Aktual.co.id – Sebuah studi pencitraan otak baru menunjukkan bahwa orang yang melaporkan gejala kecanduan pada platform video pendek, seperti TikTok atau Instagram Reels, kurang sensitif terhadap kerugian finansial dan membuat keputusan yang lebih cepat dan impulsif.
Temuan yang dipublikasikan di NeuroImage ini menunjukkan sensitivitas yang lebih rendah terhadap kerugian ini berkaitan dengan pola aktivasi otak yang berbeda selama pengambilan keputusan. Terutama di area yang terlibat dalam mengevaluasi penghargaan dan memandu perilaku.
Individu dengan perilaku ini seringkali mengutamakan imbalan jangka pendek daripada konsekuensi jangka panjang.
Maraknya platform video berdurasi pendek telah memperkenalkan kategori baru kebiasaan digital yang berpotensi berbahaya.
Aplikasi-aplikasi ini menyediakan aliran konten yang spesifik dan berkelanjutan yang dapat memicu pelepasan dopamin dan mendorong penggunaan berulang.
Kecanduan video berdurasi pendek merupakan ancaman kesehatan masyarakat global—dengan pengguna di Tiongkok menghabiskan rata-rata 151 menit setiap hari, dan 95,5% pengguna internet terlibat.
“Konsumsi ‘hadiah instan’ berintensitas tinggi ini tidak hanya mengganggu perhatian, tidur, dan kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan risiko depresi,” ujar penulis studi Qiang Wang , seorang profesor psikologi di Universitas Normal Tianjin.
Studi sebelumnya telah menemukan bahwa orang dengan gangguan judi, ketergantungan alkohol, dan kecanduan narkoba menunjukkan penurunan keengganan terhadap kerugian.
Tetapi sedikit yang diketahui tentang bagaimana pola ini dapat muncul pada kecanduan perilaku non-zat, seperti penggunaan video pendek kompulsif.
Untuk mengeksplorasi pertanyaan ini, para peneliti merekrut 36 mahasiswa berusia 18 hingga 24 tahun, yang semuanya menyelesaikan pengukuran kecanduan video pendek yang umum digunakan.
Kuesioner ini menanyakan seberapa sering peserta mengalami keinginan, kesulitan mengendalikan penggunaan, atau konsekuensi negatif dari menonton video pendek secara berlebihan.
Semua peserta juga menjalani pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) saat melakukan tugas perjudian campuran, yang melibatkan penerimaan atau penolakan perjudian hipotetis yang menawarkan berbagai kombinasi potensi keuntungan dan kerugian moneter.
Para peneliti merancang tugas ini untuk mengukur seberapa sensitif peserta terhadap potensi kerugian dibandingkan dengan keuntungan.
Analisis tersebut mengungkapkan adanya hubungan gejala kecanduan video pendek dan tingkat keengganan terhadap kerugian yang lebih rendah.
Peserta dengan skor lebih tinggi pada skala kecanduan kurang terpengaruh oleh kemungkinan kerugian finansial dan cenderung mengambil risiko.
Individu-individu ini juga menunjukkan akumulasi bukti keputusan yang lebih cepat, menunjukkan kecenderungan membuat keputusan yang lebih cepat dan impulsif.
Hubungan gejala kecanduan dengan berkurangnya sensitivitas terhadap kerugian, dan percepatan pengambilan keputusan ini secara statistic terbukti kuat dan signifikan.
Meskipun penelitian ini memberikan wawasan baru tentang mekanisme otak yang mungkin mendasari penggunaan video berdurasi pendek secara kompulsif, ada beberapa keterbatasan.
Ukuran sampelnya relatif kecil dan hanya terdiri dari orang dewasa muda yang terdaftar di universitas, sehingga membatasi kemampuan untuk menggeneralisasikan temuan ke kelompok usia atau populasi lain.
Penelitian ini juga mengandalkan tugas perjudian hipotetis, yang mungkin tidak sepenuhnya menangkap dinamika emosional dan sosial yang terlibat dalam konsumsi video berdurasi pendek di dunia nyata.
Penelitian di masa mendatang dapat memperoleh manfaat dari penggabungan tugas yang lebih valid secara ekologis atau menggunakan desain longitudinal untuk melacak bagaimana otak dan perilaku berubah seiring waktu dengan peningkatan penggunaan platform. (ndi/psypost)
