Aktual.co.id – Penilitian yang dipublikasiikan oleh International Journal of Psychophysiology melakukan tiga eksperimen bahwa individu yang memiliki sifat narsistik cenderung menunjukkan konduktansi yang meningkat saat berbicara tentang yang membanggakan dirinya.
Narsisme adalah sifat kepribadian yang ditandai rasa penting diri yang berlebihan dan kebutuhan yang kuat untuk dikagumi. Orang yang memiliki narsisme sering kali percaya bahwa mereka lebih unggul dari orang lain dan cenderung kurang berempati.
Ada dua jenis utama narsisme. Pertama narsisme muluk, ditandai dengan kesombongan dan dominasi. Kedua narsisme rentan, ditandai rasa tidak aman dan defensif.
Sifat narsistik dapat muncul pada individu yang sehat secara psikologis, tetapi dalam kasus yang ekstrem, bisa menjadi gangguan kepribadian narsistik.
Penulis studi Emmi Koskinen dan rekan-rekannya mencatat, bahwa individu yang memiliki tingkat narsisme tinggi sering menunjukkan ketergantungan yang kuat pada persetujuan sosial dan kebutuhan untuk dicintai dan dikagumi.
“Ketika mereka bertemu seseorang yang baru dan harus berbicara tentang diri mereka sendiri, sistem saraf otonom merespons dengan gairah fisiologis yang meningkat. Pertemuan pertama ini menawarkan kesempatan untuk mendapatkan validasi,” ungkap Emmi.
Untuk mengeksplorasi hal ini, para peneliti melakukan serangkaian tiga eksperimen yang melibatkan 44 mahasiswa universitas yang sehat, yang dipasangkan 22 pasangan sesama jenis. Peserta dipilih berdasarkan skor narsisme mereka untuk mewakili tingkat sifat narsistik yang tinggi atau rendah.
Setiap eksperimen melibatkan skenario percakapan yang berbeda: Percobaan pertama, peserta menghabiskan waktu lima menit untuk berkenalan dalam percakapan bebas.
Eksperiman kedua, meraka yang memiliki skor narsisme lebih tinggi menunjukkan konduktansi yang jauh lebih tinggi saat menceritakan kisah emosional.
Eksperimen ke tiga, peserta berbagi tempat cerita pribadi tanpa baras waktu. Topik meliputi pengalaman alam terbaik, film terburuk, saat merasa dikagumi, dan saat merasa malu.
Setelah eksperimen, peserta menilai keadaan emosional menggunakan skala Self-Assessment Manikin (SAM), yang mengukur valensi (emosi positif vs. negatif), gairah (tingkat kegembiraan), dan dominasi (rasa kendali).
Sementara itu, peneliti mengumpulkan data fisiologis menggunakan sensor konduktansi kulit dan perangkat elektrokardiogram (EKG).
Hasil dari Eksperimen 1 tidak mendukung hipotesis awal peneliti: individu yang memiliki tingkat narsisme tinggi tidak menunjukkan gairah yang jauh lebih tinggi saat berkenalan.
Eksperimen 2, mereka yang memiliki skor narsisme lebih tinggi menunjukkan konduktansi kulit yang jauh lebih tinggi saat menceritakan kisah emosional di mana menunjukkan gairah fisiologis yang lebih besar selama pengungkapan diri.
Eksperimen 3, efeknya menjadi lebih spesifik. Peserta dengan sifat narsistik tinggi menunjukkan peningkatan gairah fisiologis saat mengungkapkan informasi pribadi. Khususnya, konduktansi kulit meningkat saat menceritakan momen-momen dikagumi orang lain.
Efek ini paling terasa saat cerita dibagikan dengan peserta lain yang juga memiliki tingkat narsisme tinggi. “Kami menemukan pola peningkatan gairah fisiologis pada narsisis selama pengungkapan diri dalam percakapan naturalistic,” ungkap peneliti.
Tanpa diduga, hasil penelitian mengungkapkan bahwa di antara peserta yang narsis, terjadi peningkatan gairah fisiologis dikaitkan dengan narasi kekaguman daripada peristiwa yang memalukan. Ini menyiratkan reaksi terhadap kemungkinan mendapatkan validasi daripada terhadap potensi ancaman diri.
Studi ini memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang sifat narsistik membentuk respons emosional dan fisiologis selama interaksi interpersonal. (ndi/psypost)
