Aktual.co.id – Awalnya saya bahkan tak tahu apa itu “Ghibli style.” Nama Hayao Miyazaki terdengar asing, apalagi Studio Ghibli. Tapi mendekati Idul Fitri, lini masa saya penuh dengan kartu ucapan bergaya animasi Jepang yang hangat, penuh nuansa nostalgia, dengan sentuhan magis yang khas. Ternyata itulah yang disebut gaya Ghibli.
Yang menarik gambar-gambar indah itu bukan buatan tangan animator Jepang, melainkan hasil olahan AI seperti ChatGPT atau Midjourney, hanya bermodal foto keluarga dan prompt “Ghibli style.” Indah, viral, dan mudah. Tapi di balik tren ini muncul pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan?
Studio Ghibli yang dibangun oleh Miyazaki dengan idealisme tinggi, dikenal sangat menjaga kualitas, orisinalitas, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam karyanya. Miyazaki sendiri adalah sosok yang terkenal anti-AI, pernah menyebut karya AI sebagai “sebuah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.” Tapi kini, tanpa izin, tanpa royalti, gaya visualnya dipanen dan dipoles menjadi konten massal. Di sinilah ironi muncul.
Untung dan Buntung
Bagi pengguna tentu ini keuntungan besar. Siapa sangka bisa punya kartu lebaran sekelas film My Neighbor Totoro? Bagi platform AI jelas ini ladang cuan—konten Ghibli-style menaikkan engagement, traffic, dan pengguna. Tapi bagi Miyazaki dan Studio Ghibli? Mereka tak mendapat apa-apa kecuali distorsi gaya dan potensi hilangnya kontrol atas estetika mereka.
Namun menariknya efek viral ini justru bisa membawa keuntungan tak langsung. Nama Ghibli semakin dikenal, film-film lawas dicari ulang, dan generasi baru mulai menelusuri jejak Miyazaki. Dengan kata lain AI mempopulerkan sesuatu yang sebelumnya mungkin hanya dikenal oleh kalangan tertentu.
Kapitalisme Digital dan Ironi Estetika
Gaya Ghibli yang lahir dari semangat anti-kapitalisme, kini jadi komoditas baru dalam ekosistem kapitalisme digital. Sebuah estetika yang dibuat dengan penuh cinta dan ketekunan, kini diduplikasi dalam hitungan detik demi konten viral. Apakah ini bentuk penghargaan atau justru eksploitasi?
Mungkin di sinilah letak paradoks zaman kita: kita mengagumi sesuatu justru saat ia kehilangan konteks aslinya.
Dr. Irwan Dwi Arianto, M.I.Kom.
Pengasuh Rubrik Big Data di Aktual.co.id
Kepala Laboratorium Integrated Digital – FISIBPOL – UPN “Veteran” Jatim
Founder ASIGTA Group
