama—sekadar mengulas ulang apa yang telah viral di media sosial.
Alih-alih memproduksi konten yang independen dan menambah nilai jurnalistik, mereka lebih sering bertindak sebagai pengulang algoritma, mengutip komentar netizen atau membahas tren media sosial tanpa pendalaman. Fenomena ini memperkuat persepsi publik: “Untuk apa membaca berita atau menonton televisi kalau saya sudah melihat semua informasinya lebih dulu dan lebih luas di media sosial?” Akibatnya media justru memperkuat popularitas media sosial alih-alih memanfaatkan media sosial sebagai kanal distribusi strategis untuk memperkuat narasi mereka sendiri. Dalam kondisi ini media tidak hanya kehilangan otoritas tetapi juga arah.
Cepatnya perkembangan teknologi dan di tengah era disruptif ini situasinya menjadi lebih kompleks. Informasi datang seperti banjir, tanpa jeda dan tanpa struktur yang memungkinkan kita untuk memahaminya secara mendalam. Semua tercampur: opini, ego, emosi, kepentingan, dan narasi acak yang dibentuk oleh logika viralitas. Jika masih menggunakan metode konvensional, media akan tersesat dalam kabut data dan terjebak dalam pseudopower—kuasa semu yang dibentuk oleh angka viral semata—dan semakin tunduk pada algoritma.
Oleh karena itu dibutuhkan metode baru dan keahlian baru untuk membaca komunikasi masyarakat digital secara lebih akurat dan reflektif. Kita perlu cara khusus untuk “mendengar” masyarakat digital: memahami bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga mengapa, oleh siapa, untuk siapa, dan dalam konteks apa pesan itu beredar. Inilah pendekatan yang mampu menyingkap makna sesungguhnya dari budaya komunikasi dalam network society.
Di sinilah relevansi pendekatan ASIGTA (Analisis Komunikasi Big Data – Media Digital) menjadi sangat strategis melalui metode riset sosial berbasis big data. ASIGTA bukan hanya soal angka dan statistik melainkan pendekatan analitis berbasis data yang membaca resonansi simbolik, emosi kolektif, serta dinamika relasional dalam jejaring sosial. Melalui ASIGTA media bisa mengukur eksposur konten secara real-time tanpa harus bergantung pada lembaga pihak ketiga seperti Nielsen. Media juga dapat membaca respons audiens secara presisi—mulai dari waktu tonton, segmentasi emosi, hingga keterlibatan dalam ekosistem digital. Yang lebih penting ASIGTA memungkinkan media memahami bagaimana konten dapat dirancang agar beresonansi dalam jaringan sosial digital sehingga strategi penyebaran tidak hanya mengikuti viralitas tetapi membentuknya melalui viral value.

Melalui pendekatan baru seperti ini media dapat kembali menjadi arsitek narasi publik bukan sekadar pengekor algoritma. Mereka bisa merancang program dan pemberitaan yang tidak hanya relevan secara topik tetapi juga kuat secara simbolik dan afektif. Distribusi konten pun bisa dilakukan secara sinergis—bukan dengan menjiplak media sosial, tetapi menjadikan media sosial sebagai amplifier dari narasi utama yang dibangun media (orkestrasi media sosial).
Dalam konteks ini media sosial tidak lagi mendikte televisi atau media daring melainkan menjadi saluran yang memperkuat kehadiran dan pengaruh keduanya. Sayangnya masih banyak yang menyalahpahami analisis big data. Banyak yang mengira ini sekadar permainan angka impresi atau metrik keterpaparan. Padahal analisis komunikasi big data adalah kerja pemaknaan. Ia menuntut pembacaan mendalam terhadap struktur sosial, emosi publik, dan relasi makna dalam jaringan digital. Untuk tetap relevan di tengah lanskap informasi yang kian cair, media harus berani bergeser: dari produksi konten menuju produksi makna, dari kerja redaksi menuju kerja riset, dari siaran tunggal menuju interaksi partisipatif yang berbasis data.
Dengan mendengarkan masyarakat digital melalui pendekatan data yang reflektif dan bermakna, media tidak hanya bisa bertahan—tetapi bisa kembali menjadi aktor utama yang memimpin dalam arus informasi global. Itulah tantangan sekaligus peluang di era network society yang disruptif ini.
Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom.
Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id
Kepala Laboratorium Integrated Digital – FISIBPOL – UPN “Veteran” Jatim
Founder ASIGTA Group
