Aktual.co.id – Boomerasking, mengajukan pertanyaan hanya untuk berbicara tentang diri sendiri, dinilai orang kurang disenangi. Akun studyfinds menyuguhgan hasil penelitian yang diterbitkan oleg beberapa jurnal.
Contoh boomerasking misalnya rekan kerja bertanya, “Apa yang dilakukan akhir pekan ini?,” kemudian dijawab sendiri “ Baru saja mendapat pekerjaan dari pimpinan untuk mengawal proyek penting.” .
Penelitian internasional yang dipublikasikan Journal of Experimental Psychology: General telah melakukan penelitian terhadap perubahan percakapan basa basi seperti ini.
Seperti bumerang, pertanyaan disampaikan cepat kemudian kembali ke orang yang menanyakannya. Studi ini membahas orang melakukan boomerask, bagaimana bisa memengaruhi orang lain, dan mengapa merusak interaksi sosial.
Boomerasking adalah orang mengajukan pertanyaan kemudian menunggu jawaban. Namun menjawab pertanyaan yang diajukan sendiri, mengalihkan pembicaraan kepada diri sendiri.
Para peneliti menguraikan tiga versi umum:
“Bagaimana liburanmu?” Kemudian dijawab sendiri “Liburanku menyenangkan. Aku pergi ke Italia selama dua minggu!”
Mengeluh bertanya: “Bagaimana pekerjaanmu?” yang diikuti jawaban, “Ugh, minggu ini aku mengalami minggu terburuk.”
Mengapa orang melakukan ini? Studi menemukan bahwa para pelaku boomerasker percaya cara ini adalah kesopanan. Dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu dianggap peduli untuk membuka pembicaraan.
Dalam serangkaian eksperimen yang melibatkan ribuan peserta, para peneliti menemukan boomerasking meninggalkan kesan yang buruk, terutama pada orang-orang yang menjadi penerima.
Dalam studi pertama, para peserta diminta mengingat percakapan di mana pernah melakukan boomerasking atau menerima boomeraking.
Kebanyakan orang pernah melakukan keduanya di suatu waktu. Sementara para boomerasking menganggap interaksi itu menyenangkan, sementara para penerima melaporkan sebaliknya.
Percakapan ini kurang menyenangkan dan menjengkelkan, meskipun para boomerasking menganggap hal yang wajar.
Ketidakcocokan bisa merusak manfaat sosial bagi yang mengajukan pertanyaan. Penelitian sebelumnya menunjukkan mengajukan pertanyaan tindak lanjut membuat orang tampak lebih tertarik, bijaksana, dan menyenangkan.
Temuan lain pengungkapan jika publik lebih menerima jika seseorang langsung menceritakan diri sendiri tanpa boomerasking.
Peserta diperlihatkan percakapan yang sudah ditulis. Dalam satu versi dilontarkan kalimat, “Saya baru mendapat pekerjaan di Google.” Versi lain dilontarkan pertanyaan, “Bagaimana pekerjaanmu?” dan kemudian berkata, “Keren, saya baru mendapat pekerjaan di Google.”
Meskipun informasinya sama, versi kedua, dinilai kurang tulus dan kurang disukai. Hal ini terjadi di berbagai topik dan skenario. Bahkan dalam konteks romantis, seperti kencan pertama dianggap kurang tulus.
Singkatnya, orang-orang tampaknya lebih menyukai sikap langsung, meski terkesan sombong namun memiliki keterusterangan daripada sikap sopan terasa tidak tulus.
Para peneliti menyebutkan, jika publik lebih nyaman mendapat cerita langsung daripada diserang dengan boomerasking. (ndi)
