• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Kepribadian Individu Ketika Tidak Mendapatkan Pengakuan Emosional Sejak Kecil
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Kepribadian Individu Ketika Tidak Mendapatkan Pengakuan Emosional Sejak Kecil

Redaktur III Sabtu, 14 Juni 2025
Share
5 Min Read
Pendidikan masa kecil membentuk kepribadian seseorang ketika dewasa / foto : freepik
Pendidikan masa kecil membentuk kepribadian seseorang ketika dewasa / foto : freepik

Aktual.co.id – Pendidikan di masa pertumbuhan anak – anak sangat berperan penting untuk menciptakan individu di masa dewasa.

JIka di usia anak sering terabaikan emosinya secara terus menerus oleh orang tua, maka akan terbentuk individu yang sulit untuk mengekspresikan emosionalnya.

Menurut Isabella Chase, ada perilaku yang dipengaruhi oleh pendidikan tumbuh kembang semasa kecil sehingga terpengaruh ketika dewasa.

Merasa Bersalah karena Bersantai

Waktu senggang membuatnya merasa tidak nyaman karena istirahat selalu diidentikkan rasa “malas”. Liputan terkini di TIME menyoroti “kecemasan saat relaksasi,” yang menunjukkan banyak orang dewasa merasa bersalah ketika beristirahat.

Pandangan ini bisa dikaitkan dengan pendidikan anak karena orang tua selalu menuntut lebih kepada anaknya tersebut dengan istilah kesempurnaan.

“Waktu itu orang tua tidak mewadahi emosi anaknya sehingga kebutuhan pribadinya menjadi tergerus dan tidak mendapatkan tempat yang terbaik,” ungkap Isabella.

Meminimalkan Preferensi Pribadi

Kalimat “terserah anda” adalah yang sering terucap ketika orang ditawarkan sesuatu seperti tempat makan. “Kalimat ini bisa muncul karena di masa anak-anak selalu dalam kontrol sehingga tidak mendapatkan piliha individu untuk sekedar tempat makan,” kata Isabella.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena sejak dini tertekan karena mengungkapkan preferensi berisiko menimbulkan kekecewaan atau ejekan.

Baca Juga:  Membangun Empati kepada Teman yang Mengalami Keterpurukan

Peneliti mindfulness di Mindful.org menekankan bahwa mengidentifikasi preferensi sederhana yakni menawarkan banyak pilihan seperti minum the, kopi atau jalan sore. Teknik ini untuk mengembangkan kepercayaan pada individu untuk memilih sesuai referensinya.

Terlalu Banyak Menjelaskan Batasan

Ketika kata “tidak” memicu rasa bersalah di rumah, batasan orang dewasa mulai terdengar seperti ringkasan ruang sidang.

Kebiasaan ini terjadi karena sering termanipulasi sejak mendapat asuhan orang tua. Seringnya termanipulasi ini membuat kebutuhan pribadi tidak mendapatkan tempat yang terbaik.

“Pengungkapan rasa lelah, penolakan, akan terjadi ketika dewasa sehingg memunculkan sikap menolak ketika mendapatkan pembagian tugas. Di dalam otaknya tertanam akan termanipulasi,” jelasnya.

Berlatihlah memberikan batasan yang singkat dan hangat: “Saya tidak bisa bergabung malam ini, tetapi terima kasih sudah mengundang saya.”

Ragu untuk Meminta Bantuan

Kurangnya pendidikan emosional di masa anak – anak akan menciptakan individu untuk memita bantuan. Hal ini karena seringnya di manipulasi serta tingginya tingkat permisif terhadap setiap manipulasi saat masih anak-anak.

Meminta bantuan dianggap tabu karena dicap sebagai kelemahan. Padahal meminta tolong bagian dari kesehatan mental untuk membagi peran dalam kehidupan.

Baca Juga:  Aturan Kesehatan yang Diakui Umum, Namun Salah Kaprah Menurut Penelitian

Maka kecanggungan dalam meminta tolong ini dapat dilatih denga bermitra dalam komunitas. Di sana individu akan berbagi peran untuk mendapatkan fungsinya masing – masing.

Menolak Pujian

Ketika pujian tersebut datang orang tersebut menepisnya dengan lelucon untuk merendahkan diri. “Baginya Pujian terasa mencurigakan karena, di masa kanak-kanak tidak mendapatkan pujian secara konstan dari orang tuanya,” katanya

Isabella memberikan saran jika ada orang yang memujinya maka berhentilah sesaat, ambil napas, kemudian ucapkan terima kasih.

Kecanggungan mendapatka pengakuan ini bisa didapatkan dari orang terdekat untuk melatih agar tidak menolak ketika diberi sanjungan.

Membutuhkan Validasi Melalui Pencapaian Tanpa Henti

Harvard Business Review mencatat bahwa orang-orang dengan kinerja tinggi yang mengejar pujian eksternal tumbuh dengan jiwa yang melelahkan.

Jika rak piala sudah penuh namun masih merasa hampa, tanyakan pada diri sendiri suara siapa yang ingin Anda puaskan.

Etos kerja itu berharga, tetapi bisa menjadi topeng ketika harga diri bergantung pada keinginan untuk mendapatkan validasi.

Menutup Diri Saat Terjadi Konflik

Individu ini terbentuk karena emosi besar di rumah yang pernah dirasa tidak aman atau tidak ada gunanya untuk dibagikan.

Baca Juga:  Perilaku yang Tidak Disadari Bisa Merendahkan Harga Diri

Kepribadian ini akan hadir dalam konflik kecil atau besar dan di dalam hatinya berucap konflik ini akan mengganggunya.

Konflk ini akan membuat orang ini menghindar demi keamanan mentalnya yang tidak dibiasanya untuk berkompromi ketika berhadapan dengan konflik.

Meminta Maaf atas Keberadaannya

“Maaf” terucap bahkan sebelum pelanggaran sebenarnya terjadi. Permintaan maaf yang terus-menerus ini menutupi rasa takut

Mengganti permintaan maaf otomatis dengan “terima kasih sudah menunggu” atau “permisi” akan membentuk kembali refleks tersebut seiring berjalannya waktu.

Ini bukan tentang menjadi terus terang atau kasar, ini tentang membiarkan diri mengambil ruang yang sesuai.

Berjuang Menyebutkan Perasaan

Indivu yang tumbuh dengan orangtua yang meremehkan atau mengabaikan emosi, sering kali memiliki kosakata emosional yang sedikit.

Dampaknya akan mempengaruhi anak kesulitan mengungkapkan perasaannya. “Saya baik-baik saja” atau “Saya lelah,” meski sebenarnya perasaan itu adalah marah, malu, atau gembira.

Jika tak seorang membantu menyebutkan perasaannya, maka dampak yang dirasakan adalah masuk akal jika kata-kata itu masih tersembunyi dari Anda hingga kini. (ndi)

SHARE
Tag :gangguan kepribadiankesehatan mentalMental healthpsikologi

Berita Aktual

Gubernur Khofifah saat meninjau ujian/ Foto: Pemprov Jatim
Gubernur Khofifah Antisipasi Gangguan Listrik Selama TKA Berlangsung di Jatim
Senin, 26 Oktober 2026
Aleksandar Vucic / Foto: Xinhua
Aleksandar Vucic Mengaku Kalah dengan Daftar Mahasiswa di Perhitungan Sementara Pemilu Serbia
Senin, 26 Oktober 2026
Donald Trump dan Netanyahu/ Foto: Anadolu
Presiden Trump Memberikan Dukungan Kepada Nentanyahu Jelang Pemilu Israel
Senin, 26 Oktober 2026
Penampakan rudal milik Houthi/ Foto: anadolu
Houthi Melancarkan Serangan Rudal Balistik ke Bir Ahmed Yaman
Senin, 26 Oktober 2026
Geonwoo / Foto: Soompi
Berikut Balasan WAKEONE Usai Digugat Geonwoo dari ALPHA DRIVE ONE
Minggu, 25 Oktober 2026

Mental Health

Serangga menularkan virus Shimonda/ Foto: anadolu

Seorang Pasien Terinfeksi Virus Shamonda Kali Pertama di Prancis

Ilustrasi remaja dan depresi/ Foto: gemini

Perilaku Tidak Sehat pada Remaja Memicu Risiko Kecemasan dan Depresi

Mencuci tangan/ Foto: freepik

Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Topan Champi Melukai 500 Orang dan Pemadaman Listrik di Taiwan

Ratusan Ribu Orang Berunjuk Rasa di Berbagai Kota di Prancis

Warga Serbia Memberikan Hak Suara di Tengah Unjuk Rasa Mahasiswa

Gempa Bumi Magnitudo 7,0 Melanda Kepulauan Ogasawara Jepang

Begini Respon Singapura Setelah Prabowo Mengumumkan Pengurangan Ekspor Gas

More News

Ilustrasi perceraian orang tua / foto : freepik

Perceraian Orang Tua Tidak Serta Merta Membuat Anak Menjadi Depresi

Sabtu, 12 Juli 2025
Ilustrasi ngobrol bersama teman / Foto: freepik

Berikut Cerita yang Harus Dihindari Meski Kepada Teman Dekat

Selasa, 16 September 2025
Pengabaian terhadap perasaan bisa memicu stres/ Foto : Freepik

Perilaku yang Bisa Memicu Stres Seiring Bertambahnya Usia

Senin, 24 Maret 2025
Mental yang rapuh cenderung meninggalkan pasangan baiknya/ Foto : HackSpirit

Ciri Kepribadian Wanita Menyingkirkan Pria yang Baik, Menurut Psikologi

Sabtu, 26 April 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id